Siang hari di markas Mata Libra di Kota Kembang.
Ratna masih tercengang dengan pernyataan Anggi, kalau guild Mata Libra memiliki dokter di dalamnya. Suatu hal yang hampir mustahil di dunia saat ini, ketika semua dokter berada pada naungan Asosiasi Kedokteran Dunia, yang berpihak netral dan tidak memandang kasta akan semua pasien yang mereka rawat. Asosiasi inilah yang membuat setiap dokter dan rumah sakit tidak masuk dalam jaring politik dan korupsi. Sehingga kini rumah sakit, bisa diakses oleh siapa saja, bahkan seorang gelandangan sekali pun.
Jadi bagaimana caranya ada dokter yang berada di satu guild? Sejarah mencatat setelah terbentuknya Asosiasi Kedokteran Dunia, hanya Persatuan yang mempunyai dokter dalam satu insttusi. Dan sekarang, Ratna secara tidak sengaja menemukan institusi kedua yang memiliki dokter? Bercandaan macam apa ini? Bagaimana mungkin Asosiasi memperbolehkannya?
Ratna bingung dan skeptis tentang hal ini, tapi melihat Anggi yang sudah lewat masuk, ia hanya bisa mengikuti dan melihat dengan mata kepalannya sendiri. Ratna masuk ke dalam rumah kayu itu, di dekatnya ia menarik Vanessa yang selalu terlihat terlihat.
'Aku tidak mau menyebut dia idiot seperti yang biasa dikatakan Anggi, tapi… Vanessa benar-benar tampak idiot saat ini.'
Setelah masuk, Ratna mendapati sebuah ruangan kosong yang cukup luas dengan banyak meja dan kursi seperti layaknya di sebuah kafe. Di samping kiri terdapat meja resepsionis, untuk mengatur segala kegiatan guild. Walau unik, karena meja tersebut memakai kayu yang tampak kokoh dan memberikan semerbak wangi alam. Hanya saja, tidak ada staf yang berada di belakang meja. Ratna berpikir kalau guild mungkin sedang diliburkan oleh Guildmaster Bayu, demi mengurusi masalah di Sentral.
Di tengah ruangan, hanya terdapat meja dan kursi yang tertata rapi, namun di depan sana, terdapat sofa yang ditata setengah lingkaran dengan sebuah televisi besar di depan sofa yang ditempel di dinding kayu bangunan. Ratna merasa kalau markas ini meskipun sederhana namun sangat nyaman untuk ditempati.
Ratna lalu berpalih ke sisi kanan ruangan, di sana terdapat konter bar, dengan berbagai minuman terjajar rapi di kabinet di belakang konter. Sama seperti resepsionis, di sana pun tidak ada bartender yang bekerja menunggui konter. Hal ini membuat Ratna semakin yakin kalau Mata Libra sedang libur. Dari seluruh ruagan yang kosong ini, Ratna hanya menemukan seorang wanita yang sedang tertidur di meja konter bar. Hanya seorang tidak ada anggota guild yang lain.
Ratna sedikit kecewa karena tidak bisa menemui banyak anggota guild Mata Libra yang lain. Ia selalu penasaran seperti apa anggota guild lainnya selain Guildmaster Bayu dan Anggi yang merupakan kelas platinum. Dia tidak berharap bertemu dengan kelas platinum lain, karena itu akan menjadi hal yang sangat gila bila terjadi, ia hanya berharap mungkin akan bertemu avonturir yang sekelas dengannya. Menambah koneksi dengan guild semacam Mata Libra tidaklah buruk, Anggi dan Bayu selalu membuatnya agak canggung, karena perbedaan kelas di antara mereka.
Walau Ratna sedikit kecewa, tapi ia mungkin rasa penasarannya bisa dipuaskan dengan sosok wanita yang sedang tidur itu. Dari tempatnya berdiri, ia bisa mendengar wanita itu mendengkur keras. Di tangannya terdapat gelas bir yang telah kosong dengan tiga botol bir tidak jauh dari gelas. Ratna berjalan mendekat ke meja konter bar, mendekati wanita itu, yang seraya terbangun ketika Anggi tiba-tiba mencengkram lehernya.
"Aw aw aw aw!"
Ratna terdiam melihat wanita itu masih meringis kesakitan setelah Anggi melepaskan cengkramannya.
"Kenapa kau malah minum? Bukankan sudah aku bilang kalau aku bakal datang?"
Wanita itu masih mengusap-ngusap tengkuk lehernya yang dicengkram kuat oleh Anggi. Ia lalu balik menengadah melihat perempuan berkacama hitam yang tampak penuh goresan luka di sekujur tubuh.
KAMU SEDANG MEMBACA
master buku mengantuk
AçãoKetika umurnya beranjak sepuluh tahun, Bayu tiba-tiba mendapati dirinya mengidap narkolepsi. Hidupnya yang dipenuhi tawa pun berubah menjadi kelam. Rasa kantuk selalu manghantui dirinya, membuat masa kecilnya lebih sering ia habiskan di kamar untuk...
