77

80 12 0
                                        

Tembok timur kota di paling utara Sentral.         

Dua avonturir kelas emas terlihat sibuk membunuh satu persatu monster yang berhasil merayap naik hingga ke atas permukaan tembok. Di permukaan yang selebar empat puluh meter itu, para avonturir bekerja keras menghadang terjangan monster yang kian dekat sehingga dapat meloncati tembok.    

Daiva yang baru saja keluar dari neraka di tengah-tengah kerumunan monster di bawah sana, kini kembali mendapati dirinya dikerumuni lagi oleh ratusan monster. Dia merasa kalau perjuangannya tadi kian berlanjut gara-gara tentara AU yang kini terbang di samping tembok kota. Menembaki jatuh musuh yang memanjat ke atas.    

Swing swing    

Daiva kembali terus mengayunkan pedangnya, tangannya yang telah lelah, harus ia paksa terus bekerja agar nyawanya tidak hilang di tempat terkutuk itu. Daiva menebas seekor anjing jadi-jadian, menusuk seekor kuda dengan tanduk seperti rusa, menyembelih seekor kambing dengan kaki setinggi jerapah, tebas, tusuk, tikam, semua hal dilakukan Daiva dan pedangnya untuk menjamin hidupnya.    

"Anjir! Gak ada habisnya!"    

Daiva lalu mengayunkan pedang secara horizontal ke kerumunan monster di depannya. Seketika dari ayunannya, beberapa bongkah tanah tajam melayang menyerang para monster itu.    

Daiva melompat mundur lalu melompat maju seperti pegas, melakukan serangan tusukan dengan seluruh tenaganya, membuat kerumunan monster di depannya terbagi dua dengan luka yang cukup berat. Daiva lalu kembali mengayunkan pedangnya ke monster yang sudah terlihat lemah.    

Satu, dua, tiga… satu persatu monster mati di tangannya. Mayat-mayat monster kini semakin lama semakin bertumpuk di atas tembok. Mengurangi jarak pergerakan avonturir dan tentara yang berjuang mati-matian mempertahankan tembok.    

"Aji! Singkirkan mayat-mayat ini!"    

Daiva merasa semakin tersudut karena tidak ada tempat lagi untuk bergerak, langsung berteriak kepada Aji yang berada cukup jauh dari tempatnya. Aji tentu tidak mendengar teriakan Daiva, apalagi di medan tempur yang dibisingkan oleh berbagai suara serangan dan erangan. Tapi, Popo dapat mendengarnya, elang itu langsung berbelok menuju lokasi Daiva.    

"Ada apa, Popo?"    

"Kuaaak!"    

"Hmm?" Aji lalu melihat para avonturir yang saat ini sedang kesulitan karena merasa sudah sangat tersudut. Hanya satu avonturir yang masih bisa bergerak secara leluasa dengan melompati tubuh para monster dan mayat yang ada di sekitarnya.    

"Aji bangsat! Cepat, singkirkan mayat-mayat ini!"    

Aji mendengar teriakan Daiva padanya. Aji menyeringai melihat Daiva yang tampak kesulitan menghadapi tiga monter anjing di depannya. Tidak ingin membuat situasi semakin sulit bagi orang-orang di atas sana, Aji lalu menyuruh Popo untuk terbang ke sisi lain tembok sebelum melesatkan angin kencang dari hembusan sayap Popo, yang membuat mayat dan para monster seketika terhempas jatuh dari tembok.    

"Anjir! Kau lama ini lama banget!" Daiva mengumpat setelah dirinya bisa bernapas lega walau hanya sebentar.    

"Jangan lengah dulu, Daiva! Mereka kembali!" Teriak Aji, melihat kloter monster berikutnya sudah menanjak naik, mulai menerjang ke arah orang-orang yang baru saja terbebas dari kesulitan.    

"Goddamnit!"    

Daiva harus kembali menggerakkan tubuhnya yang lelah. Ia menilik sisa auranya yang sudah kurang dari seperempat. Daiva kembali mengumpat dalam hatinya dengan situasi yang tidak kunjung reda.    

master buku mengantukTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang