96

77 13 1
                                        

Menjelang pagi hari, di markas Mata Libra.
   
Bayu yang baru saja merawat Vanessa, kini tengah berjalan ke kamarnya, atau mungkin lebih tepat berjalan ke rumah barunya di lantai tiga markas. Bayu membuka pintu, di dalamnya ia langsung melihat ruangan tengah, berisikan sofa, meja, dan televisi. Dia juga bisa melihat dapur di sisi lain tempat ia berdiri sekarang. Bayu berjalan, melihat televisi di samping kanannya, yang di sebelah TV itu terdapat pintu menuju balkon yang menghadap ke lapangan .    

Di balik sofa, dinding sebrang balkon, terdapat dua pintu kamar tidur. Bayu lalu menengok ke kirinya, di sana ia melihat dapur dengan dua pintu lain di samping jalan ke dapur, satu adalah kamar mandi dan satunya lagi ke ruang baca. Bayu melihat ke kanan, di sebelah pintu keluar, ia melihat satu ruangan yang disebut Yudha sebagai kantor.    

'Kenapa aku butuh kantor di tempat tinggalku?'    

Bayu tidak mengerti, ia lalu berjalan ke kamarnya. Menyimpan tasnya yang berisi pakaian sebelum kembali keluar ke ruang tengah menyalakan televisi. Ia lalu melihat pintu balkon yang terbuat dari kaca itu sudah memperlihatkan langit yang mulai cerah. Bayu berjalan membuka pintu, merasakan angin sejuk pagi hari.    

Lalu ketika dia melihat pemandangan di bawahnya, ia melihat Anggi yang sedang menggali di sebuah tanah lapang tidak jauh dari hutan yang letaknya di samping bangunan wisma. Tidak jauh dari tempat Anggi menggali, Bayu dapat melihat balutan kain putih yang menyelimuti tulang belulang kerangka ke dua orang tua Anggi. Bayu lalu bersila di balkon, memandangi Anggi dengan mata teduh.    

Di lantai satu, di sisi lain tempat Anggi menggali. Yudha yang baru saja selesai menyimpan barang-barang berharga seperti anting Libra ke ruangan penyimpanan bawah tanah. Keluar dari pintu belakang markas, berniat untuk memulai olahraga rutinan yang harus ia lakukan setiap hari. Namun, baru saja ia keluar ia mendengar suara galian dari sebrang sana.    

Yudha menyipitkan mata, mendapati Anggi sedang menggali lubang pada permukaan tanah. Yudha mengernyit bingung, namun sebagai staf guild, ia merasa harus membantu perempuan di depan sana sebelum tiba-tiba ia merasakan tarikan pada bajunya dari belakang.    

Yudha berbalik, wajahnya seketika memerah melihat Aarifa yang berdiri di belakangnya dengan baju piyama tipisnya.    

"Do-dokter! Selamat pa-pagi! Anda sudah bangun rupanya," salam Yudha sembari memalingkan wajahnya.    

"Huhuhu~ kamu lucu sekali," ucap Aarifa sembari mencubit pipi Yudha, ia lalu berpaling ke Anggi yang berada di kejauhan sana, "Jangan membantunya, biarkan dia melakukannya sendiri."    

"Kenapa?"    

"Karena ini adalah waktu berharga bagi dia dan keluarganya," tutur Aarifa sembari menunjuk ke balutan kain putih di permukaan tanah.    

Yudha masih agak bingung, sebelum akhirnya sadar dengan apa yang sebenarnya dikerjakan oleh Anggi. Matanya terbuka lebar dengan mulut menganga berpaling ke Aarifa ingin mengkonfirmasi pikirannya, yang kemudian ia lihat dokter wanita itu mengangguk dengan senyum tipis di wajahnya. Yudha menenangkan dirinya.    

'Jadi Mbak Anggi juga sama denganku?' pikir Yudha merasakan kalau nasib mereka berdua sama, seorang anak yang ditinggal mati oleh keluarganya. Yudha dan Aarifa pun hanya melihat dari kejauhan, memandangi Anggi yang mulai mengubur tubuh tulang belulang orang tuanya.    

Waktu berjalan perlahan, kini Anggi telah selesai menguburkan ke dua orang tuanya. Perempuan itu kemudian bersila di depan kuburan dengan sinar mentari pagi mulai menyinari dari balik pundak.    

Aarifa masuk kembali ke bar, sembari sebelumnya menyuruh Yudha untuk memulai kegiatan rutinannya. Kalau ingin, remaja itu bisa berziarah ke makam orang tua Anggi kalau telah selesai dengan urusannya. Aarifa masuk ke dalam konter bar, mencari botol bir dan dua gelas kosong. Tidak lupa satu botol air mineral biasa.    

master buku mengantukTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang