87

88 14 0
                                        

Di atas atap gedung, sebuah mayat tanpa kepala tergeletak begitu saja, dengan darah yang masih deras keluar dari leher terpotong. Di sampingnya, seorang lelaki bertopeng panji, dengan tenang memebersihkan noda darah dari pisau daging yang biasa ditemui di dapur-dapur setiap rumah.    

Selina melihat proses Bayu membunuh musuhnya dengan seksama, hasilnya, ia tetap tertegun dengan kemampuan guildmaster muda tersebut. Membunuh seseorang yang berkelas emas bahkan bisa saja kelas platinum dengan begitu mudahnya. The Killer, orang ini memang pantas dijuluki demikian.    

'Sekarang saya benar-benar mengerti mengapa Arvi bilang kalau orang ini adalah orang yang paling berbahaya yang pernah ia temui. Tidak mungkin tidak berpikir seperti itu setelah melihat aksinya hingga saat ini.'    

Setelah meneliti kemampuan Bayu ketika bertarung, Selina kembali mengalihkan perhatiannya ke Haswin yang berada di depannya, masih mengerang geram.    

"Haswin! Apa kamu belum sadar siapa orang yang ada di depanmu ini?"    

"Grrrrr!"    

"Hmph! Bagus, bagus, kalau begitu saya tidak akan menahan diri," Selina langsung saja, menyemburkan api dari tangannya ke arah Haswin.    

Di sisi lain, Zetta yang melihat kreasinya kembali terbunuh oleh Panji, mulai mengerti kalau ia harus bertarung serius saat ini. Apalagi, satu mutannya yang lain sedang sibuk berhadapan dengan Guildmaster Selina.    

Zetta menyeringai kepada Panji, melihat lelaki bertopeng itu mulai berjalan mendekatinya. Zetta masih belum mengerti kekuatan yang sebenarnya dimiliki oleh Panji. Ia hanya mendengarkan lelaki bertopeng itu tampak memberi perintah, namun karena angin yang kencang dan suara Panji yang tidak terlalu besar, ia tidak bisa mendengar pasti apa perintah yang dia katakan.    

Setelah Panji hanya berjarak sekitar tiga meter dari Zetta, lelaki bertopeng itu memiringkan kepalanya.    

"Kau tahu, ada hal yang sebenarnya ingin kutanyakan padamu. Tapi melihat kondisi Puteri Bulan saat ini. Mungkin akan kutanyakan itu nanti."    

"… hihihi, kalian sepertinya tahu banyak tentangku. Ayo, tanyakan saja, mau kau membantu Arvi pun menurutku sudah terlambat," ujar Zetta semerta menyerang Panji dengan tangan yang seketika berubah menjadi kristal, memanjang menyerang Panji.    

"[Yazmak] miss."    

Whoosh!    

Serangan Zetta berlalu menghindari wajah Panji sekitar lima senti. Panji sendiri setelah serangan itu gagal mengenainya, ia langsung melangkah ke samping menjauhi tangan atau tombak kristal dari Zetta.    

"!" Zetta tidak mengerti bagaimana serangannya bisa melenceng.    

"Hmm… tidak, akan kutanyakan nanti," jawab Panji atas perkataan Zetta sebelumnya. Ia lalu berjalan mendekat. Zetta sedikit panik, ia melangkah mundur seraya mengeluarkan puluhan batuan kristal tajam sebesar botol minum dari kulit ke dua tangan.    

Shot shot shot shot shot    

"Haa~ [Yazmak] semua miss."    

Whoosh!    

Puluhan bongkahan tajam itu pun melewati tubuh Panji, tidak ada satu pun yang menggores badan dan bajunya yang masih terlihat bersih, walau terdapat sedikit noda darah dari cipratan mayat Jimmy.    

"Ba-bagaimana kau melakukan itu?!"    

"Well~ sama seperti aku melakukan ini padamu, [Yazmak] stun."    

Bzzzt!    

"!!!"    

Seketika tubuh Zetta sama sekali tidak bisa digerakkan, ia ingin mundur, mengangkat tangan, menyerang Panji, semua itu tidak bisa ia lakukan. Matanya terbuka lebar melihat Panji, setelah merasakan situasi yang kini ia hadapi. Jantungnya terasa berdegup kencang, dengan keringat yang mulai turun dari tengkuk.    

master buku mengantukTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang