Markas Mata Libra, Kembang.
Irina berjaga di depan kamar Lamria sembari memainkan ponselnya. Dia berjaga untuk memastikan Lamria benar-benar beristirahat. Waktu sudah menunjukan pukul lima tiga puluh pagi, beberapa pegawai markas telah keluar dari kamar masing-masing untuk mulai bekerja.
Seperti Mutia yang harus mulai menyiapkan santapan sarapan, padahal masalah dapur bukanlah tugasnya. Yudha dengan kantung mata tebal, telah keluar dari kamarnya dengan pakaian olahraga, bersiap melakukan olahraga rutinan harian. Darius telah keluar dengan wajah serius, melihat dokumen-dokumen di tangannya. Hanya Sukma, yang masih belum menunjukan tanda-tanda akan keluar dari pintu kamarnya.
Beberapa avonturir pun telah mulai bersiap, Sasha yang sudah berada di lapangan melakukan senam. Vin yang berada di lapangan juga melatih gaya bertarungnya. Sedangkan Roxanne tidak pulang ke kamar tapi menginap di kamar rawat Citra dalam klinik.
Siapa yang menyangka klinik yang dibangun untuk Aarifa sekarang cukup ramai ditempati. Benny yang baru akan sembuh besok atau lusa masih berada di salah satu kamar. Lalu kemarin ditambah Citra dan Rakha yang sekiranya bakal seminggu menginap di sana. Lalu bagaimana dengan Aarifa sendiri? Dia sebenarnya mempunyai ruangan kantor dengan ranjang yang bisa menjadi kamarnya di dalam klinik, tetapi dia lebih memilih memakai kamar lamanya di lantai dua markas. Belum lagi, Aarifa lebih sering tidur di lobi sofa daripada di kamarnya sendiri.
Tinggal Puan, sayangnya saat ini dia tidak berada di markas. Bayu menyuruhnya ke Sentral untuk mendapatkan lisensi resmi dan seragam batik sebagai sejarawan mitos Mata Libra dari Asosiasi.
Memandangi aktivitas yang mulai ramai, Irina berpikir untuk membangunkan Lamria. Apalagi karena udara pagi di markas sangat sejuk sekali dan baik bagi kesehatan. Namun sebelum ia beranjak, pada linamasa LIFE tiba-tiba ia menemukan sebuah postingan dari temannya tentang sebuah video viral di YouWatch. Melihat judul video itu membuat jari Irina semerta terdiam, lalu perlahan menyentuh layar mulai memainkan video.
'Panji!'
Dalam video Irina melihat Panji berhasil membunuh Setan Budeg. Setelah melihat video, Irina sadar kalau Panji membuat video seperti itu untuk memperingati pada siapa pun kalau banyak orang yang masih hidup di luar sana. Irina tahu betul kalau identitas Panji adalah Guildmaster Bayu, dan melihat video ini hatinya merasa agak berdecak kagum.
Irina langsung membuka pintu kamar Lamria, bergerak membangunkan atasannya. Lamria masih sedikit pusing setelah dibangunkan paksa oleh Irina, namun ketika asistennya memperlihatkan video Panji, matanya langsung terbuka.
"Ini—kalau pikiran saya benar maka yang dilakukan Bayu …."
Irina mengangguk, "Saya juga merasa kalau Guildmaster Bayu berniat menyelamatkan seluruh korban di Nusa, Tara dan Borneo, hanya saja bukan dengan tangannya sendiri, melainkan memaksa pemerintah bergerak sendiri menyelamatkan para warganya. Kalau pemerintah tidak melakukannya, kritik akan banyak berhamburan pada mereka."
Lamria berpikir sejenak, mengingat kembali wajah dan ekspresi Bayu dalam pikirannya, "Sepertinya Bayu sudah merencanakan ini sejak awal. Tapi—di mana Aruna?"
Irina tertawa kecil, "Guildmaster tampaknya belum kembali, melihat ia sukses memusnahkan Setan Budeg, sudah bisa dibilang kalau Aruna selamat juga. Kita tunggu saja kedatangannya, Nyonya."
Lamria mengangguk, ia lalu beranjak dari tempat tidurnya, "Kalau begitu sebaiknya saya mempersiapkan diri dulu. Saya tidak mau memperlihatkan diri yang lusuh kepada Aruna."
***
Dalam klinik di markas Mata Libra.
Roxanne yang tidur di sofa samping ranjang Citra, terbangun kesal karena ponselnya yang terus bergetar pada perutnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
master buku mengantuk
ActionKetika umurnya beranjak sepuluh tahun, Bayu tiba-tiba mendapati dirinya mengidap narkolepsi. Hidupnya yang dipenuhi tawa pun berubah menjadi kelam. Rasa kantuk selalu manghantui dirinya, membuat masa kecilnya lebih sering ia habiskan di kamar untuk...
