Aula utama markas Federasi Nusa, Sentral.
Ketua Nightwalkers tercengang melihat empat rekannya tiba-tiba terbunuh begitu saja. Ia memandang tidak percaya pada empat tubuh tanpa kepala yang mengalirkan darah. Kemudian suara tarikan senar kembali terdengar, kini ia bisa merasakan lilitan kuat pada mengingatnya sendiri.
"!!"
Ketua Nighwalkers langsung bereaksi dengan mengalirkan aura berlebih ke sana kemari, menahan lilitan pada membaca agar tidak memutus kepalanya. Pandangannya beralih ke atas kepalanya, dengan sekali tebas tombak miliknya yang telah diimbuhi aura, benang tipis milik Aarifa pun putus.
Ketua Nightwalkers merasa dirinya masih dalam bahaya, apalagi saat ini dia telah terekspos dengan tidak adanya kabut asap yang menghalangi pandang. Ketua Nightwalkers itu kini dapat dilihat oleh semua avonturir, ia mengenakan baju serba hitam dengan penutup mulut. Perawakannya tinggi berisi, dengan luka sayatan di satu matanya.
'Tch! Harus keluar segera!'
Ketua Nightwalkers itu segera berlari ke dinding terdekat sambil menyiapkan tombak tulangnya untuk melubangi dinding. Namun tiba-tiba,
Diam kauu ...
Kakinya merasa dililit kembali, ia pikir kalau benang tadi kembali, namun ternyata yang melilitnya bukanlah benang, melainkan kain selendang bercorak bunga. Kain itu tidak berhenti setelah melilit kakinya, bagai ular kain itu meliuk mengitari ke dua kaki yang bertujuan untuk memuat seluruh tubuh. Merasakan bahaya, Ketua Nightwalkers langsung ingin merobek kain itu dengan tombaknya.
Namun ayal, tangan seketika tidak mampu digerakkan. Lilitan benang itu kembali, kini mengganggu pergerakan dua tangan.
"Bangsat!"
Lelaki itu menggeliat berupaya melonggarkan lilitannya, hanya saja tidak longgar, lilitan di tangan malah semakin erat, dan kain bagai ular itu telah menutupi seluruh tubuh bagian bawahnya. Kini ia bahkan tidak mampu berdiri, lelaki itu tidak bisa mengerahkan tenaga ke kakinya. Tubuhnya pun melayang dengan benang menarik ke dua tangan ke udara. Lilitan kain telah mencapai kedalaman, dan terus menutupi seluruh tubuhnya.
"Aaaaaaaarrgggg!"
Lelaki itu berteriak lantang, menatap tajam pada Arvi yang telah kembali berdiri setelah membetur dinding. Tubuh Arvi kini terlihat jelas dengan berbagai lubang luka di sekujur tubunya. segar mengalir ke tanah mengeluarkan semerbak harum melati.
Arvi kesulitan berjalan karena kaki yang tampak tercabik akibat serangan musuh. Napasnya berat, berusaha fokus untuk menyerang musuhnya dengan cepat. Arvi memandang musuhnya dengan dingin, melihat lelaki itu masih mencoba melepaskan diri. Hingga semenit kemudian teriakan nyaringnya berhenti setelah ditutup oleh kainnya.
"Teknik pamungkas, [Fabric Maiden] siksa seribu jarum!"
Seraya Arvi mengatakan itu, permukaan kain yang berada di dalam lilitan, menguntai ribuan benang setajam jarum. Lilitan kain semakin erat, membuat ribuan jarum benang itu menusuk ke seluruh pori Ketua Nightwalkers di dalamnya.
Suara erangan yang memekik telinga seketika terdengar dari dalam balutan kain yang sudah seperti kepompong. Kepompong kain itu mengeliat bagai ulat dengan suara siksaan seorang lelaki. Para avonturir dan tamu yang melihat ini menelan ludah dengan keringat mengalir di tengkut akibat kengerian di depannya.
Selain dari erangan kepompong itu, terdapat hal lain yang menakjubkan, yaitu tubuh Arvi yang tadinya dipenuhi luka berat, kini berangsur menyembuhkan diri dalam waktu yang sangat cepat sehingga dapat dilihat oleh mata telanjang. Lubang-lubang di sekujur tubuhnya seraya menutup dengan kulit yang tumbuh dengan cepat.
KAMU SEDANG MEMBACA
master buku mengantuk
ActionKetika umurnya beranjak sepuluh tahun, Bayu tiba-tiba mendapati dirinya mengidap narkolepsi. Hidupnya yang dipenuhi tawa pun berubah menjadi kelam. Rasa kantuk selalu manghantui dirinya, membuat masa kecilnya lebih sering ia habiskan di kamar untuk...
