Dalam dunia cermin, Mirai—bangsa Mu yang merupakan campuran manusia dan rubah melihat sekitarnya dengan kebingungan. Ia menilik langit dan lautan yang sama seperti sebelumnya, hanya saja tidak ada angin yang terasa dan lautan di bawah sana pun sangat tenang tanpa ombak, membuatnya lebih seperti air di kolam daripada laut.
Mirai tahu kalau ini bukanlah dunia nyata, ia mengingat sebelumnya, ketika hendak menyerang gadis kecil angkuh itu, sebuah cermin tiba-tiba saja muncul di depannya membuatnya menerjang masuk ke dalam cermin.
"Apa ini dunia cermin?"
"Benar sekali. Pertama kali melihatnya?"
Tiba-tiba suara gadis kecil terdengar di belakang Mirai. Perempuan rubah itu berbalik, tidak menemukan seorang pun di sana, Mirai melihat sekelilingnya mencari sosok gadis kecil yang mengurungnya di sini.
"Di mana kau?!"
"Kalian rubah sangat ahli akan ilusi. Kenapa saya harus menunjukkan diri hanya untuk masuk dalam ilusi. Terlebih lagi, kali ini kaulah yang harus menghadapi dirimu sendiri. [Envy Mirrors] third mirror – reflection."
Sebuah cermin sedikit lebih besar dari Mirai seketika muncul di depannya, pada pantulan cermin Mirai dapat melihat bayangan dirinya sendiri, namun pada bayangnya itu wajah Mirai tersenyum lebar. Dengan ke dua mata yang hitam bagai ditelan kegelapan.
"!!"
Mirai sontak kaget, langsung terbang menjauh, tapi tangan dari Mirai pada cermin memanjang keluar. Mencengkram kuat lengannya, kuku-kuku tajam dari tangan itu menusuk lengan Mirai, menariknya kembali mendekati cermin.
"Lepaskan!"
Mirai berusaha dengan sekuat tenaga menarik kembali tangannya. Merasa kalau tenaganya sama kuat, Mirai melepaskan serangan api dari ekornya yang besar berbulu emas lebat itu. Tiga bola api berwarna emas seraya menerjang cermin, namun pada saat yang sama dengan Mirai, bayangannya pun melesatkan tiga bola api, hanya saja warnanya bukanlah emas melainkan hitam.
Bola api ke duanya saling berbenturan, menimbulkan ledakan yang cukup memekikkan telinga. Asap ledakan menutupi pandang mata Mirai, ia merasakan cengkraman di tangannya telah tiada. Mirai melihati lengannya, terdapat bekas tapak tangan hitam pekat di sana. Darah hijau mengalir dari bekas tusukan kuku si bayangan.
Hingga asap ledakan menghilang, Mirai menilik ke arah cermin tadi berada. Namun, ia tidak menemukan apa pun di sana. Mirai merengut, merasa ada yang salah, apalagi hatinya memeringati akan ada bahaya mendekat.
"Grrrraaaaaaauuuuuuu!!!"
Semerta suara raungan seekor mahluk buas terdengar dari atas kepalanya, Mirai langsung mengangkat kepala, melihat sosok bayangannya kini telah berubah menjadi monster rubah raksasa dengan empat ekor emas melambai-lambai, dengan setiap ujung ekornya terdapat bola api emas yang dapat menyerang lawan kapan pun diinginkan sang monster.
"Kenapa? Aku tidak punya waktu untuk meladenimu!"
Mirai semerta menyerang monster rubah itu terus menerus, menghujaninya dengan puluhan bola api dan cakar angin. Tetapi seperti yang telah Mirai bayangkan, serangannya sama sekali tidak mempan. Seluruh bola api dan cakaran itu hanya mampu membuat monster itu terdiam sementara sebelum Mirai melihat ujung empat ekor monster itu saling mendekat, mengumpulkan aura di tengah ujung ke empat ekor, membuatnya bagai seperti sebuah meriam.
Mirai seraya pucat dan panik, ia semerta mengaliri aura ke seluruh tubuhnya sebelum terbang menjauh. Dan—
Wuuuuuuuuuuuuuuuuungggggg!!!
KAMU SEDANG MEMBACA
master buku mengantuk
AzioneKetika umurnya beranjak sepuluh tahun, Bayu tiba-tiba mendapati dirinya mengidap narkolepsi. Hidupnya yang dipenuhi tawa pun berubah menjadi kelam. Rasa kantuk selalu manghantui dirinya, membuat masa kecilnya lebih sering ia habiskan di kamar untuk...
