Kota Sentral.
Hampir empat jam berlalu sejak kudeta dimulai. Korban terus berjatuhan dari dua pihak. Bukan saja militer dan polisi, bahkan korban dari rakyat biasa di Sentral pun mulai terlihat terbaring di tengah jalan dengan nyawa yang telah tiada.
Di salah satu kediaman mewah di Sentral pusat, yang merupakan kediaman dari Presiden Nusa, Jihan Wiyata. Di sekitaran rumah sana, sudah terjadi perang yang sangat sengit. Ledakan dan suara tembakan terus terdengar hingga ke dalam rumah.
Pasukan Divisi Kedua ASAD terus menggempur pasukan pribadi Jihan yang bergabung dengan kepolisian dan tentara setempat untuk menghalau setiap serangan musuh. Sudah hampir empat jam mereka berperang tiada henti. Korban yang tergeletak di medan perang sudah tidak terhitung jumlahnya, pasukan Jihan terus ditekan mundur.
Jihan melihati situasi di luar rumahnya dengan cemas. Dalam benaknya, ia sudah dapat memperhitungkan kalau pasukan yang melindungi rumahnya tidak mungkin bertahan lebih dari dua jam lagi, sebelum akhirnya mereka akan habis total.
Jihan memutar otaknya, telinganya selain mendengar suara pertarungan di luar rumah, ia juga mendengarkan setiap laporan berita yang ada di setiap layar ruangannya. Berita dari setiap media, dan kerabatnya yang tersebar di seluruh Sentral. Berita tentang perkembangan kudeta saat ini.
Mendengar sekian banyaknya nyawa telah hilang, Jihan mulai berpikir untuk menyerahkan dirinya. Apalagi kalau mengingat pertarungan yang sedang berlangsung di luar rumahnya, lambat laun akan semakin mendekat dan mulai memengaruhi keluarganya.
Istri, anak dan para pegawai Jihan sudah ia suruh untuk berlindung di bunker yang berada di bawah rumahnya. Walau mereka sudah berlindung, Jihan belum dapat menjamin keselamatan mereka bila musuh terus menekan.
Namun, sebelum ia sempat untuk mencoba mengundurkan diri. Sita, sekretarisnya langsung menghentikan pikiran Jihan.
"Kenapa?! Banyak nyawa akan hilang kalau saya tidak mengundurkan diri?"
"Terus, apa Pak Presiden yakin kalau Endra akan menghentikan serangannya setelah anda menyerahkan diri? Apa Pak Presiden yakin kalau Nusa tidak akan lebh buruk dari saat ini, di tangan Endra nanti? Pak Jihan! Endra bahkan membunuh rekannya sendiri bila mereka tidak menurutinya! Apa jadinya warga Nusa nanti kalau dipimpin oleh orang seperti itu?!"
Jihan menggertakkan giginya, kesal dengan situasi yang ia terima kini. Dalam beberapa hari sebelumnya, ia sudah membuat Sentral sebagai pusat militer agar dapat menggertak serta menjamin pihaknya lebih diuntungkan.
Namun, tidak Jihan sangka, Endra menjalankan rencananya lebih cepat. Pasukan militer yang sudah dipersiapkan tidak sempat mencapai posisi masing-masing yang sudah direncanakan oleh Gahar, demi melindungi Sentral dan Jihan. Sehingga membuat pasukan Sentral malah bernar-benar bertarung dalam posisi bertahan.
Sudah beberapa jam berlalu, tentara dari Markas Besar Militer hingga saat ini masih belum bisa keluar dari kepungan musuh. Jendral Gahar yang seharusnya menjadi salah satu ujung tombak pasukan Nusa kini tertahan dalam pertarungannya dengan Lukman.
Situasi semakin memprihatinkan, namun setelah Jihan melihat ekpresi Sita. Ia menenangkan dirinya. Pembawaannya yang tenang telah kembali. Jihan memang kesal, tapi ia tidak bisa terbawa emosi pada situasi seperti sekarang.
Banyaknya korban sudah tidak bisa lagi dipungkiri. Saat ini ia hanya harus fokus mempertahankan Nusa dari serangan musuh. Karena kalau ia jatuh, bukan saja Endra yang bakal menjadi mimpi buruk para warga Nusa, tetapi ada juga Kaisar Suanggi yang membantu Endra.
KAMU SEDANG MEMBACA
master buku mengantuk
БоевикKetika umurnya beranjak sepuluh tahun, Bayu tiba-tiba mendapati dirinya mengidap narkolepsi. Hidupnya yang dipenuhi tawa pun berubah menjadi kelam. Rasa kantuk selalu manghantui dirinya, membuat masa kecilnya lebih sering ia habiskan di kamar untuk...
