135

81 8 0
                                        

Pada satu stasiun terbengkalai di Kota Angin.

Setan Budeg muncul begitu saja, terjatuh dari udara dengan keras setelah berhasil meloloskan diri dari tempat Rika, salah satu budaknya yang telah terbebas. Setan Budeg kini terkapar di tanah, mengerang kesakitan setelah ia harus memaksakan diri memotong ke dua tangan dan kakinya.

"Aaargh! Uuuuuu~ sakit~ uuhhhh... sakit..."

Suara erangan dan tangisan Setan Budeg bergema ke seluruh stasiun, bahkan hingga ke sebuah ruangan bawah tanah di bawah stasiun. Dalam ruang bawah tanah tersebut, terkurung lima orang perempuan muda dengan dua orang gadis kecil. Tiga perempuan telah terlihat kurus kering, terbaring lemas di lantai memandangi langit-langit ruangan dengan tatapan kosong. Menunggui ajal menyelamatkan mereka dari penderitaan.

Dua perempuan lain, masih tampak sehat walau dengan baju yang telah kotor dan lusuh. Mereka berdua memeluk erat dua gadis kecil di ruangan, sembari menjaga pandangan gadis-gadis kecil tersebut tidak melihat ke balik punggungnya, yang merupakan tengah ruangan.

Di sana, pada tengah ruangan tergantung tiga mayat manusia, satu lelaki dua perempuan, dengan kondisi yang sudah tidak wajar. Mayat Pria hanya tinggal kulit saja, dagingnya telah dimakan oleh Setan Budeg dengan tulang belulang berada di salah satu pojok ruangan. Mayat satu perempuan memiliki lubang di perutnya, bau busuk akan dagingnya begitu menyengat membuat mual, belum lagi ulat belatung yang hinggap di sekujur tubuh mayat itu membuat siapa pun yang melihatnya kehilangan nafsu makan.

Satu mayat perempuan lagi, yang merupakan masih salah satu teman mereka yang senja tadi masih hidup, kini telah kehilangan seluruh tubuh bagian bawahnya. Termakan habis oleh hantu kuno tersebut, kini mayatnya hanya tergantung begitu saja, masih meneteskan darah ke lantai.

Terus bagaimana dengan roh mereka semua? Hobi Setan Budeg, mereka dijadikan budak dengan rantai yang melilit leher dan jantung. Ke tiga roh orang di ruangan itu telah dibawa pergi oleh Setan Budeg entah ke mana.

Lima perempuan hari demi hari hanya bisa menunggu hari kematian mereka. Tiga orang yang terkapar berusaha membuat hatinya tidak dendam kepada siapa pun bahkan ke Setan Budeg yang menyekap mereka, karena dengan begitu mereka berharap bisa mati tanpa harus bergentayangan. Tapi akankah semudah itu? Mereka hanya bisa mencoba.

Dua gadis kecil pada ruangan, menjadi bagian sekapan baru-baru ini. Gadis kecil pertama datang sekitar lima hari sebelumnya, sedangkan gadis kedua sehari setelah gadis kecil pertama tertangkap.

Sejak hari pertama para gadis kecil itu datang, seluruh perempuan yang tersekap sangat terkejut. Tanpa pikir panjang ketika itu, semua beraksi untuk menutupi mata dan menyumpal telinga ke dua gadis dengan robekan pakaian mereka. Membutakan para gadis kecil akan kejadian yang berlangsung selama dalam sekapan.

Ke tujuh perempuan (sekarang sisa lima), ingin ke dua gadis kecil tidak timbul trauma maupun mimpin buruk. Para perempuan di sana bekerja sama sebaik mungkin untuk menghibur dua gadis kecil ketika Setan Budeg tidak ada di ruangan.

"Suara apa itu?" Tanya salah satu perempuan, mendengarkan erangan pekik yang samar di telinganya.

"Apa mungkin itu Setan Budeg?"

"Haaa~ jangan terlalu berharap, siapa pula yang bisa menyerang hantu keji itu!" jawab salah seorang perempuan yang memeluk Aruna. Ia kemudian merasakan tarikan pada bajunya, "Hm?"

Perempuan itu lalu menuliskan kata-kata pada punggung Aruna, menuliskan perlahan pertanyaannya, 'ada apa?'. Hal ini ia lakukan karena ke dua telinga gadis kecil itu telah disumbat oleh robekan kain baju yang telah dibasahi.

"Kakak kenapa? Aruna ngerasain jantung kakak jedag-jedug kencang sekali..."

Semerta mendengar itu, perempuan itu terkaget, ia lalu menenangkan dirinya, tersenyum sembari mengelus-ngelus kepala Aruna sebelum menuliskan kalimat 'baik-baik saja' pada punggug Aruna.

master buku mengantukTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang