Malam hari di markas Mata Libra, Kota Kembang.
Bertempat di ruang tengah kamar Bayu di lantai tiga. Di sana terdapat Bayu, Rika, Lamria dan Irina. Waktu menunjukkan akan segera berganti hari, Bayu memandangi Rika di tengah ruangan yang menatap balik melihatnya dengan berseri-seri.
"Kau seperti orang gila kalau tersenyum seperti itu terus," tukas Bayu.
"Ayolah, Bay. Siapa yang tidak senang melihat seseorang yang kamu kenal setelah sekian lama? Belum lagi orang itu kini berniat membantunya dari tangan seorang monster menyeramkan! Hahaha~ ini sudah seperti cerita dongeng, saya kayak seorang putri saja."
"Di dongeng setidaknya para putri yang diselamatkan masih hidup, kau … sudah mati."
"… tak bisakah kau sedikit menghibur temanmu?"
"Untuk apa? Tak kuhibur pun kau sudah tersenyum-senyum sendiri kayak orang gila."
Rika lalu menyarankan mengembungkan ke dua pipinya sambil menunggun muka.
"Hmph!"
"Haaa~ dia tidak berubah sama sekali," lirih Bayu, ia kemudian beralih ke Lamria dan Irina yang berada tidak jauh di situ, "Kalian tidak perlu repot-repot kemari, loh. Kalian bisa menunggu hingga pagi hari nanti, akan kupastikan membawa Aruna kembali."
Lamria menggeleng, "Tidak, aku ingin melihat seperti apa mahluk yang mengambil putriku. Tapi—kalau keberadaan kami akan menjadi bebanmu, aku akan mundur menunggu di kamar."
"Beban? Sebenarnya tidak juga, terserah kalau kalian mau melihat. Aku hanya takut dan ketakutan melihat sosok hantu kuno itu nanti."
Tengah malam nanti, Bayu akan menghapus rantai yang membelenggu Rika dari cengkraman Setan Budeg. Setelah rantai itu ia hapus menggunakan kekuatan, Bayu yakin kalau Setan Budeg itu akan mendatanginya karena marah. Menurut yang ia baca dari buku Rika, Setan BUdeg sepertinya tidak hanya bisa berteleportasi ke setiap stasiun di Nusa saja, tapi ia juga bisa berpindah ke tempat di mana budaknya berada.
Itulah mengapa Bayu memperingatkan Lamria untuk berdiam di dalam ruangan saja, karena menurut yang ia baca dari buku, semua orang yang melihat sosoknya selalu menyebutkan kalau hantu itu buruk rupa nan menyeramkan.
Lamria sendiri mengetahui tentang rencana Bayu dari Rika ketika ia bertemu dengan hantu perempuan itu tadi sore di lobi. Ketika itu Bayu sedang tidur di dalam kamar karena penyakitnya kambuh, oleh karena itu ia tidak bisa berhenti mulut Rika yang agak comel bercerita ke seluruh avonturir di sana tentang apa yang terjadi di retakan dimensi Buitenzorg.
Apalagi setelah melihat Citra dan Rakha menjadi korban keganasan kejadian di sana yang membuat rasa penasaran setiap avonturir terpantik. Bahkan Roxanne, yang seketika lupa tentang amarahnya ke Rakha setelah melihat kondisi tubuh ke dua temannya yang tidak bisa bergerak sama sekali. Roxanne menangis lega kepada Citra karena masih bisa pulang dengan selamat, tapi ia tertawa terkekeh pada Rakha, menjahilinya di kamar rawatnya dengan menggelitiki kaki dan perut Rakha, yang membuat lelaki itu tertawa dan akhirnya kesakitan karena bergerak.
Namun hal yang paling membuat Roxanne melupakan amarahnya karena ia sangat bahagia karena selain mendapatkan tanda tangan dan foto Ratna, ia juga berhasil mendapatkan tanda tangan dan foto bareng Arvi, yang kali ini tidak ada larangan baginya untuk membagikannya ke media sosial.
Roxanne seharian sangat ceria membaca setiap komentar cemburu setiap teman media sosialnya yang melihat ia bisa berfoto dengan Arvi si Puteri Bulan.
Bukan Roxanne saja, Sasha pun melakukan hal yang sama, walau Sasha bisa dibilang paling dewasa di antara ke tiga perempuan itu, namun siapa yang tidak mengidolakan Arvi? Walau wajahnya tampak biasa saja, dalam hatinya Sasha melompat-lompat kegirangan.
KAMU SEDANG MEMBACA
master buku mengantuk
ActionKetika umurnya beranjak sepuluh tahun, Bayu tiba-tiba mendapati dirinya mengidap narkolepsi. Hidupnya yang dipenuhi tawa pun berubah menjadi kelam. Rasa kantuk selalu manghantui dirinya, membuat masa kecilnya lebih sering ia habiskan di kamar untuk...
