Sore hari di markas Mata Libra, Kota Kembang.
Bayu terbangun dari tidurnya, di ponselnya ia mendapati kalau pangajuan guildnya akan kelas avonturir Vanessa sudah disetujui oleh Federasi. Bayu pun berlalu turun ke lantai pertama dengan kursi terbangnya seperti biasa.
Sesampainya di sana, ia sudah melihat Vanessa yang kini kembali normal dan bersemangat berlari ke arahnya karena telah menunggu lama untuk registrasi. Ia begitu cemburu setelah melihat Margareth yang kini telah memakai anting libra di telinga kirinya. Vanessa merasa kalau dia belum memakai anting itu, dia masih belum resmi sebagai bagian dari Mata Libra.
Bukan hanya Vanessa saja yang merasa seperti ini, staf seperti Sukma dan Yudha pun merasakan hal yang sama. Hanya saja mereka juga tahu kalau anting itu akan sangat berharga bagi mereka yang bisa melepaskan aura, karena bisa mengaktifkan kemampuan perlindungan dari anting. Mereka yang hanyalah manusia normal biasa cuma akan membuang-buang harta berharga jika menerima anting itu.
Melihat ini tentu Bayu mengerti, dia sebenarnya sudah memesan anting dengan desain yang sama ke pengrajin anting Mata Libra, hanya saja kali ini sebagai aksesoris biasa tanpa kekuatan tersembunyi. Kalau tidak salah, Bayu mengingat anting itu akan dikirim sekitar tiga hari lagi. Jadi, para stafnya hanya bisa menunggu. Mereka tidak tahu akan hal ini, karena Bayu ingin membiarkannya sebagai kejutan.
Melihat Vanessa yang semakin tidak sabar dengan mata yang berbinar itu, Bayu langsung menyuruhnya untuk mendaftar ke Sukma. Ia juga memberitahu Sukma kalau Vanessa kini bisa diregistrasi sebagai avonturir kelas emas. Sukma mengerti lalu mengerjakan pendaftaran bersama Vanessa.
Bayu lalu pergi menuju konter bar, meminta segelas kopi dingin sebelum dia melirik ke arah sofa, menemukan Aarifa sedang bersantai di sana sambil menonton. Bayu pergi mendekat.
"Tumben sudah pulang masih sakit begini?"
"Hm? Ah~ Guildmaster, yaaaa, karena aku sudah dipecat dari klinik sana."
"Hah? Kenapa?"
"Hehe~ karena temanku ternyata tahu kalau aku bergabung dengan guild, jadi dia memberhentikanku supaya fokus saja di sini. Jadi tadi seharian, aku hanya menyerahkan pekerjaanku yang sedang kutangani kepada dokter yang lain. Dan yup! Sekarang aku akan di sini 24 jam! Tapi —kenapa Guildmaster bertanya kalau kamu bisa melihatnya di buku?
"Aku tidak selalu membaca bukumu. Untuk apa pula? Masih banyak buku yang harus kubaca selain kau."
"Hehehe~ mempertimbangkan Guildmaster akan selalu menguntitku..."
Bayu tidak mau menjawab soal itu, ia lalu berpaling ke berita di televisi. Ingin tahu apa yang sedang ramai di Nusa saat ini, tapi tidak disangka yang dia lihat adalah berita tentang pembantaian satu buah guild di Kembang. Tidak banyak yang diketahui tentang siapa dalang di balik pembantaian tersebut, namun bisa dipastikan kalau tersangka merupakan pembunuh profesional, karena semua korban dibunuh dengan cepat dan dengan satu serangan saja.
Anggota yang tersisa dari guild itu kini hanya berjumlah sembilan orang. Mereka selamat karena sedang menjalankan misi di luar markas. Saat ini kepolisian Kembang sedang berusaha mencari pelaku.
Bayu mendengar nama guild yang disebut dalam berita itu terasa familiar.
'Hayam Mahkota? Kenapa aku merasa pernah mendengarnya?'
'Aah~ hm… apa kita punya buku tentang guildmasternya?'
'Tolong cari tahu siapa pelaku pembantaian ini?'
Selagi Bayu menunggu kabar dari Ayu, ia kembali ke konter bar untuk mengambil kopi dinginnya yang telah tersedia di meja. Ia meminum kopi dengan nikmatnya sembari bertanya tentang rencana Margareth dan Vanessa setelah ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
master buku mengantuk
ActionKetika umurnya beranjak sepuluh tahun, Bayu tiba-tiba mendapati dirinya mengidap narkolepsi. Hidupnya yang dipenuhi tawa pun berubah menjadi kelam. Rasa kantuk selalu manghantui dirinya, membuat masa kecilnya lebih sering ia habiskan di kamar untuk...
