Kota Sentral, di atas sebuah gedung pencakar langit yang merupakan bangunan tertinggi di Sentral. Berdiri dua orang yang sedang menikmati terangnya langit tembok timur yang berubah jingga oleh ledakan dan api. Dari balik langit itu, mulai mengintip kepala matahari pagi yang siap menerangi hari.
Dua orang itu merupakan seorang lelaki bertopeng panji memakai topi bowler dengan anting perak libra di telinga kirinya, dan seorang wanita tua bertubuh kecil pendek yang melayang di samping lelaki bertopeng.
Mereka berdua adalah Bayu yang memakai identitas Panji the Killer dan Selina, Guildmaster Ishvara. Ke duanya kini mengalihkan pandangan ke suatu pertarungan besar di langit tembok timur sana, di mana terdapat sosok mahluk fantasi raksasa Lembuswana, dan seorang perempuan anggun yang kini sedang menahan tubuh raksasa itu dengan ratusan selendang yang tumbuh dari kulitnya.
Selina tampak cemas, melihat Arvi yang semakin kesulitan membendung kekuatan Lembuswana. Bisa menahan mahluk legendaris itu sampai saat ini saja sudah sangat menakjubkan. Setidaknya, Arvi sudah mengunci pergerakan Lembuswana selama lima belas menit.
"Apa benar kalau Gerald akan kemari? Kalau kita tidak segera mengalahkannya, saya tidak yakin Arvi bisa bertahan lima belas menit lagi."
"Tenang saja, dia akan segera datang sebentar lagi. Master Selina, sebaiknya kita menghilang sekarang juga."
Selina mengangguk ia lalu mengalirkan aura ke kalung kecil yang dihiasi oleh batu [Merah Delima]. Dalam sekejap ke dua orang di atas gedung itu pun menghilang tanpa jejak. Menunggu mangsa mereka datang dari sudut atap gedung.
***
Di atas tembok timur Kota Sentral.
Pertarungan sengit antara seorang manusia dan seekor mahluk mistikal sedang berlangsung sengit. Arvi sedari tadi megirimkan selendang dari tubuhnya untuk membalut tubuh raksasa itu, yang membuat pergerakan mahluk itu terkunci, kini dengan sisa auranya yang terus terkuras, kekuatan selendangnya pun melemah.
Lembuswana terus mengamuk, menggeliatkan tubuhnya, melonggarkan ikatan selendang. Mahluk itu lalu melibaskan belalainya mengarah ke Arvi yang langsung dihindari. Arvi seketika seketika mengeluarkan pedang rapier dan menusukkannya ke belalai tersebut. Sayangnya, artifak pedang langka itu ternyata tidak bisa menembus kulit dari sang mahluk mistikal.
Lembuswana semakin murka, berusaha mengibaskan sayapnya, tapi terus ditahan oleh Arvi melalui selendangnya.
"Aaarrrgh!"
Arvi mengerang kesakitan karena harus menahan kekuatan Lembuswana. Otot-otot di ke dua tangannya tampak timbul. Arvi menggertakan giginya, menarik sepasang sayap itu kembali menutup.
Arvi terus mengerahkan kekuatannya dengan aura yang terus ia alirkan ke seluruh tubuh. Ia sudah merasakan kalau auranya tidak akan cukup untuk menahan moster di depan matanya lebih dari sepuluh menit lagi. Dalam hatinya ia berharap Guilmaster Bayu segera menyelasaikan perannya. Kalau tidak, tembok Sentral akan menjadi korban amuk Lembuswana.
Di atas permukaan tembok timur, para avonturir masih bersikeras menghadang laju serangan monster festival, sudah lebih dari dua jam mereka terus bertarung. Sudah banyak korban pula berjatuhan pada sisi mereka. Semuanya menggertakan gigi, berjuang hingga titik darah penghabisan.
Mayat monster di bawah sana sudah mencapai satu juta, perjuangan para avonturir setidaknya telah menghilangkan seperempat jumlah musuh. Tapi, apa mau dikata, masih ada sepertiga yang tidak mungkin mereka lawan kalau situasi tidak berubah.
Belum lagi, mahluk raksasa yang melayang di atas kepala mereka seperti maut yang siap-siap menikam mereka mengambil nyawa. Dalam benak mereka, semuanya berdoa dan berharap kalau Arvi bisa menahan monster itu selamanya, walau mereka tahu kalau itu adalah hal mustahil.
KAMU SEDANG MEMBACA
master buku mengantuk
ActionKetika umurnya beranjak sepuluh tahun, Bayu tiba-tiba mendapati dirinya mengidap narkolepsi. Hidupnya yang dipenuhi tawa pun berubah menjadi kelam. Rasa kantuk selalu manghantui dirinya, membuat masa kecilnya lebih sering ia habiskan di kamar untuk...
