95

78 11 0
                                        

Waktu sekitar pukul empat dini hari, bertempat di Kota Kembang, tepatnya di depan markas Mata Libra.    

Bayu dan Anggi akhirnya telah tiba di markas guild mereka. Mereka berdua keluar, Bayu berjalan ke pintu depan, sedangkan Anggi ke bagasi belakang mobil mengeluarkan barang-barang mereka. Bayu yang tiba di pintu mencoba membuka pintu namun tidak bisa karena terkunci. Dahinya sedikit mengerut, sebelum akhirnya ia memencet bel di samping pintu. Anggi kemudian tiba di sampingnya.    

"Kenapa pintunya dikunci, bukannya guild itu bekerja selama 24 jam?"    

"Bos, apa kau pikir guild kita memiliki staf untuk itu."    

"Ah… haa… mari kita cari dekat-dekat ini."    

Anggi hanya menyeringai, lalu terdengar suara dari balik pintu yang membukakan kunci. Pintu pun terbuka, dan terlihat di sana seorang remaja lelaki dengan kaos oblong abu-abu dan celana training menyambut mereka dengan mata setengah terbuka.    

"Tidur nyenyak, Yudha?"    

"Hmmm? AH! Guildmaster, Mbak Anggi, kalian telah pulang."    

Yudha seketika sadar terbangun, ia agak membungkukan badannya lalu melihat barang-barang yang di bawa Anggi. Dengan sigap ia menawarkan diri untuk membawa barang-barang itu. Anggi juga mengatakan kalau masih ada barang lainnya di bagasi, hanya jangan sentuh sesuatu yang dibalut oleh kain yang berada di bagian penumpang. Yudha mengangguk mengerti sebelum mengerjakannya.    

Bayu dan Anggi pun masuk ke dalam markas. Ini pertama kalinya Bayu berada di markas barunya yang telah direnovasi. Ia melihat ruang aula lantai pertama yang tampak nyaman bagai kafe. Tapi, pemandangan di depan sana, tepatnya di sofa depan televisi agak mengganggunya.    

"Apa itu Aarifa?"    

"Ya, kau akan melihat itu setiap hari, bos."    

Bayu kembali sedikit mengerutkan dahinya setelah melihat lagi sosok Aarifa yang tidur di sofa dengan pakaian piyama tipis yang memperlihatkan lekukan seksi tubuhnya, dengan botol bir di tangan dan wajah yang senyum terbuka dengan air liur mengalir ke pipi. Suara dengkurannya terdengar menggema ke seluruh ruangan yang sepi.    

'Sungguh, apa dia benar-benar seorang dokter?'    

< … >    

Bayu berjalan mendekati Aarifa, melihat perempuan itu tidur dengan tanpa mempedulikan orang yang akan melihat tubuhnya. Bayu lalu melihat sebuah selimut yang terjatuh di bawah sofa, ia ambil selimut itu, lalu menyelimuti Aarifa dengannya, sembari mengambil botol bir yang dipeluk oleh Aarifa.    

"Gehehe~ Alejandro, jangan pergi~ Alejandro hehehe…" gumam Aarifa sebelum berbalik ke samping mengambil bantal sofa untuk dijadikan guling.    

"Siapa Alejandro?"    

"Salah satu tokoh di telenovela yang biasa dokter Aarifa tonton, Guildmaster," Yudha menjawab dari samping tidak jauh dari Bayu berada. Remaja lelaki itu sedang sibuk menyimpan tas-tas yang Bayu dan Anggi bawa dan juga kardus yang berisi anting libra.    

"Oooh, apa kau menontonnya juga?"    

"Hahaha, tidak Guildmaster, saya tidak sengaja menonton karena selalu melihatnya dari konter bar ketika dokter Aarifa nonton. Jadi saya tahu sedikit tentang program itu."    

"Apa menarik?"    

"… eeee… mmm… yah, lumayan," jawab Yudha agak malu sambil menundukan kepalanya. Bayu tersenyum tipis, mengambil tas miliknya yang dibawa Yudha sebelum bertanya tentang kamar yang bisa ia tempati.    

master buku mengantukTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang