88

91 15 0
                                        

Di atas atap gedung pencakar langit, terlihat seorang lelaki tua yang mengenakan jas putih seorang dokter, ia berdiri mematung tidak dapat menggerakan tubuhnya. Di depan lelaki tua itu seorang lelaki bertopeng dengan santainya memotong leher lelaki tua itu secara perlahan. Mata pisau daging yang ia gunakan bergerak maju, mundur, maju, mundur, menyayat leher tanpa memakai tenaga berlebih, sehingga leher lelaki tua itu tidak kunjung terputus. Belum lagi dengan kemampuan lelaki tua yang bisa meregenerasi lukanya, yang seharusnya menyembuhkan, namun kini malah menambah penyiksaan.    

'AARRRGGHH!'    

Zetta dalam dirinya mengerang begitu kesakitan akibat tindakan yang dilakukan Panji. Sakit perih tak terbayang terus terkirim ke otaknya dari leher yang terus dipotong perlahan. Darah terus bercucuran, membasahi jas putih dokternya. Lehernya terus terpotong, namun akibat regenerasi otomatisnya, Panji tidak pernah berhasil memotong lebih dari setengah lehernya. Panji seperti terhenti di tengah-tengeh leher, yang malah membuat sakitnya semakin tidak terpikir.    

"Oi, bisakah kau berhenti menyembuhkan diri? Aku gak hobi nyiksa orang lama-lama, kapan beresnya lehermu ini terpotong? Apa kau gak sakit?" Tanya Panji dengan nada suaranya yang aneh dengan santai sembari masih memotong leher layaknya orang yang menggergaji kayu.    

'Kenapa bukan kau saja yang imbuhi auramu ke pisau supaya tajam? Pisau dagingmu itu tumpul!'    

Teriak Zetta dalam hatinya, kesal dengan perbuatan Panji yang ingin membunuhnya tapi tidak kunjung ia lakukan. Orang bertopeng itu malah tampak sengaja menyiksa dirinya. Coba pikir, kenapa orang bertopeng itu memilih bertarung menggunakan pisau daging yang biasa ada di dapur, dan yang ternyata sudah tumpul pula? Dia pasti memang bermaksud untuk menyiksa Alkemis. (Walau sebenarnya karena Bayu tidak punya benda lain yang bisa dijadikan senjata).    

Panji terus menerus mengiris leher Zetta, sudah hampir lima menit ia lakukan, dan dua menit yang lalu bahkan ia menambah waktu mematung alkemis ini sepuluh menit lagi dengan menggunakan teknik [Yazmak]. Dan kini Panji tampak mulai kesal, karena leher orang tua itu masih belum juga terpotong.    

"Oke! Hentikan! Ini malah makin menyebalkan!"    

Panji lalu mengalirkan aura ke mata pisau, membuatnya tajam lalu memakai tekni [Yazmak] untuk membuat leher Zetta menjadi selemmbut puding.    

Sraaaat!    

Sekarang hanya dengan sekali tebas saja, leher orang tua itu pun terjatuh dengan ekpresi yang tampak kesal di wajahnya.    

'Hiuuh~ Alkemis memang lawan kuat, gak nyangka aku sampai berkeringat gini,' ujar Panji setelah mendapati kepala dan tubuh orang tua itu terjatuh bermandikan darahnya sendiri yang sejak tadi sudah menggenang.    

<… Tuan, saya pikir Alkemis akan sangat marah kalau mendengar perkataan anda.>    

'Hm? Kenapa? Aku memujinya loh.'    

"… heh~"    

Dari jarak yang tidak terpaut jauh, Selina yang sudah menyegel pergerakan Haswin, melihat semua tindakan Panji sejak ia menekan suatu remot yang seketika menghentikan amukan Lembuswana. Sewaktu itu terjadi, betapa lega hatinya karena ia tahu kalau Sentral telah berhasi bertahan, dan mereka bisa dikatakan menang.    

Tetapi, tingkah laku Panji berikutnya sewaktu ingin membunuh Alkemis membuatnya tidak habis pikir dengan kejadian di depan sana. Panji dengan santai ingin memotong leher Zetta, bahkan tanpa senjata yang tidak ia aliri aura. Selina memaklumi tindakan ini, anggap saja karena ia juga ingin menyiksa musuhnya. Sudah tidak aneh pada zaman sekarang.    

Tapi! Lima menit kemudian, ia malah melihat Panji yang semakin kesal sembari mengumpat-ngumpat ke Zetta yang tidak bisa melakukan apa-apa. Dan pada akhirnya ia mengakhiri nyawa orang tua itu dengan cepat memakai pisau yang sudah dialiri aura. Dan setelah tubuh orang tua itu terjatuh, ia agak mendengar Panji yang tertawa terkekeh sendiri.    

master buku mengantukTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang