Markas Mata Libra, Kembang.
Pada kantor Wakil Guildmaster milik Anggi di lantai dua markas. Vanessa, Roxanne, Rakha dan Rika yang baru saja pulang dari misi mereka memeriksa keberadaan Pilar Dunia, langsung menghadap ke Anggi selaku pemimpin guild sementara, karena tidak adanya Bayu yang masih tertidur.
Ànggi mengernyit sewaktu mendengar laporan Vanessa.
"Jadi kalian tidak bisa memeriksanya, karena adanya Kerajaan gaib yang menghalangi jalan kalian?"
Vanessa mengangguk, "Ya, kami memasuki kerajaan itu, tapi hanya sebatas di gerbang saja. Kami tidak bisa melanjutkan perjalanan."
"Aku tidak pernah tahu ada kerajaan di sana … tidak, kurasa bahkan Nusa pun tidak tahu."
Tapi, Anggi merasa kalau Bayu mungkin sudah tahu, makanya dia mengirim Vanessa dan yang lainnya ke sana.
'Atau mungkin, Bos juga, tidak tahu, karena dia menyuruh Vanessa untuk mencari Pilar bukan kerajaan. Apa ini kebetulan, kalau tempat yang dikira Bos sebagai tempat Pilar ternyata adalah gerbang ke suatu kerajaan gaib?'
Anggi lalu menyuruh Vanessa dan kawan-kawannya untuk menceritakan kembali pengalaman mereka selama menjalani misi.
***
Cerita dimulai ketika kelompok Vanessa tiba di kaki gunung yang diperkirakan Bayu sebagai tempat adanya situs megalitik kuno.
Vanessa melihat bagaimana gunung itu tampak mencekam dengan pohon-pohon besar yang menjulang tinggi, ranting dan dedaunan di atas sana berhasil menutupi sinar matahari terik untuk mencapai permukaan tanah. Membuat hutan di depannya selau berada dalam kegelapan.
Semerbak wangi tanah basah dan rerumputan begitu menyengat ketika kelompok baru saja menapaki hutan. Cuitan berbagai burung dalam hutan bagai menertawai mereka, belum lagi suara lolongan dan raungan monster buas hampir selalu terdengar di teling. Suara itu terdengar jauh, namun berasal dari berbagai arah, yang sukses membuat bulu kuduk setiap anggota kelompok merinding. Semua kecuali Rika, yang melayang senang, karena baginya hutan seram itu bagai rumah yang nyaman.
Rakha, sejak memasuki hutan, selalu mengawasi keadaan sekitarnya. Mencoba merasakan sedikit pergerakan yang ada, bila ia mendeteksi adanya ancaman, Rakha akan langsung memeringati teman-temannya.
"Roooooaaaarrr!"
Suara raungan lantang terdengar dari samping. Roxanne langsung berdiri menyumput di balik Rakha. Vanessa mempersiapkan senjata pedangnya, senjata berupa rapier artifak langka yang ia beli sewaktu pulang ke Hexagone. Rakha meluaskan jarak deteksinya, mendapati seekor monster yang jaraknya cukup jauh. Rakha bernapas lega, lalu memberitahu yang lainnya untuk kembali berjalan.
Untuk beberapa hari ke depan, pekerjaan Vanessa dan yang lainnya hanyalah menyusuri hutan. Memeriksa tempat-tempat yang tampak mencurigakan, membunuh beberapa monster yang tiba-tiba muncul, dan berkemah di hutan.
Beberapa hari sudah terlewati tetapi kelompok belum juga menemukan tanda-tanda adanya Pilar Dunia yang Guildmaster Bayu sebutkan. Vanessa dan yang lainnya sudah mulai pesimis untuk melanjutkan pencarian, apalagi setelah mereka membaca berita tentang guild Mata Libra yang baru saja berseteru dengan Union.
Mereka berempat padahal hanya pergi dari guild beberapa hari saja, tetapi dalam beberapa hari itu seperti banyak sekali yang terjadi.
"Wooow~ Kak Anggi membunuh satu Kapten dan membasmi seluruh pasukan Mu, apa Kak Anggi sekuat itu?" Tanya Roxanne yang terpukau dengan berita yang dia baca di ponselnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
master buku mengantuk
AksiyonKetika umurnya beranjak sepuluh tahun, Bayu tiba-tiba mendapati dirinya mengidap narkolepsi. Hidupnya yang dipenuhi tawa pun berubah menjadi kelam. Rasa kantuk selalu manghantui dirinya, membuat masa kecilnya lebih sering ia habiskan di kamar untuk...
