Markas Mata Libra, Kota Kembang.
Siang hari, Bayu turun ke lobi untuk memakan makan siang. Dalam lobi, ia masih melihat Sasha dan Roxanne yang tampaknya tidak mengambil misi hari ini. Dia juga melihat Irina yang sepertinya sedang memesan makanan, dan Ratna yang kini tertidur di sofa bersama Aarifa setelah mereka minum bersama.
Bayu mendekati konter bar, memesan makan siangnya kepada Mutia. Ia lalu menoleh ke Irina di sampingnya.
"Untuk Lamria?"
Irina mengangguk, "Iya, Guildmaster. Sepertinya bertemu dengan anda berhasil mengembalikan nafsu makannya, sekarang ia sedang mengistirahatkan diri di kamarnya."
"Baguslah kalau begitu."
"Um... Guildmaster, kalau saya boleh bertanya ... apakah Aruna benar bisa diselamatkan? Maaf, bukan saya tidak percaya, tapi menurut saya lebih baik memberitahukan fakta yang sebenarnya ke Nyonya daripada mmebuat suatu harapan palsu."
Bayu memandangi Irina dengan wajah dinginnya, perempuan itu sesaat berdegup jantungnya, merasakan kengerian sesaat.
"Tenang saja, Aruna masih hidup, dan masih akan hidup setidaknya sampai besok dini hari. Sebelum ia kehilangan nyawanya, aku akan menyelamatkannya."
Mutia tidak lama kembali, memberikan makanan bagi Bayu berupa karedok dan nasi putih hangat. Seperti biasa, Mutia juga sudah menyiapkan satu gelas kopi dingin bagi atasannya.
Irina juga menerima pesanan makanannya, ia pamit pada Bayu sebelum berjalan kembali ke wisma untuk mengirimkan makanan ke Lamria. Bayu kini sendirian menyantap makan, namun tidak berlangsung lama, Sukma mendatanginya.
"Guildmaster membutuhkan saya?"
Bayu mengangguk, "Iya, beres aku makan, tolong siapkan mesin registrasi dan sebuah kartu avonturir kosong. Bawa ke ruanganku."
Sukma mengerut terheran, walau begitu ia hanya bisa menyanggupi, "Baik, Guildmaster."
Tidak membutuhkan waktu lama untuk Bayu selesai makan, kembali ke ruangannya yang sudah ditunggui oleh Sukma di depan pintu.
"Ayo masuk."
Sukma mengikuti, memasuki ruangan kantor Bayu yang sudah familiar baginya, tapi ada satu benda asing yang membuatnya agak terkejut.
'Hm? Apa ini cermin dari kamar Guildmaster?' pikir Sukma yang baru melihat cermin besar tertempel dinding kantor. Sukma bisa melihat cerminan seluruh tubuh dirinya di cermin, melihat wajahnya yang agak berkeringat. Ia mengusap basah di keningnya, merapikan rambut dan bajunya sebelum tersenyum tersipu setelah melihat tatap dingin Bayu pada pantulan cermin yang memandangi dirinya.
"Hehehe~ maaf, Guildmaster."
"Tak apa, sudah kau bawa mesin registrasi dan kartunya?"
Sukma mengangguk sembari menyimpan mesin di atas meka Bayu, "Sudah, Guildmaster! Umm, kalau saya boleh tanya, untuk apa mesin dan kartu ini?"
"Tentu saja buat mendaftarkan avonturir, memangnya ada kegunaan lain?"
Sukma ingin menangis mendengar jawaban Bayu, 'Saya juga tahu tentang itu, tapi maksudnya siapa yang mau didaftarkan?'
"Ada sesuatu yang kuingin kau daftarkan, dia sedikit unik, makanya aku ingin mendaftarkannya di sini," ucap Bayu sembari menunjuk ke arah cermin di dinding samping kanannya.
Sukma memandangi arah tunjukan Bayu, memandangi bayangan dirinya pada cermin. Sukma mengerutkan dahinya, lalu menunjuk dirinya sendiri, "Saya?"
Bayu semerta menatap kosong, "Bukan kamu, sesuatu yang ada di dalam cermin."
KAMU SEDANG MEMBACA
master buku mengantuk
ActionKetika umurnya beranjak sepuluh tahun, Bayu tiba-tiba mendapati dirinya mengidap narkolepsi. Hidupnya yang dipenuhi tawa pun berubah menjadi kelam. Rasa kantuk selalu manghantui dirinya, membuat masa kecilnya lebih sering ia habiskan di kamar untuk...
