Hari menjelang siang, pada markas Mata Libra di Kota Kembang.
Tiga hari telah berlalu semenjak Vanessa bangun dari tidur lamanya. Selama tiga hari ini, tidak ada sesuatu yang terjadi pada guild Mata Libra. Orang-orang di markas terlihat damai dan tentram, meskipun keadaan di luar sana semakin kacau karena banyaknya pihak yang mulai merangsek masuk ke Nusa. Belum lagi masalah kepemimpinan tentara Nusa yang kini mulai terbagi menjadi dua pihak, yakni pihak wakil presiden dan pihak militer serta menteri pertahanan sendiri, yang merasa kalau wakil presiden telah melangkahi wilayah mereka karena keputusannya.
Nusa kini penuh dengan banyaknya pihak yang rakus akan mendapatkan keuntungan sendiri. Mata Libra tidak peduli akan semua itu. Selama tidak ada masalah yang datang ke pintu mereka, Mata Libra akan diam-diam menyaksikan semuanya berlangsung. Mau itu baik bagi Nusa atau pun tidak.
Dalam tiga hari ini juga, Bayu sudah mengumumkan pengumuman tentang lowongan kerja sebagai pegawai di guildnya, dan juga rekrutmen bagi avonturir yang ingin bergabung. Untuk saat ini, Bayu membutuhkan resepsionis dan administrasi sesegera mungkin. Hasilnya, ada dua pelamar yang ingin bergabung. Setelah jam makan siang nanti, sekitar pukul satu. Bayu akan mewawancarai dua pelamar tersebut.
Setidaknya, jika dua pelamar ini bergabung, maka beban di pundak Yudha akan berkurang banyak. Kasihan remaja itu, selama ini dia bekerja sebagai staf di berbagai divisi seperti Administrasi, resepsionis, akuntan, sekretaris, bahkan sebagai penunggu konter bar dan koki pun ia lakoni. Bayu sungguh berterima kasih padanya, ia pun memberikan bonus gaji pada Yudha yang langsung membelikannya ponsel. Karena selama ini Yudha memakai gawai bekas Anggi.
Jadi barista dan juru masak, saat ini ada Margareth yang melakukannya, setidaknya sampai Vanessa dan wanita paruh baya itu menjadi petualangan, masalah ini bisa ditunda.
Bayu kini berada di kantornya di lantai dua markas. Bayu tidak memakai kantor di lantai tiga karena rasanya terlalu aneh jika kantornya ada di dalam ruangan. Jadinya, ia memilih salah satu ruangan kantor di lantai dua sebagai ruangan guildmaster resminya.
Di depan Bayu, sedang duduk juga Anggi, sambil merokok merencanakan strategi musim dingin ke dalam guild. Saat ini bukan saja mereka kekurangan staf, mereka juga sangat kekurangan keuntungan. Sangat beruntung sekali mereka, karena saat ini aktivitas guild masih sepi. Bagi Bayu, Anggi terlalu kuat untuk menjalankan misi yang biasa saja. Oleh karena itu, menambah avonturir adalah prioritas utama saat ini.
"Sudah tiga hari, tapi belum ada minat untuk bergabung. Apa ini normal? Atau karena kita memang tidak menarik sama sekali bagi mereka?" Tanya Bayu, pasrah dengan keadaan.
"Mereka akan sulit tertarik, Bos. Kita mungkin punya tiga platinum, tapi tidak ada yang tahu tentang itu. Jadi di mata mereka, kita hanya guild perunggu biasa saja. Belum lagi markas kita yang jauh dari mana-mana, kupikir mereka merasakan kalau kita tidak punya prospek ke depannya."
"Hmmm…" Bayu tampak berpikir.
"Kau punya cara lain, Bos?"
"Ya, aku baru saja ingat setelah melihat linimasa LIFE tadi pagi. Tiga minggu lagi akan diadakan Guild Fair di kampus lamaku. Di sana guild-guild dari Kembang dan Nusa akan membuka perekrutan bagi masyarakat Kembang, khususnya para mahasiswa avonturir yang baru lulus. Mungkin kita bisa mendaftarkan diri untuk membuka tenda perekrutan juga di sana."
"Ooh, ide bagus, Bos. Mungkin adik kelasmu akan tertarik bergabung?"
"…" Bayu menatap kosong pada perkataan Anggi, "Aku tidak kenal sama sekali dengan adik kelasku, dan aku berkuliah bukan di jurusan avonturir, yang semakin membuatku tidak mengenal mereka, dan lagi… kurasa yang lulus bukan saja adik kelasku, tapi juga yang satu angkatan dan sisa angkatan seniorku. Jadi ya… kurasa tidak akan ada yang mendaftar karena setidaknya mereka mengenalku sebagai tukang tidur penyakitan."
KAMU SEDANG MEMBACA
master buku mengantuk
Hành độngKetika umurnya beranjak sepuluh tahun, Bayu tiba-tiba mendapati dirinya mengidap narkolepsi. Hidupnya yang dipenuhi tawa pun berubah menjadi kelam. Rasa kantuk selalu manghantui dirinya, membuat masa kecilnya lebih sering ia habiskan di kamar untuk...
