Di kamar pasien yang cocok dengan Vanessa. Bayu memandang perempuan cantik itu dengan penuh perhatian. Tujuan Bayu bertanya pada Vanessa, adalah karena dia ingin tahu seserius apa perempuan itu ingin bergabung. Kalau Bayu sedikit saja melihat keraguan atau keterpaksaan karena embel-embel 'utang budi', dia akan langsung menolak permintaannya setuju.
Namun saat ini, ia malah mendengar alasan yang bisa dibilang samar dengan wajah serius pada wanita bermata zamrud itu.
"Bagaimana bila perasaanmu salah?"
Vanessa melihat Bayu yang masih tiada ekspresi di wajahnya. Ia ingin melihat apakah guildmaster di depannya, memiliki rasa keberatan akan dirinya masuk. Sejujurnya saja dia semakin minder setelah diceritakan tentang masalah saat ini oleh Margareth. Situasi di mana ia diburu oleh berbagai pihak sebagai senjata dan penjahat.
Vanessa merasa kalau dia tidak punya lagi tempat di luar sana. Dia kemudian mengingat kehangatan aura yang diberikan Bayu ketika berada di alam bawah sadarnya. Dia menginginkannya lagi, menginginkan tempat yang memberikan kehangatan dan kedamaian. Oleh karena itu, ia merasa bahwa Mata Libra adalah tempat yang tepat. Hanya saja, ia takut bersantai ditempat itu, membuatnya hancur akan keberadaan dirinya.
"Perasaanku tidak salah, dan aku tidak akan pernah menyesal jika bisa bergabung. Tapi ... aku tidak mau juga menjadi sekadar beban bagi kalian. TAPI! Aku tahu, aku ingin sekali menjadi bagian dari guild ini!" Awalnya ada keraguan dalam diri Vanessa, karena menganggap dirinya sebagai beban, tapi dia tidak ingin ekosistem jantung yang ingin berada di sini. Menjadi bagian dari guild yang menyelamatkannya.
Bayu melihat kembali raut serius wanita itu, ia kembali bertanya, "Apa yang ingin kau lakukan setelah bergabung dengan guild?"
Vanessa mengingat begitu juga Margareth yang belum berpikir panjang tentang langkah selanjutnya dalam hidup mereka.
"Sejujurnya saya belum tahu, Guildmaster. Mungkin berlatih menjadi avonturir dan membantu mereka yang telah saya buat sengsara," lirih Vanessa yang kini tertunduk malu.
"Beritahu aku, apa yang ingin sebenarnya kau lakukan?"
"...?" Vanessa Kebingungan, ia merasa baru saja menjawabnya. Namun, Bayu kembali mengulangi lagi kata-katanya.
"Apa yang paling ingin kau lakukan saat ini? Aku ingin kau jawab, dari dalam lubuk hatimu itu."
Vanessa tertegun mendengar pertanyaannya kali ini, dalam pikirannya terngiang-ngiang kata dalam lubuk hati. Apa yang diinginkannya? Setelah semua kejadian ini, apa yang diinginkan seorang Vanessa Blumunt? Perempuan itu seketika, meneteskan air mata dari matanya secara tidak sadar. Ia merasakan basah air di pipinya, mencoba mengusapnya berkali-kali.
"Kenapa? Kenapa aku menangis? Ini aneh sekali, hahaha, maaf guildmaster, tunggu sebentar."
"Vanessa..." Margareth yang melihat air mata itu seketika perih dalam hatinya, ia segera memeluk sahabatnya dengan erat.
"Tidak apa Margareth, saya baik-baik saja."
"Tidak, kamu sedang tidak baik-baik saja!" Margareth mengusap air mata dari pipi yang kini terlihat pipih di wajah sahabatnya, "Vanessa, aku tahu mimpimu. Aku tahu kamu tersakiti karena merasa mimpimu telah hancur. Tetapi ingat Vanessa, kita bisa bangun kembali yang telah hancur itu. Aku akan selalu mendukungmu. Kapan pun dan di mana pun, selamanya."
Bayu melihat ke dua orang di depannya, saling mengisak tangis begitu saja. Dia menatap kosong pada pemandangan itu, menoleh ke Aarifa yang ada di belakangnya, membisikkan sesuatu pada dokter itu.
"Apa aku salah memberikan pertanyaan padanya?"
"... kurasa tidak, tapi-apa Guildmaster punya tujuan lain memberikan pertanyaan itu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
master buku mengantuk
AksiyonKetika umurnya beranjak sepuluh tahun, Bayu tiba-tiba mendapati dirinya mengidap narkolepsi. Hidupnya yang dipenuhi tawa pun berubah menjadi kelam. Rasa kantuk selalu manghantui dirinya, membuat masa kecilnya lebih sering ia habiskan di kamar untuk...
