Di tengah hutan bekas jalan raya yang mengarah ke timur Sentral.
Anggi menghentikan mobilnya, melihat lingkungan sekitar yang dipenuhi pepohonan rindang menjulang tinggi. Ia lalu melihat bosnya, Bayu, turun dari mobil berjalan sambil melihat sekitarnya. Mengingat dan memastikan apa yang dia baca dalam buku sama dengan pemandangan di depan matanya.
Bayu berjalan perlahan kadang-kadang berjongkok, melompat, terus memastikan ketenangannya sendiri. Anggi mengekor mengikuti di belakangnya. Melihat bosnya berjalan jongkok memperhatikan permukaan tanah di sekitarnya.
Hingga sekitar setengah jam kemudian, Bayu behenti, melihat sebuah batu besar di depannya sekitar tiga puluh meter, dengan tiga pohon karet menjulang tinggi mengitari. Bayu lalu melangkah lima kali, berjongkok sambil memperhatikan Batu yang sekarang kira-kira berjarak dua puluh lima meter dari tempatnya berjongkok.
"Oooo, ini tempatnya."
"Di mana? Di bawah batu?"
Bayu menggeleng, "Bukan tapi di sini," sambil menunjukkan permukaan tanah yang ditumbuhi oleh rumput selutut, tepat di depannya. Bayu dan Anggi melihat tempat yang ditunjuk Bayu itu tanpa bersuara. Keadaan hening seketika, dan terus berlanjut hingga semenit kemudian, ke duanya saling menatap.
"…"
Ke dua orang itu seperti sudah mengeti apa yang ada dipikiran satu sama lain. Anggi tiba-tiba memutar, "Bos, kamu lupa bawa atau putar?"
"… kau juga," Bayu kembali melihat tanah di depannya, "Sekarang bagaimana? Mau gali pakai tangan?"
"…"
Ke duanya kembali saling tatap tanpa suara. Sebelum akhirnya, Bayu menghela napas panjang.
"Haaa~ apa kaku punya sekop atau cangkul di mobil?"
"Bos, aku agen yang sebagian besar pekerjaannya mengambil nyawa. Buat apa aku membawa-bawa simpanan?"
"Mengubur korbanmu?"
"Kita lebih memilih untuk membakarnya dari pada menguburkannya, sehingga tidak meninggalkan bukti sama sekali."
"Uwaa, kalian kejam sekali."
Anggi menatap kosong pada Bayu, ia lalu melihat kembali permukaan tanah tempat orang mati terkubur menurut bosnya itu. Anggi saja bisa menggunakan kekuatannya untuk menguraikan permukaan itu sehingga tergali terbentuk kawah, tapi dia tidak mau melukai tubuh atau tulangbelulang orang tuanya.
Anggi berpikir sejenak, sebelum Bayu menunjuk ke batu yang ada di depan mereka.
"Apa yang bisa kau potong batu itu sehingga bisa menjadi penggantinya?"
Anggi melihat batu yang dimaksud Bayu, berjalan mendekati lalu mengelusnya merasakan kalau batu itu cukup kuat. Anggi lalu mengalirkan auranya ke tangan,auranya seketika membentuk seperti mata pisau di tangannya. Dan dengan dua kali tebas, dua bilah batu pipih terpisah dari batu yang besar itu. Anggi lalu menggunakan tangan tajamnya lagi untuk mengasah sedikit ke dua batu itu, sebelum berjalan kembali dengan dua batu di tangan.
Anggi berikan satu batu ke depan Bayu, yang kemudian oleh lelaki itu hanya dilihatnya saja tanpa disentuh. Bayu berpaling ke Anggi yang berseri-seri terhadapnya, wajahnya seketika agak mengerut.
"Kau ingin aku ikut menggali?"
"Ayo, Bos, lumayan sebagai olahraga."
Bayu mendengarkan ucapan semangat dari ke dua perempuan di telinga dan pikirannya. Dia ingin menolaknya, sungguh dia ingin menolak. Namun dia merasa tidak bisa melanggar ekspektasi ke dua perempuan itu. Bayu pun mengambil sekop kayu alami itu, yang ternyata berat, lalu mencoba menggali dengannya. Hingga setelah lima sekopan, Bayu tertelungkup di tanah, dengan otot-otot yang keram.
KAMU SEDANG MEMBACA
master buku mengantuk
ActionKetika umurnya beranjak sepuluh tahun, Bayu tiba-tiba mendapati dirinya mengidap narkolepsi. Hidupnya yang dipenuhi tawa pun berubah menjadi kelam. Rasa kantuk selalu manghantui dirinya, membuat masa kecilnya lebih sering ia habiskan di kamar untuk...
