194

74 10 0
                                        

Dua hari kemudian, Kantor Pusat Kepemerintahan Nusa, Sentral.

Di tengah kesibukan para pegawai negeri, Endra, selaku Wakil Presiden tiba-tiba memanggil seluruh menteri yang ada di Nusa, untuk menghadiri suatu rapat darurat. Pertemuan rapat itu disenggalarakan untuk membicarakan pergerakan Kerajaan Laut Selatan yang semakin kelihatan akan memulai perang kembali.    

Para menteri yang tahu akan rencana kudeta Endra, mendengar diadakannya rapat darurat itu menaruh curiga. Mereka takut kalau rapat itu hanya akan menjadi dalih Endra untuk mengumpulkan mereka semua, yang nantinya malah akan meminta mereka tunduk kepadanya. Oleh karenanya, para menteri hanya mengirimkan anak buah mereka sebagai perwakilan.    

Jenderal Gahar sendiri sangat curiga akan perintah Endra ini. Dari rencana yang diberikan Tazkia, kudeta seharusnya dimulai besok atau lusa, tapi pergerakan Endra kali ini membuatnya khawatir.    

Tidak mau ambil resiko, Jendral Gahar pun lebih memilih mengirim Mansur sebagai perwakilan dari Kementerian Pertahanan. Mansur sendiri merupakan salah satu pendukung kuat Endra, jadi tidak ada masalah bila rapat nanti berubah menjadi suatu hal yang tidak terduga.    

Beberapa jam kemudian, rapat darurat yang dipimpin oleh Endra pun dimulai. Dalam ruangan rapat, mayoritas menteri yang dipanggil Endra tidak hadir. Para menteri itu hanya mengirimkan bawahan masing-masing sebagai perwakilan. Hanya para menteri yang berada di pihak Endra yang berani menghadiri rapat tersebut.    

Melihat kondisi rapat yang kurang ideal baginya, Endra kini betul-betul percaya terhadap kecurigaannya tiga hari lalu, sewaktu Presiden Jihan tiba-tiba mengumpulkan seluruh kerabatnya dalam rapat tertutup di Markas Besar Militer Nusa.    

Apalagi setelah mendapati sosok Presiden Jihan dan Jenderal Gahar tidak ikut menghadiri rapat yang dibuatnya kini. Endra semakin yakin kalau pihak musuhnya itu sudah tahu kalau ia akan mengkudeta mereka.    

Oleh karena itulah, daripada mengikuti rencana yang sudah jelas diketahui musuh. Endra pun memodifikasi rencananya. Salah satunya, jadwal yang sudah direncanakan esok hari, ia mulai satu hari lebih cepat.    

Endra tersenyum pada para hadirin yang mendatangi undangan rapatnya. Lalu dengan satu jentikkan jari, ruang rapat itu tiba-tiba dipenuhi oleh puluhan pasukan bersentajata. Seluruh muka senapan telah menodong ke kepala seluruh individu di ruangan rapat tersebut kecuali Endra sendiri.    

""!!!""    

"Apa-apaan ini?!"    

"ENDRA!!"    

Melihat kepanikan di depannya, Endra hanya tertawa terkekeh. Bahkan para menteri yang berada di pihaknya pun tidak luput dari ancaman senjata di kepala mereka.    

Para kerabat Endra itu berteriak sekaligus bertanya kepada sang Wakil Presiden, atas alasan mereka juga harus diperlakukan sama seperti pihak musuh. Endra kembali terkekeh.    

"Karena aku sudah tidak memerlukan kalian lagi."    

"Apa kau bilang?!"    

"Hahaha! Kalian seharusnya sadar diri! Ada tikus di antara kita, karena kalau tidak, bagaimana si brengsek Jihan itu bisa tahu tentang kudeta ini! Kalian semua di mataku tidak ada bedanya dengan mereka yang mendukung Jihan. Hahaha! Sekarang bagaimana kalau kalian beritahu, siapa yang mengkhianatiku?"    

Ucap Endra dengan senyum menyeringai. Orang-orang yang ada di ruangan itu terdiam, bukan karena mereka takut, melainkan karena mereka memang tidak tahu tentang pengkhianat yang disebutkan Endra.    

Endra pun tidak tinggal diam. Dia berkata kalau tidak ada yang mengaku maka setiap satu jam dari sekarang ia akan membunuh satu persatu orang dalam ruangan itu. Hal ini akan terus terjadi hingga dia berhasil mengambil alih kekuasaan dengan menumbangkan seluruh tokoh penting yang ada di Sentral saat ini.    

master buku mengantukTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang