Di dalam ruangan bawah tanah, seorang perempuan masih bermain tebak gambar bersama seorang gadis kecil. Perempuan itu lalu melihat ke dekatnya, ke teman yang kini memangku gadis kecil lainnya yang sedang tertidur pulas.
“Akan bagus kalau Aruna bisa tertidur juga, tapi anak ini terlalu aktif,” ucapnya sambil melukiskan seekor binatang di punggung Aruna.
"Hahaha… bukannya itu bagus, aktif dalam situasi sekarang setidaknya menandakan dia masih berpikiran positif. Sejujurnya kalau tidak ada dua anak ini, aku mungkin sudah jatuh dalam keputusasaan."
Perempuan itu melihati temannya mengusap-ngusap punggung anak yang sedang tertidur, "Hm, mungkin yang kamu katakan benar adanya."
“Ummmm… kadal, enggak, cicak?” jawab Aruna yang menebak-nebak gambar yang ia rasakan di punggungnya. Perempuan itu lalu menjewer kuping Aruna.
"Ah, hehehe~ salah ya.."
Perempuan tadi lalu menuliskan jawaban yang benar di punggung.
"Bi-a-wak? Biawak itu apa?"
Perempuan itu terkekeh, karena pada dasarnya bentuk cicak maupun biawak tidak ada bedanya. Melihat kepolosan Aruna membuatnya bahagia.
Kreeak… ngeeeett~
"!!!"
Terdengar suara pintu ruangan terbuka, ke dua perempuan langsung memeluk erat ke dua gadis di pelukannya, sebelum bersembunyi gadis-gadis kecil itu ke belakang punggung mereka. Melihat ke arah pintu.
'Dia datang!'
'Siapa korban selanjutnya?'
Namun jauh dari ekspektasi mereka, yang masuk ke ruangan bukanlah sosok Setan Budeg seperti biasanya, melainkan seseorang yang memakai topeng dengan pakaian rapi dan sebuah topi hitam bundar.
"Uwaa~ tempat ini baunya tidak sedap sama sekali."
Ke dua perempuan itu seraya menatap kosong, tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Mereka saling tatap, kebingungan melihat di mata masing-masing.
'Topeng itu—tidak mungkin! Apa dia Panji?!'
Satu perempuan menelan ludahnya, memandangi orang bertopeng itu yang kini berhenti di tengah ruangan menilik tiga mayat yang tergantung di sana.
"Ka-Kamu!"
"Hm?"
"A-apa kamu Panji?"
"Hmmm… namaku bukanlah Panji, tapi semua orang memanggilku demikian. Jadi, yaa~ bisa dibilang begitu."
Perempuan itu kini termenung, tidak menyangka akan bertemu dengan sosok terkenal yang dikenal sebagai pembunuh berdarah dingin di Nusa.
"Kenapa kamu ada di sini?"
"TOLONG KAMI!"
Perempuan yang memeluk Aruna masih bertanya, namun perempuan yang lain tidak berpikir panjang seraya meminta tolong. Karena jika benar di depannya adalah Panji, maka orang di depannya merupakan sosok yang kuat dan bisa menyelematkan mereka.
"Um… hm… pertama-tama aku datang kemari karena mendapatkan misi untuk menyelamatkan gadis kecil itu," ucap Panji sembari menunjuk ke gadis kecil yang dipeluk salah seorang perempuan.
"Maksudmu Aruna?"
Panji mengangguk, "Yup! Benar sekali, kalau buat kalian, Setan Budeg saat ini sedang terluka parah, dan akan segera kuhabisi."
KAMU SEDANG MEMBACA
master buku mengantuk
ActionKetika umurnya beranjak sepuluh tahun, Bayu tiba-tiba mendapati dirinya mengidap narkolepsi. Hidupnya yang dipenuhi tawa pun berubah menjadi kelam. Rasa kantuk selalu manghantui dirinya, membuat masa kecilnya lebih sering ia habiskan di kamar untuk...
