Beberapa menit sebelum Lembuswana hadir di medan pertempuran.
Terletak di depan markas guild Ishvara. Jumlah avonturir Ishvara kalah jauh dari Divisi Ketiga yang dipimpin Mahia. Namun, dalam segi kekuatan, bisa dikatakan duanya sebanding. Kekurangan jumlah bisa ditambal dengan kekuatan Arvi dan Daiva yang berada di kelas platinum. Sedangkan di pihak musuh hanya ada Mahia yang mempunyai kekuatan yang setara.
Sekarang, dapat terlihat kalau pasukan Divisi Ketiga ASAD mulai terpukul mundur dengan mengamuknya Daiva di barisan depan. Lelaki tersebut, setelah mengontrak [Stumpp Belt] berhasil promosi ke kelas platinum, dan sekarang dengan kekuatan barunya yang bisa mentransformasikan dirinya menjadi manusia serigala yang perkasa, Daiva mengobrak-ngabrik pasukan ASAD dengan mudahnya.
Mahia, yang melihat pasukannya mulai kesulitan, ingin segera membantu, tapi dia tidak bisa. Karena saat ini dia ditahan oleh perempuan di depannya, Arvi si Puteri Bulan. Mahia dengan hati-hati menghindari setiap serangan Arvi, lalu menyerang balik menggunakan serangan udara dari salah satu hantunya.
Arvi melindungi diri dengan selendangnya, lalu melancarkan serangan memakai selendang yang sudah ia bentuk bagai tombak.
Wussss…
Mahia semerta menyuruh siluman buaya miliknya untuk terbang menghindar. Dari atas sana, Mahia langsung menyuruh buaya itu mengeluarkan napas beracun ke arah Arvi dan avonturir Ishvara yang ada di bawah sana.
Arvi mengetahui siasat Mahia, ia semerta membuat perisai besar dari selendang untuk menahan laju semburan, sebelum ia memutar perisai itu dengan kencang, membuat tiupan angin yang menghempaskan gas beracun itu berputar ke angkasa.
Mahia tidak tinggal diam, selagi Arvi sibuk, ia langsung menyuruh salah satu hantunya untuk mendekat ke belakang punggung Arvi.
Hantu perempuan pun dengan sigap menjalankan perintah Mahia. Ketika Arvi sibuk melindungi kawannya dari gas beracun, hantu perempuan itu tiba di belakang punggung Arvi. Dia melayangkan serangan semburan udara yang kencang nan tajam, yang langsung menusuk menembus dada Arvi.
"Aduh!!"
Arvi mengerang, namun serangan itu tidak berhasil mengenai jantungnya, karena Arvi sempat menghindar sedikit. Setelah dadanya terluka, Arvi tidak seraya diam, dengan pikirannya ia menyuruh selendangnya untuk menangkap hantu di belakang.
Hantu tertangkap, kini Arvi melihat Mahia menerjangnya dengan cepat dari depan. Arvi menghindar melompat ke belakang melewati hantu perempuan di belakang, yang kini berada di depan, lalu dengan sekali ayunan pedang rapier yang sudah diimbuhi auranya. Arvi menyelubungi kepala hantu tersebut hingga terlepas darinya.
Melihat salah satu hantu peliharaannya musnah, Mahia geram. Lelaki itu segera bergerak cepat ke depan Arvi. Menyyuruh buaya tunggangannya memelihara perempuan tersebut, sedangkan Mahia sendiri merapal mantra ilmu hitam.
Arvi yang melihat Mahia menerjangnya, tentu tidak berdiam diri. Ia ingin terbang menjauh, namun sayangnya tubuhnya tiba-tiba tidak bisa digerakkan. Serta pada bagian jantungnya seperti diremas kuat hingga membuat Arvi muntah darah.
"Kuhak!!"
Arvi menatap tajam Mahia, melihat sebuah boneka dari jerami di genggaman lelaki itu.
'Santet!'
Arvi yang tidak bisa menggerakan tubuhnya lalu melihat mulut buaya yang dipenuhi gigi-gigi tajam sudah berada di depan mukanya. Pikirannya bekerja cepat, walau tubuhnya tidak bisa bergerak, Arvi masih bisa menggerakkan selendangnya. Arvi secepat kilat menyuruh selendang [Nawang Wulan] untuk membentuk bola, lalu menyumpal mulut buaya itu. Tidak sampai di situ, setelah Arvi menyumpalnya, ia sekaligus mendorong jauh buaya itu darinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
master buku mengantuk
AksiKetika umurnya beranjak sepuluh tahun, Bayu tiba-tiba mendapati dirinya mengidap narkolepsi. Hidupnya yang dipenuhi tawa pun berubah menjadi kelam. Rasa kantuk selalu manghantui dirinya, membuat masa kecilnya lebih sering ia habiskan di kamar untuk...
