Swing!
Tebasan Daiva tepat mengenai leher ogre namun tidak berhasil memotongnya. Serangan Daiva ternyata hanya menimbulkan luka sayatan yang cukup dalam, tapi belum dapat membunuh.
'Keras sekali!'
Ogre itu marah karena Daiva tiba-tiba saja menyerangnya, ia lalu dengan bongkahan kayu di tangannya menyerang manusia lelaki itu. Daiva langsung berlindung di balik kaktus sebelum merasakan benturan yang cukup keras sehingga mampu mendorongnya ke belakang.
Daiva kini tidak memiliki pijakan, ia melayang, melihat para monster di bawah. Daiva lalu melesatkan kembali kekuatan [Stone Greatsword] sambil memurtarkan badannya. Membuat pijakan baru, sebelum akhirnya mendarat dan membuat pijakan lain, mendekati kembali ogre yang belum mati itu.
Daiva kebali dikurungkan pedangnya, yang dengan sigap ditangkis oleh ogre, lalu oleh monster itu didorongnya Daiva ke langit sehingga dia melayang terjatuh.
Daiva merasakan tubuhnya agak mati rasa setelah menahan dorongan tadi, namun ia tidak bisa membuang banyak waktu. Daiva melihat ogre yang bersiap menyerang di bawah. Ogre itu mengayunkan tongkat pemukulnya dengan cepat. Daiva mencoba menghindar, namun tidak bisa, ia memutar tubuhnya tapi tongkat itu tetap mengenai badan bagian kirinya.
Daiva merasakan dirinya akan terpental sebelum akhirnya mengalirkan aura ke tempat ia dipukul, menahan pukulan yang menusuk dadanya. Daiva juga tidak mengambil diam, selagi dia menerima pukulan itu, ia juga menusukkan pedang ke pundak si ogre.
Ogre yang sudah tidak lagi merasakan sakit, tidak mempedulikan tusukan Daiva. Namun sayangnya Daiva sudah terlebih dahulu mengimbuhi serangannya dengan aura, yang kemudian membuat pedangnya semakin tajam. Daiva dorong terus pedangnya hingga paru-paru si ogre terluka.
Monster itu, walaupun tidak merasakan sakit tidak berarti ia tidak akan mati jika terluka. Ogre pun terjatuh setelah napasnya berhenti karena luka di leher dan pundak yang diberkan Daiva.
Daiva terengah-engah, dia tidak mengira melawan satu ogre akan membuatnya agak kesulitan. Ia merasakan ngilu di dada, tapi waktu tidak berteman dengannya. Hanya dalam flash ogre itu tumbang, monster di belakangnya mulai bermunculan mengarah ke Daiva.
'Cih!'
Daiva lalu membuat pijakan baru, terus melompati pijakan-pijakan yang ia buat menuju ke tempat ogre lainnya.
Satu orang raksasa ia bunuh diri dengan susah payah. Daiva merasa waktu berjalan lama ketika dia berada di area monster ini sendirian melawan mahluk yang hampir sekelas dengannya. Hingga ketika Daiva berhasil menumbangkan ogre yang ketujuh. Ia menunduk sambil menopang tubuhnya dengan pedang.
Napasnya berat, dengan luka yang terpampang di sekujur tubuhnya. Daiva coba rasakan sisa aura yang ia mliki. Rautnya berubah suram ketika ia mendapati sisa auranya tinggal separuh. Dia tidak menyangka akan menghabiskan banyak kekuatan hanya untuk membunuh tujuh ogre.
Ogre-ogre yang kini tidak merasakan sakit ini sungguh menyulitkan untuk dibunuh. Kalau ia tidak benar-benar memenggal kepala atau menusuk jantungnya, ogre ini akan terus menyerangnya walau kaki dan tangan telah putus.
'Ini benar-benar sudah kayak zombie!'
Daiva lemas, namun ia harus terus bergerak sebelum pijakan tanah yang ia buat hancur oleh monster lain. Daiva bersiap menghunuskan pedangnya sebelum tiba-tiba dari bawah pijakan yang ia buat, seekor monster seperti cacing menghancurkan pijakannya.
Daiva yang kini kehilangan pijakan di kakinya, seketika terjatuh sebelum bisa membuat dinding tanah baru. Daiva berbalik ketika terjatuh, melihat cacing itu kini membuka mulutnya yang penuh taring bersiap melahap dirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
master buku mengantuk
AçãoKetika umurnya beranjak sepuluh tahun, Bayu tiba-tiba mendapati dirinya mengidap narkolepsi. Hidupnya yang dipenuhi tawa pun berubah menjadi kelam. Rasa kantuk selalu manghantui dirinya, membuat masa kecilnya lebih sering ia habiskan di kamar untuk...
