Bayu terbangun dari tidurnya lalu turun ke lobi untuk menyantap sarapan. Di sana dia melihat Anggi yang dengan santai merokok di meja bar, Margareth yang sudah siap meladeni pelanggan dengan senyum yang sumringah, dan Sukma yang duduk di salah satu meja kayu di tengah lobi memakan bubur ayam. Melihat Bayu turun, ia semerta menyalami pagi di atasannya.
Bayu melambai di Sukma, sebelum mendekati Margareth memesan sarapan paginya. Margareth lewat ke dapur, Bayu lalu menoleh ke Anggi.
"Jadi kalian akan pergi lima hari lagi?" Tanya Bayu, yang sudah tahu kalau Margareth berhasil berbicara konser comeback Vanessa di Hexagone. Sesuai yang disuruh oleh Bayu, mereka akan segera pergi. Walau disungkan, tapi Margareth memang rindu pada keluarganya di sana. Oleh karena itu, mereka akan pergi lima hari lagi, bersama Anggi yang akan menjadi pengawal mereka selama sebulan, sekaligus melatih gaya bertarung Vanessa agar lebih praktis.
"Yup, kenapa, Bos? Rindu?"
"Tidak juga, hanya bertanya, karena aku sendiri harus mempersiapkan informasi ancaman untuk kalian pakai nanti."
Anggi tersenyum lebar mendengarnya. Bosya benar-benar seseorang yang bakal ditakuti banyak orang. Dia bisa mengancam siapa pun dengan mudahnya, dengan rahasia terdalam mereka.
"Bos, kamu seperti penjahat."
"Oh, terima kasih pujiannya."
Tidak lama kemudian, Margareth datang membawakan semangkok bubur ayam dan segelas kopi dingin untuk Bayu. Dia juga langsung memberitahukan rencana bersama Vanessa untuk pergi ke Hexagone dan negara lainnya. Bayu mendengarkan sambil sesekali memberikan saran pada mereka.
Saat sarapan, Bayu bertanya keberadaan Aarifa pada Margareth, yang dijawab oleh wanita itu kalau Dokter Aarifa telah dibawa ke kamarnya oleh Anggi Subuh tadi. Sekarang dia mungkin masih tidur pulas.
"Bagaimana dengan dua tawanan di penjara? Ada yang sudah memeriksanya?"
Anggi menggelengkan kepalanya, "Malas, Aarifa sudah membereskannya, kan? Mau kau apakan mereka, Bos?"
Bayu berpikir sejenak, "Tidak ada. Ah~ kuambil saja artifak mereka."
Anggi mengumumkan, 'Yup! Bos memang seram, aku lupa kalau dia bisa dengan mudah mencuri artifak musuh.'
Tidak ambil lama, Bayu dan Anggi pun berjalan masuk ke penjara di samping markas. Tempat yang sama sekali belum Bayu masuki. Ia dan Anggi menuruni tangga yang cukup memasuki perut bumi. Bayu masih berada di kursi terbangnya, melayang turun sambil memandangi jalan di depannya yang ikut terang sesuai dengan laju mereka. Lampu-lampu di samping lorong tangga secara otomatis menyala ketika sensornya menemukan ada individu di sekitar jarak sepuluh meter.
Tangga masih terus turun dengn lajur yang sesekali berbelok ke kanan, seperti mereka turun memutar. Anggi yang merasa sudah terlalu lama mereka turun, mengeryitkan alisnya.
"Tempat ini dirancang oleh Aarifa, kan? Dia sepertinya benar-benar serius membuat tempat ini. Berapa dalam sebenarnya penjara ini?"
Bayu tidak mau menjawab, dia tahu tentang dalamnya tempat ini. Hanya saja, dia tidak mau memikirkannya karena itu mengingatkannya pada biaya pembuatan yang sangat mahal. Sampai sekarang ia tidak mengerti alasan Aarifa membangun penjara ini.
Beberapa menit kemudian, akhirnya mereka berdua sampai di lantai dasar. Dari tempat mereka berdiri, ke duanya dapat melihat puluhan kamar sel yang sudah didesain rapi dan kuat, bahkan kalau harus mengurung avonturir kelas platinum sekalipun. Sekali lagi, Bayu merasakan hatinya bersedih karena mayoritas uangnya dipakai demi membuat tempat ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
master buku mengantuk
ActionKetika umurnya beranjak sepuluh tahun, Bayu tiba-tiba mendapati dirinya mengidap narkolepsi. Hidupnya yang dipenuhi tawa pun berubah menjadi kelam. Rasa kantuk selalu manghantui dirinya, membuat masa kecilnya lebih sering ia habiskan di kamar untuk...
