Keesokan harinya.
Endra baru saja datang ke tempat persembunyiannya di gudang yang tampak terbengkalai. Pria itu langsung menuju ke ruang pengintaian di mana ia membutuhkan banyak pembaruan informasi, setelah kemarin hari, banyak hal terjadi yang membuatnya agak cemas.
Hal pertama yang Endra lihat dan dengar dari tayangan dan mulut pengawas di sana adalah Gunawan Levontie sedang menuju ke Kota Kembang. Mendengar hal itu membuat Endra geram kembali. Sungguh, mengapa banyak hal tidak terduga seperti ini terjadi.
Endra mencoba menenangkan dirinya, mulai berpikir jernih kembali, mencari alasan Gunawan pergi ke Kembang. Setidaknya, Endra dapat berpikir logis kalau Gunawan ke Kembang pasti untuk menemui Mata Libra.
"Apa dia pergi untuk sekadar menanyakan tentang sikap Mata Libra kepada Britania?"
Hanya hal ini yang bisa Endra bayangkan dari kepergian Gunawan. Sebagai salah satu orang kepercayaan Presiden Jihan, ia selalu mengawasi pergerakan sejarawan mitos veteran ini. Endra tidak mau pertemuan Gunawan dan Mata Libra bakal menjadi sebuah batu sandungan terhadapnya.
'Mungkin aku terlalu banyak berpikir. Tidak ada orang yang mengetahui rencanaku. Biarlah Jihan dan yang lain sibuk dengan Britania. Malah seharusnya ini menjadi hal bagus, karena dengan begini mereka akan lengah dengan ancaman yang ada di dekatnya.'
Endra menyeringai lebar.
"Pak Endra!!"
Tiba-tiba suara teriakan terdengar memanggil. Endra menoleh ke salah satu meja di ruang pengintaian. Di sana ia melihat lelaki yang bertugas mengintai Jihan.
"Ada apa?"
"Presiden Jihan akan membuat sebuah video pernyataan!"
"Huh? Video pernyataan tentang apa?"
"Tunggu sebentar."
Lelaki itu lalu mendengar obrolan Jihan dan sekretarisnya di ruangan kantor Presiden. Setelah obrolan itu selesai, petugas itu kembali berpaling ke Endra.
"Presiden ingin memberikan penyataan tentang sikap Nusa terhadap ancaman Britania yang ingin menyerang Nusa."
"Hooo~"
Endra tidak mengira kalau masalah dengan Britania akan meningkat menjadi seperti ini, sampai-sampai Preseiden Jihan sendiri harus bergerak cepat.
"Apa yang ingin dinyatakan oleh Jihan?"
"Ia berkata kalau Nusa siap berperang dengan Britania kalau Kerajaan tersebut berani datang menghampiri negaranya."
"Huahahaha! Bagus, bagus…!"
" …?" Petugas tersebut kebingungan, karena reaksi yang biasa dihadirkan Endra yaitu marah atau cemas. Namun, sekarang ia malah melihat atasannya tertawa senang.
Endra tentu tertawa karena sekarang ia yakin kalau Jihan tidak tahu menahu tentang rencananya, dan memang fokus dengan ancaman Kerajaan Britania yang akan datang di lain hari nanti, setidaknya setelah Endra melakukan kudeta dan berhasil menduduki pemimpin negara.
Endra terkekeh, melihat kebodohan Jihan yang tidak tahu kalau lelaki itu akan segera turun tahta. Apa yang dilakukan Jihan sekarang tidak ada gunanya, karena nanti setelah Endra naik menjadi pemimpin. Dia akan mencoba bernegosiasi dengan Britania, dan akan meminta Mata Libra menyerahkan Vanessa.
Peperangan dengan Britania setelah ia kudeta, hanyalah tindakan bunuh diri. Karena ia yakin militernya negaranya nanti akan goyah karena pergantian pemimpin. Oleh karenanya, ia akan mencari jalan lain. Bila Mata Libra tidak mau mengikuti perintahnya, Endra sudah memikirkan dua rencana lain untuk memaksa Mata Libra.
KAMU SEDANG MEMBACA
master buku mengantuk
ActionKetika umurnya beranjak sepuluh tahun, Bayu tiba-tiba mendapati dirinya mengidap narkolepsi. Hidupnya yang dipenuhi tawa pun berubah menjadi kelam. Rasa kantuk selalu manghantui dirinya, membuat masa kecilnya lebih sering ia habiskan di kamar untuk...
