113

73 12 0
                                        

Citra berjalan masuk mengikuti lelaki di depannya, yang mengenalkan dirinya bernama Yudha, seorang staf dari guild perunggu bernama Mata Libra. Citra tidak pernah mendengar sama sekali nama guild itu, oleh karena itu ia bertanya pada Yudha tentang keunggulan guildnya dibandingkan yang lain.    
Walau tidak berharap banyak, Citra berharap mendapat jawaban seperti guildnya antusias menjadi yang terbaik, atau sekadar mengembangkan guild ke tingkat perak, dan emas kalau beruntung. Tapi—yang dia dengar dari mulut Yudha hanyalah…    

"Kakak tidak akan percaya, meskipun saya memberikan keunggulan Mata Libra."    

Setelah mendapat jawaban itu, Citra tidak mau bertanya apa-apa lagi. Lebih baik dia melihat sendiri seperti apa guild yang dibanggakan pemuda di depannya, yang kini mulai menaiki tangga.    

Di lantai satu, di antrian orang-orang yang ingin mendaftar ke guild Priangan Senja, salah satu dari teman Citra melihat temannya yang seharusnya menunggu di luar itu kini sedang menaiki tangga ke lantai atas. Citra tampak mengikuti seorang lelaki remaja. Temannya mengerutkan dahi, merasakan hal ini cukup aneh.    

"Sasha, bukannya itu Citra, mau ke mana dia?" Tanyanya ke teman yang mengantri di belakangnya, perempuan dengan rambut terikat ke belakang.    

Perempuan bernama Sasha itu melihat arah yang dituntun temannya, mendapati Citra naik tangga lalu menghilang dari pandangannya. Alisnya mengernyit, merasakan ada yang salah. Karena temannya biasanya tidak tertarik dengan guild yang bukan menjadi targetnya.    

'Ada apa?' pikir Sasha.    

Sasha lalu melihat temannya yang mungil itu menatap cemas padanya, ia kemudian mengamati antrian antrian di depan, yang mungkin sekitar setengah jam lagi bisa sampai ke meja pendaftaran. Ia menimbang-nimbang apa yang harus dilakukannya.    

"Sasha…"    

"Haaa~ baiklah, kita lihat apa yang dilakukannya di atas sana," melihat raut cemas itu, Sasha hanya bisa menyerah, mengusap kepala temannya sebelum berjalan keluar antrian, mengejar Citra yang menuju lantai atas.    

Di lantai tiga, tempat di mana stan Mata Libra berada. Yudha dan Citra baru saja sampai menginjakkan kaki di lantai ini. Tidak jauh dari mereka berdua, seorang lelaki yang bermaksud turun ke lantai dua melihat Citra muncul dari tangga. Lelaki itu adalah Rakha, teman satu angkatan Citra, dan merupakan salah satu siswa dengan nilai terendah tahun ini.    

Melihat Citra ada di lantai tempat kumpulan guild perunggu berada, membuatnya bingung terheran.    

'Apa yang dilakukannya di sini?'    

Rakha melihat Citra tampak mengikuti seorang lelaki remaja ke pojok kiri ruangan, ia agak penasaran, namun berpikir ulang, karena urusan Citra bukanlah urusannya. Rakha mengurungkan niatnya untuk mengikuti temannya itu, memilih berjalan menuruni tangga.    

Yudha dan Citra tidak berangsur lama tiba di tempat Mata Libra berada. Stan paling pojok kiri di ruangan itu, Citra tidak menyangka kalau guild itu ditempatkan di lokasi yang paling jarang dilewati pengunjung. Bahkan saat ini saja, hanya ada dia dan dua pengunjung lain yang berada di area itu. Dua pengunjung lain itu sedang bertanya-tanya di dua stan samping tempat Mata Libra berada.    

"Guildmaster! Saya hanya dapat hamburger untuk makan siang, dan satu peminat yang mungkin akan bergabung."    

"Hey! Saya belum memutus—" Citra ingin menyanggah perkataan Yudha sebelum terdiam setelah mendapati seorang lelaki di kursi terbang muncul dari dalam stan. Dia terdiam karena wajah lelaki itu bukanlah wajah asing baginya, dan mungkin bagi seluruh angkatannya.    

'Bayu Rivertale!'    

Seorang mahasiswa senior sejarawan mitos yang dipercaya oleh para dosen sebagai jenius, hanya saja penyakitnya membuatnya lebih terkenal sebagai seorang tukang tidur dibandingkan seorang jenius yang harusnya mengharumkan namanya.    

master buku mengantukTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang