168

90 13 0
                                        

Administrator Bumi, Gaia, turun ke hadapan tiga pemilik kutukan dosa besar. Bayu the Sloth, Mary the Envy, dan Krata the Pride. Gaia melihat mereka bertiga dengan pandangan sejuk, karena baginya ke tiganya merupakan orang-orang yang spesial.    

Bayu terpukau melihat sosok Gaia, melihat sang malaikat membuat hatinya damai. Segala kebisingan di hatinya seraya tentram dan tenang. Bayu yang masih berada di mode pertarungan, serta merta menjadi sangat tenang, sebagaimana ia setiap hari.    

Mary di lain pihak bermuka masam melihat sosok yang sudah sangat lama tidak ia jumpai. Dan tidak mau ia bertemu lagi. Mary dan Bayu tidak mau mengucap sepatah kata apa pun. Mary karena masa lalunya dengan Gaia, sedangkan Bayu karena ia tidak mau berurusan apa pun dengan sosok pengawas Bumi itu.    

Bayu merasa kalau ia bertanya atau berkata, Gaia pasti akan membuatnnya melakukan sesuatu. Misalnya, menghentikan Lucionation atau mengembalikan dunia ke sebelumnya. Mustahil. Terlalu merepotkan. Makanya dia memilih diam dengan hati yang telah tentram.    
Berbeda dengan Bayu, Krata yang tidak bisa melihat apa pun, tidak bisa melihat sosok Gaia secara langsung, namun entah bagaimana ia bisa merasakan keberadaan sosok yang agung. Krata berbeda dengan Mary maupun Bayu, sebagai Ketua Union, nasib manusia berada di pundaknya. Oleh karenanya, Krata mengernyit.    
"Anda yang bernama Gaia?"    

Bayu dan Mary menoleh ke Krata yang melayangkan pertanyaan begitu saja. Bayu mengerut merasa kalau hal menyebalkan akan terjadi, jadi ia melangkah mundur menjauh.    

Tidak tampak adanya mulut di wajah Gaia, namun ke tiga orang di sana merasakan kalau sosok itu tersenyum pada mereka. Lalu suara yang sangat merdu tiba-tiba terdengar di dalam pikiran mereka.    

"Pride, apa yang sebenarnya hendak kamu tanyakan?"    

" … " Krata terdiam sejenak, mendengar suara Gaia di pikirannya, membuat seluruh tensi pada dirinya seraya menghilang begitu saja. Krata menghembuskan napas panjang.    

"Mereka bilang anda adalah administrator yang mengawasi Bumi. Jika benar, terus mengapa anda membiarkan semua ini terjadi pada manusia? Apa ini merupakan ujian dari Tuhan bagi kami?"    

Mary mengerut, "Bodoh sekali."    

Bayu menatap jauh ke langit, 'hmm, human supremacy terlalu kaku~'    

"Ujian dari-Nya? Apa yang kamu maksud dari 'kami' itu hanya manusia?"    

"… kalau bukan memangnya siapa?"    

"Manusia memang sempurna tapi bukan satu-satunya ciptaan-Nya. Apa karena itu kau menjadikan bangsa Mu sebagai penjahat umat manusia? Karena berbeda jenis, inikah pemikiran manusia zaman sekarang?" Tukas Mary memotong kesal.    

"Kayak zaman dahulu beda saja," Bayu menimpali omongan Mary.    

Gadis kecil menoleh melihat tajam Bayu, "Permasalahan utama waktu itu adalah kasta! Mereka bahkan ingin menjadi Tuhan! Kalian manusia dan bangsa Mu yang sama-sama mengalami perbudakan, kini saling bertengkar hanya karena ras. Konyol! Ketika mereka kembali, kalian akan menyadari betapa tololnya kelakuan kalian saat ini."    

"Jangan berkata seperti itu, kau tahu, kan? Kata-kata adalah doa. Aku tidak mau berurusan dengan mereka. Kalau Pilar terakhir benar-benar hancur, aku mungkin akan memilih tidur selamanya."    

"Keluargamu?"    

"…" Bayu memalingkan muka tidak sanggup menjawab.    

Krata mengerutkan wajahnya, banyak hal yang ia tidak mengerti. Tapi, dua orang yang bersama dia saat ini sepertinya tahu banyak akan hal yang tersembunyi di dunia.    

master buku mengantukTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang