Sekitar bagian selatan Kota Sentral. Seorang perempuan berparas cantik mendarat lembut ke tempat di mana para penduduk telah lelah menari. Kini mereka hanya bisa terduduk karena kaki dan otot-otot yang lemas.
Selama berjam-jam mereka menari tiada henti. Napas kini telah berat. Untuk pertama kalinya, orang-orang itu merasakan bagai kematian berada di belakang mereka, tertawa menikmati keputusasaan mereka yang tidak bisa berbuat apa-apa.
Orang-orang itu terduduk, terbaring hingga tertelungkup, tidak sanggup berdiri untuk pergi ke bunker. Di antara mereka, tergeletak banyak tubuh yang telah meninggal akibat tarian maut. Melihat jasad mereka, orang-orang itu merasa sangat beruntung. Kalau Puteri Bulan satu menit saja terlambat menyelamatkan mereka, salah satu pasti sudah bergabung menjadi mayat yang begelimpangan bersama tubuh-tubuh tak bernyawa itu.
Arvi yang telah mendarat, melihat mata orang-orang di sekelilingnya tampak berbinar memandangi dirinya. Arvi tersenyum sambil mengangguk membalas pandangan mereka. Ia lalu menoleh ke tempat mayat-mayat yang berada di sekitar daerah itu. Sekiranya terdapat tujuh puluhan orang telah menjadi korban ganasnya tarian maut.
Arvi merasakan hati kecilnya menangis. Selama ia menyelamatkan warga Sentral dari timur ke selatan, semakin ia melaju semakin pula ia menemukan banyak warga yang telah tiada nyawa. Ini pun belum terhitung daerah-daerah sudut terpencil yang kemungkinan terlewat olehnya. Kalau jumlah ini disatukan dengan bagian lain yang bukan menjadi tanggung jawabnya, mungkin korban yang jatuh akibat tarian bisa mencapai antara seribu hingga dua ribu jiwa.
'Banyak sekali…'
Arvi merasa tidak berdaya. Dia berpikir kalau bisa menyelamatkan semuanya, tapi kenyataan selalu berkata lain. Sekuat apa pun dia sekarang, menyelamatkan semua orang tetaplah hal mustahil. Arvi tersenyum miris dengan realitas yang ia hadapi sekarang.
Arvi melihat sekelilingnya, melihat orang-orang yang sudah terselimuti oleh auranya. Arvi lalu memejamkan mata, mendengarkan suara nyanyian Vanessa yang hingga kini masih terdengar di seluruh kota, walau saat ini sudah tercampur selingan nada ledakan akibat perang di timur sana.
'Apa yang akan dirasakan Vanessa, mengetahui suara nyanyiannya malah membuat ribuan nyawa menghilang? Saya harap dia tidak tenggelam ke dalam kegelapan.'
Arvi tidak bisa memikirkan apa yang akan dirasakan Vanessa. Bagi diva dunia itu, yang selalu menyuarakan kedamaian dan kemanusian di setiap lagunya, dielu-elukan oleh milyaran rakyat dunia yang merasa terluka oleh situasi dunia saat ini. Kini suara damainya, suara merdunya, bukannya menolong tapi telah menyabut nyawa orang-orang itu, mereka yang mengidolakannya.
Arvi tidak bisa memikirkan perasaan Vanessa nanti, sunngguh tidak bisa.
"Apa monster festival-nya sudah dimulai?" Seorang kakek tua, tiba-tiba bertanya setelah melihat langit di timur sana yang telah menyala jingga akibat banyaknya ledakan dan pohon-pohon yang mulai terbakar.
Arvi pun memandang ke kejauhan sana, melihat langit yang tampak bercahaya di langit hitam dan mendengar suara perang yang bahkan terdengar hingga tempatnya berdiri. Ingin rasanya dia menggerakkan tubuhnya langsung ke sana, menolong sesama avonturir yang sedang bertarung melawan jutaan monster.
Tapi…
Tubuhnya kini telah kehilangan banyak aura, dan sesuai perintah Selina, Arvi berhasil menyisakan sekitar dua persepuluh auranya. Sisa auranya ini akan menjadi modal ia bertarung dengan Lembuswana nanti. Arvi sebenarnya ragu dengan kemampuannya untuk menghentikan mahluk mistikal yang sudah melegenda di Borneo sana, apalagi dengan auranya yang sudah hampir terkuras habis.
KAMU SEDANG MEMBACA
master buku mengantuk
ActionKetika umurnya beranjak sepuluh tahun, Bayu tiba-tiba mendapati dirinya mengidap narkolepsi. Hidupnya yang dipenuhi tawa pun berubah menjadi kelam. Rasa kantuk selalu manghantui dirinya, membuat masa kecilnya lebih sering ia habiskan di kamar untuk...
