Alam bawah sadar Bayu, Perpustakaan Kehidupan.
Bayu membuka matanya dengan berat, ia baru saja terbangun dari tidurnya.
"Huaaaahh~"
Bayu menguap begitu lebar, mengucek mata, lalu menarik kembali selimutnya sehingga menutupi dada, lalu berbaring menyamping mencoba tidur kembali.
"Selamat pagi, Tuan."
"Hm."
Ayu yang telah berdiri di samping tempat tidur, terus melihati Bayu, tepat di depan arah wajah Bayu berada. Lelaki itu merasakan tatapan yang membuatnya kurang enak, lalu membalikkan badannya memberikan punggungnya kepada Ayu.
"Selamat pagi, Tuan."
" … "
Bayu membuka matanya setengah, melihat Ayu telah kembali berada di depannya dan mengulang ucapan selamat paginya.
"Apa ini memang pagi? Di tempat ini, pagi atau malam tidak ada bedanya."
Bayu membalikkan lagi badannya, kini melihat ke langit-langit ruangan. Bayu kembali menguap lebar, tubuhnya merasa lelah walau telah tidur sangat lama. Bayu beranjak duduk, merenggangkan badannya yang kaku, dan agak sakit, kembali menguap lebar sebelum akhirnya turun dari tempat tidur.
Bayu berdiri melihat sekeliling ruangan pribadinya di perpustakaan. Hanya ada furnitur; sofa, meja, tempat tidur, rak dan buku. Tidak ada lainnya.
"Tempat ini benar-benar membosankan."
Bayu berjalan ke sofa, duduk lalu melihat tumpukan buku yang sudah ia rencakan untuk dibaca. pada masa terjebak di perpustakaan. Bayu mengambil satu buku, yang merupakan buku dari salah satu petinggi negara Tara. Aira sudah lama ia cari namun belum juga ditemukan, Bayu mulai berpikir kalau adik perempuan Anggi itu mungkin tidak berada di Nusa.
"Aku hanya berharap dia tidak ada di Borneo."
Bayu membuka buku, melanjutkan baca dari halaman yang ia baca kemarin. Selagi membaca, Bayu semakin menyesali tidak adanya segelas kopi dingin di perpustakaan. Bayu kadang berpikir, kalau sebuah artifak bisa disimpan ke alam bawah sadar, kenapa segelas kopi tidak bisa?
Namun bila dipikir-pikir lagi, hanya artifak pusaka ke atas yang bisa disimpan ke alam bawah sadar. Pasti ada alasan sendiri mengapa hal ini terjadi, dan jujur, Bayu ingin tahu hal itu demi dapat membawa makanan dan minuman ke perpustakaannya.
"Ayu, apa ada sesuatu yang penting terjadi selama aku tidur?" Tanya Bayu, tanpa memalingkan muka dari halaman buku di tangannya.
Alih-alih menjawab pertanyaan Bayu, Ayu malah menyodorkan sebuah buku kepada Bayu.
Bayu melihat buku yang ada di depan mukanya, membaca judul buku tersebut adalah buku tentang Vanessa Blumunt.
"Vanessa?"
"Ada sesuatu yang cukup penting di dalamnya, saya rasa lebih baik Tuan baca sendiri."
"Cukup penting? Vanessa kalau gak salah aku kirim ke situs megalitik kuno di reruntuhan Kota Anjuran … apa mereka menemukan Pilar Dunia?"
Ayu tersenyum manis, "Mereka menemukannya, Pilar dan berbagai hal lainnya."
Bayu sedikit mengernyit, "Hal lainnya… perasaanku kurang enak mendengar hal itu."
Bayu menutup buku yang sedang ia baca, lalu mulai membaca buku Vanessa. Ayu telah menandai halaman yang harus ia baca. Melihat Tuannya telah serius membaca, Ayu menjauhkan diri lalu berdiri di samping pintu sembari mulai melayangkan belasan buku yang sedang ia awasi.
KAMU SEDANG MEMBACA
master buku mengantuk
AçãoKetika umurnya beranjak sepuluh tahun, Bayu tiba-tiba mendapati dirinya mengidap narkolepsi. Hidupnya yang dipenuhi tawa pun berubah menjadi kelam. Rasa kantuk selalu manghantui dirinya, membuat masa kecilnya lebih sering ia habiskan di kamar untuk...
