Menjelang sore hari, markas Mata Libra, Kembang.
Setelah selesai mengisi perutnya, Bayu tahu bahwa akan ada tamu datang. Seorang teman yang selalu bekerja secara impulsif. Jurnalis merepotkan yang membuat Bayu agak pusing kepala.
"Jadi, mau apa?" Tanya Bayu pada perempuan dengan senyum tersungging yang duduk di depan meja pada ruangan kantornya.
"He-Ya, Bayu, jangan gitu dong~"
"Jangan gitu gimana? Kalau kau bertanya soal Panji, jawabanku iya, silahkan saja. Sebarkan saja kalau orang bertopeng itu adalah avonturir dari guildku."
Fara membuka ke dua matanya lebar, "Sungguh? Kau tahu, kalau ini bakal membuat banyak musuh mendatangimu? Tapi—kemampuanmu mengetahui hal sebelum kukatakan tetaplah creepy."
"Cepat atau lambat mereka akan tahu," Bayu menyentil anting libra di telinga kirinya, "Lebih baik merencakan dari awal atas tanggapan yang akan dilakukan oleh pihak-pihak lain, setelah mereka tahu tentang kami."
"Ah! Anting kalian! Sudah banyak beredar spekulasi tentang anting itu, yang katanya sama dengan yang dipakai oleh Vanessa Blumunt. Tapi itu bohong, kan?"
Bayu memiringkan kepalanya, "Kenapa bohong? Anting ini adalah tanda avonturir Mata Libra."
"Eh?" Fara tertegun, "Jadi Vanessa memang benar bergabung denganmu? Woa~ saya merasa tidak pergi begitu lama, tapi perkembangan guildmu cukup pesat."
"Pesat apanya? Kita masih kekurangan tangan, menyebarkan lowongan pekerjaan tidak ada yang mau. Oh! Kenapa kau tidak bergabung saja? Banyak bagian yang bisa kau masuki."
"Tidak, saya mencintai dunia kejurnalisan."
Bayu mengangkat bahunya, menyandarkan diri di kursi terbangnya. Fara sewaktu awal melihat Bayu yang duduk di kursi terbang agak tertegun, namun ketika diberitahu oleh Bayu kalau itu hanyalah sandiwara, Fara malah semakin tidak mengerti apa yang ada di otak adik sahabatnya ini.
Fara pun akhirnya mengobrol dulu tentang pengalamannya di Kota Akademi dan mungkin berencana kembali ke sana, karena konflik dengan Laut Selatan masih belum reda. Walau tidak seburuk perang sebelumnya, tapi masih ada serangan-serangan kecil dari ke dua pihak. Untuk Fara sendiri, ia merasa kalau Laut Selatan pun tidak akan mundur begitu saja, cepat atau lambat mereka pasti akan menyerang lagi dengan kekuatan penuh.
Bayu hanya mendengarkan sembari menambahi beberapa hal kecil yang tidak diketahui Fara dalam perang tersebut. Fara tentu menuliskan setiap detail yang Bayu berikan di buku kecilnya. Setelah beberapa jam, dan matahari akan tertidur, barulah Fara beranjak.
"Ya sudah kalau begitu, karena sudah dapat izin, boleh saya wawancara anggota guildmu yang lain?"
"Silahkan saja, tapi jangan memaksa kalau mereka tidak mau. Dan, aku lupa memberitahumu, tapi apa kau mengenal Lamria Greymount?"
"Lamria? Maksudmu istri Wakil Presiden yang kini menghilang?"
"Um, ya—Lamria tidak menghilang, ia ada di sini bersama Irina dan putrinya. Aku ingin kau merahasiakan keberadaan mereka untuk sementara."
Awalnya Fara terkejut mendengar itu, ia lalu mengerut, sebelum akhirnya menyanggupi. Entah bagaimana, tapi insting Fara tahu kalau Bayu sedang merencakan sesuatu. Fara pamit keluar. Tidak lama ia keluar pintu, ia mendengar suara langkah kaki cepat seperti seseorang berlari menaiki tangga.
Menyembul dari tangga, adalah sebuah kepala mungil milik seorang gadis kecil lucu dengan rambut hitam dan mata biru tua. Hidungnya mungil disertai bibir merah muda yang imut. Gadis kecil itu mengenakan rok terusan berwarna merah muda dengan celana panjang putih.
KAMU SEDANG MEMBACA
master buku mengantuk
ActionKetika umurnya beranjak sepuluh tahun, Bayu tiba-tiba mendapati dirinya mengidap narkolepsi. Hidupnya yang dipenuhi tawa pun berubah menjadi kelam. Rasa kantuk selalu manghantui dirinya, membuat masa kecilnya lebih sering ia habiskan di kamar untuk...
