Pada hari di mana Bayu mulai tertidur. Union mengadakan konferensi pers untuk memberitahukan ke seluruh dunia bahwa dua dari Kapten Union telah tewas dalam pertempuran di Samudra Pasifik. Dua Kapten Union tersebut adalah Kapten Divisi Sepuluh Hakam Justicien dan Kapten Divisi Dua Belas Lemar Almaida.
Ke dua Kapten gugur setelah pertarungan sengit melawan guild perunggu dari Nusa, Mata Libra.
"Pada pertarungan kali ini, saya Krata selaku Ketua Union menyatakan bahwa kami telah kalah."
Pernyataan dari Union sontak mengejutkan seluruh belahan dunia. Union yang digadang-gadang sebagai organisasi terkuat di dunia baru saja mengakui kekalahannya pada sebuah guild perunggu.
Setelah pernyataan itu usai tentu para jurnalis langsung sibuk untuk mencari lebih detail apa yang terjadi pada pertarungan di Samudra Pasifik itu. Berbagai cara ditempuh oleh para jurnalis demi mendapatkan cerita yang mencengangkan dunia. Hingga pada tiga hari berikutnya muncullah sebuah artikel yang mengkronologikan kejadian pertarungan tersebut. Artikel itu ditulis berdasarkan kesaksian dari salah satu pasukan Divisi Sebelas yang selamat dan memilih mundur setelah ke dua kakinya menjadi korban.
Dalam artikel, diceritakan kalau awal pertarungan dimulai dari penyerangan Mata Libra ke dua kapal induk Union. Penyerangan Mata Libra hanya dilakukan oleh empat orang saja. Saksi hanya mengetahui satu orang yakni Panji the Killer, ke tiga orang lainnya tidak dikenalinya.
Tiga orang lain dari Mata Libra, semuanya adalah perempuan, satu wanita paruh baya, satu perempuan sekitar umur dua puluhan dan satu lagi masih berupa gadis kecil. Namun, ke tiga perempuan ini ia sebut sebagai monster.
Wanita paruh baya menumbangkan seluruh awak kapal pada Divisi Sebelas seorang diri. Semua korbannya telah terpotong tangan dan kakinya. Beberapa ada yang selamat dan telah berhasil disambungkan kembali bagian tubuh yang telah terpoting, namun ada juga beberapa yang seperti saksi, tidak bisa dikembalikan lagi karena bagian tubuhnya telah jatuh ke lautan luas. Namun, ia bilang masih beruntung karena ada banyak kerabatnya yang mati akibat kehabisan banyak darah sebelum sempat dirawat.
"Wanita itu benar-benar membuat situasi seperti film horor, kau tidak bisa bergerak sedikit pun karena ada benang yang tidak terlihat bisa memotong kita kapan saja. Kapten Desir tidak bisa berkutik dengan seluruh awak menjadi sandera. Tapi, semua itu berubah seketika sewaktu Kapten Snow tiba dan menyerang wanita itu. Sedetik sebelumnya aku bagai patung di musium, detik berikutnya aku seperti berada di tengah neraka. Teriakan dan erangan mereka hingga saat ini masih terbayang di mimpi."
Musuh lain yang berupa perempuan sekitar umur dua puluhan, yang memakai kacamata hitam, merupakan pembunuh Kapten Lemar. Namun, bukan hanya Lemar saja, perempuan berkacamata itu juga menghabisi satu Jenderal Mu dan seluruh pasukan Mu yang tiba meramaikan pertempuran di Samudra Pasifik.
Ada satu hal yang membuat jurnalis agak kebingungan dan tidak percaya, karena banyak saksi yang memberitahukan kalau perempuan itu menghabisi seluruh pasukan Mu hanya dalam waktu sekejap mata saja.
"Apa itu suatu perumpamaan?"
"Bukan, memang sekejap mata, satu detik. Ratusan pasukan Mu yang menyerang perempuan itu langsung tumbang kehilangan nyawa hanya dalam satu detik. Beberapa dari kami yang selamat bahkan ada yang lega karena yang menyerang kami adalah wanita yang tampak santai. Karena wanita itu hanya memotong tubuh, bila perempuan berkacamata itu yang datang, kurasa nyawaku pun tidak bisa diselamatkan."
"Bagaimana pertarungan Kapten Lemar dengan perempuan itu?"
"Berakhir dalam sekejap pula. Kapten Lemar baru saja keluar dari portal Ketua namun detik berikutnya, kepalanya telah tiada dan tubuhnya jatuh ke lautan."
KAMU SEDANG MEMBACA
master buku mengantuk
ActionKetika umurnya beranjak sepuluh tahun, Bayu tiba-tiba mendapati dirinya mengidap narkolepsi. Hidupnya yang dipenuhi tawa pun berubah menjadi kelam. Rasa kantuk selalu manghantui dirinya, membuat masa kecilnya lebih sering ia habiskan di kamar untuk...
