176

95 15 0
                                        

Perpustakaan Kehidupan, alam bawah sadar Bayu.    

Ayu menuntun Bayu keluar dari kamarnya menuju ke meja pustakawan. Sesaat Bayu melangkah keluar pintu, ia langsung dapat melihat seorang laki-laki yang berdiri terbengong memandangi timer yang tertera di dinding balik meja pustakawan. Timer yang menunjukan akumulasi waktu yang harus ditempuh Bayu untuk berada di perpustakaan sebelum ia bisa kembali ke dunia nyata.    

Lelaki itu memakai jaket hoodie abu dengan celana jeans pendek hitam. Kulitnya berwarna cokelat matang, dengan mata hitam yang pekat dihiasi oleh alis mata yang panjang nan lentik. Bulu mata agak tebal, hidungnya mancung, dengan rambut pendek bergelombang. Perawakannya ramping dengan tinggi yang agak kurang dari rata-rata. Namun dari raut mukanya, Bayu tahu kalau lelaki itu setidaknya seumuran dengannya.    

Pertanyaan Bayu tetap satu, 'Siapa dia?'    

Menurut Anggi, orang yang dapat masuk ke perpustakaan adalah mereka yang bisa mengendalikan roh atau tubuh astralnya lalu menyusup ke alam bawah sadar Bayu.    

Teknik menyusup ke alam bawah sadar orang lain sendiri sangat jarang ditemui, hanya mereka yang merupakan master shaman atau dukun ternama, yang biasanya mempunyai teknik ini.    

Jadi siapa lelaki di depan Bayu itu? Yang diperkirakan oleh Ayu bukanlah seorang shaman maupun dukun. Lagipula dari rupanya saja, Bayu sudah bisa menebak kalau lelaki itu bukanlah pemakai ilmu hitam, belum lagi lelaki itu terlalu muda untuk bisa menguasai ilmu menyusup ke alam bawah sadar orang lain.    

Sama dengan Bayu, lelaki itu juga menoleh ke arah Bayu setelah mendengarkan suara pintu terbuka. Lelaki itu menilik Bayu dengan seksama, merasa heran dengan lelaki muda di depannya yang tampaknya adalah pemilik perpustakaan yang dikatakan si wanita cantik.    
'Dia muda sekali!'    

Pikir lelaki itu, kembali menilik Bayu, yang wajahnya datar tanpa ekspresi, matanya sayu dengan gelak tubuh yang terlihat malas.    

" … "    

Lelaki itu melihat Bayu yang telah sampai di depannya, namun tidak mengucapkan satu patah kata apa pun.    

"Eee—selamat malam…"    

"Malam?" Bayu memiringkan kepalanya, "Aku kira ini pagi?"    

Bayu menoleh ke Ayu, yang oleh asistennya itu dibalas mulut bulat 'o' tanpa suara sambil menutupnya dengan satu tangan, seolah berkata 'oops!'.    

"Um…"    

Bayu menoleh ke lelaki itu lagi yang tampaknya ingin berbicara sesuatu.    

"Hm?"    

"Ini di mana, ya?"    

"Huh?"    

" … "    

Bayu menatap kosong pada lelaki di depannya yang bisa kemari tanpa tahu tempat yang ia datangi. Bagaimana caranya ia bisa datang ke sini?    

"Pertama-tama, boleh aku mengenal siapa anda?" Tanya Bayu.    

"Ah! Saya Moreo Calvari, seorang detektif swasta."    

" … detektif?"    

Lelaki bernama Moreo mengangguk mengiyakan.    

"Kenapa seorang detektif ada di sini?"    

Moreo menggaruk-garuk kepalanya, agak canggung untuk memberitahukan alasannya. Namun, instingnya sejak menginjakkan kaki di perpustakaan dan bertemu dengan wanita cantik itu selalu mengingatkan ia akan bahaya. Moreo tahu kalau dia tidak berhati-hati, nyawanya bisa berakhir begitu saja.    

master buku mengantukTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang