117

83 13 0
                                        

Markas Mata Libra.    

Setelah ditinggalkan oleh Bayu, Justin Soleostre langsung duduk di meja kayu di tengah lobi markas. Dia menyuruh avonturir yang ia sewa untuk membersihkan kekacauan yang dibuatnya, sekalian mengirim avonturir yang tangannya terpotong ke rumah sakit.    

Justin ingin pulang, tapi nyalinya ciut untuk beranjak dari sini sebelum bertemu putrinya, Citraloka, seperti yang diperintahkan Bayu. Jadinya ia berserta avonturir yang telah disewanya, hanya bisa menunggu terdiam di meja. Menunggui putrinya kembali dari misi.    

Darius sempat datang ke meja Justin, menawarkan makanan maupun minuman untuk tamunya. Justin menolak tawaran itu, tidak ada nafsu dalam dirinya untuk menyantap apa pun. Darius semakin kebingungan karena tidak ada yang memberitahukannya kejadian yang barusan terjadi. Sukma dan Mutia tampak pucat tidak mau berkata apa pun, Puan masih sibuk dengan dunianya sendiri, sedangakan Aarifa… dia tidur sembari mendengkur keras. Darius hanya bisa menaikkan bahu, meminta sebotol air dingin ke Mutia untuk ia bawa kembali ke meja kantornya.    

Waktu terus berlalu, hingga beberapa avonturir telah kembali. Rakha kembali dari misinya memburu monster, ia melihat sekumpulan pria asing duduk di tengah lobi, merasa familiar dengan pria tua yang berbaju rapi dan modis di sana, tapi sedetik kemudian tidak ia pedulikan. Rakha meleos pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri.    

Sasha dan Roxanne datang hampir bersamaan, terkejut melihat ayah dari sahabatnya yang duduk terdiam di dalam markas. Mereka agak bingung, karena yang mereka kenal dari Justin ialah pribadinya yang angkuh, sehingga tidak mungkin pria tua itu mau duduk di kursi murahan guildnya.    

Roxanne ingin mendekat dan menyapa, sebelum melihat Justin memalingkan muka dengan wajah memerah, malu serta tidak mau digubris. Sasha merasa heran, tapi dia langsung menarik kembali Roxanne, menjauh dari kumpulan pria itu sebelum bertanya pada Sukma tentang mereka.    

"Jangan pikirkan mereka, orang-orang itu adalah sekumpulan orang bodoh yang berani membuat Guildmaster marah. Kini mereka hanya bisa diam menurut. Biarkan saja, biarkan Citra berbicara dengan ayahnya nanti."    

Sasha semakin bingung, ia kemudian berpaling kembali ke sekumpulan pria di sana.    

'Apa mereka takut sama Guildmaster?'    

***    

Di lantai dua markas, tepatnya di kantor Bayu.    

Bayu yang telah menenangkan Ayu yang tiba-tiba saja marah tadi akhirnya bisa bernapas lega. Ini pertama kalinya ia tahu kalau aura milik asistennya ini bisa keluar melalui tubuhnya. Dengan kekuatan yang mengejutkan pula. Untuk alasan Ayu marah sendiri, Bayu tidak bisa berkata apa-apa, karena Ayu marah akibat dua hal, dia terpaksa bangun dari istirahatnya, dan ejekan dari orang lemah kepada tuannya.    

"Hm? Ada apa lagi?"    

"…"    

Bayu semerta terdiam mendengar kabar dari Ayu. Rika Liliannete, salah satu orang yang Bayu anggap sebagai temannya semasa kuliah dulu. Hal itu dikarenakan, hanya Rika seoranglah yang selalu menyapanya setiap hari, bertanya tentang sejarah dan mitos padanya. Hingga pada suatu hari, gadis itu tiba-tiba keluar dari kampus dan pindah entah ke mana.    

Setidaknya itu yang Bayu tahu hingga ia membaca buku Adi Hamerfid dan mengetahui alasan Rika keluar. Sama seperti Lesti, Adi yang semasa itu memacari Rika secara tidak sengaja menghamilinya. Bedanya, Adi tidak sekejam ketika bersama Lesti, ia tidak membunuh Rika, namun melaporkan perbuatannya ke keluarganya.    

Dibantu oleh kekuatan keluarga Justicien, keluarga Hamerfid memaksa keluarga Liliannete untuk menyuruh putri mereka untuk keluar dari kampus dan mengaborsikan anaknya. Aborsi merupakan tindak kejahatan yang dikecam oleh negara, tentu orang tua Rika menolak perintah itu. Namun ayal, penolakan mereka beakhir dengan nyawa ayah Rika sebagai imbalannya.    

master buku mengantukTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang