173

81 13 0
                                        

Vanessa, Rakha, Roxanne dan Rika, naik menanjak jalan yang cukup terjal untuk sampai ke batu berikutnya. Mengapa mereka tidak memakai kemampuan [Shadow Dive] Rika? Karena untuk menghemat aura Rika, takutnya terjadi sesuatu yang tidak diduga nanti.    

Sesampainya mereka di depan batu, sama seperti sebelumnya, Vanessa menyentuh, meraba-raba permukaan batu untuk mendapati sebuah lubang kembali. Dan tentu saja, apa yang dia kira ternyata memang benar.    

Vanessa memasukkan kembali tangannya, menyentuh dasar, dan berikutnya sebuah batu lainnya di atas sana menyala layaknya lampu yang bersinar terang.    

"Sepertinya batu-batu ini akan menuntun kita ke suatu tempat," ujar Rakha yang meluaskan deteksinya ke tempat batu, mengantisipasi bila adanya bahaya di atas sana.    

"Tapi kenapa kita tidak pernah melihat batu-batu ini kemarin?" Tanya Roxanne, yang mulai berjalan kembali menuju batu berikutnya.    

Rakha dan Vanessa tidak dapat menjawab, sedangkan Rika tampak berpikir sebelum ia melihat sekilas gerhana bulan dari sela-sela dedaunan.    

"Mungkin karena hari ini adalah gerhana bulan total."    

Semuanya berhenti melangkah setelah mendengar ucapan itu, Roxanne lalu menengadah ke langit.    

"Aku tidak melihatnya," ucap Roxanne yang sudah berusaha hingga memicingkan mata.    

"Bagaimana kau bisa melihatnya? Bulan itu terhalangi oleh daun," balas Rakha sembari menutup ke dua mata Roxanne dengan tangannya, lalu menarik perempuan itu untuk terus berjalan. Roxanne mengomel terus menerus ke Rakha sembari mencubit sekali-kali lengan Rakha. Vanessa dan Rika selalu terkekeh melihat aksi ke duanya.    

Hingga mereka sampai di batu berikutnya, Vanessa melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. Dan batu berikutnya kembali menyala. Kejadian ini terus terjadi berulang, hingga pada akhirnya di mana mereka telah berada di sepertiga gunung sebelum puncak, pada batu berikutnya yang menyala, yang besarnya melebihi tiga meter, terdapat seseorang di depan batu tersebut.    

Vanessa dan yang lain semerta waspada melihat ada sosok lain selain mereka di gunung tersebut. Ke empatnya bergerak perlahan sebelum akhirnya melihat jelas sosok tersebut, yang merupakan seorang nenek tua yang mengenakan kebaya. Nenek itu berdiri agak membungkuk dengan ke dua tangan di istirahatkan di belakang badan. Wajah nenek itu sudah terlihat sangat berkeriput dan lusuh namun matanya masih tajam dan bersinar menatapi ke empat orang yang datang menghampiri.    

"Hihihi~ siapakah kalian para tamu yang telah dituntun oleh batu penunjuk jalan?"    

Kelompok Vanessa mengernyit, semua orang di sana langsung tahu kalau nenek tua di depannya itu bukanlah manusia melainkan jin.    
'Bangsa jin,' pikir Rakha.    

'Apa yang dilakukan bangsa jin di tempat ini?' pikir Roxanne bertanya-tanya.    

'Sepertinya situs ini bukanlah situs biasa,' pikir Rika.    

Vanessa melangkah maju menyunggingkan senyum manis, lalu membungkuk sedikit sebelum menyapa balik.    

"Selamat malam, Eyang. Saya dan teman-teman adalah avonturir yang sedang menjalani misi di sini."    

"Avonturir? Misi? Apa yang kalian bicarakan? Apa itu maksudnya kalian adalah tentara yang sedang menjalankan sebuah misi kerajaan?"    

"" …""    

Ke tiga orang dan hantu lain di belakang langsung saling bertatap, merasaka keanehan dari tanggapan si nenek. Vanessa mencoba tenang, sembari berpikir sejenak.    

master buku mengantukTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang