180

98 13 0
                                        

Satu bulan kemudian, markas Mata Libra, Kota Kembang.

Bayu akhirnya bangun dari tidurnya. Namun, seperti sebelum-sebelumnya, Bayu belum bisa banyak bergerak karena fisik tubuhnya telah melemah. Walau begitu, keberadaan Bayu dalam guild tetap menjadi suatu yang penting dan dinanti oleh setiap pegawai dan avonturirnya.

Selepas Bayu bangun, ia diperintahkan oleh Aarifa untuk mengistirahatkan diri dulu di kamar selama tiga hari sebelum boleh beraktifitas.

Tiga hari itu sudah terlewati, kini Bayu telah kembali ke kantornya. Tetap setia dengan kursi terbang kesayangannya, yang kali ini sangat berguna karena Bayu belum bisa berjalan jauh. Hal pertama yang dilakukan Bayu, adalah mendengarkan laporan dari Lamria dan Irina selama ia tidur meninggalkan guild.

Bayu sudah tahu apa isi laporan itu, sehingga dengan cepat Bayu langsung memberikan beberapa instruksi untuk Lamria. Salah satunya adalah memanggil Tazkia untuk datang menemuinya. Ada beberapa hal yang ingin Bayu bicarakan dengan kakak tirinya itu.

Selain Tazkia, Bayu pun memanggil Mirai ke ruangannya. Perempuan rubah itu menginginkan bantuan Mata Libra bila Benua Mu menghadapi kehancuran.

Tok tok

"Masuk."

Irina bersama seorang perempuan lain masuk ke kantor Bayu. Perempuan dengan telinga dan ekor rubah yang berbulu halus. Bayu menyuruh Irina untuk pergi, lalu menyilahkan Mirai untuk duduk.

Mirai sedari ia masuk, matanya tidak lepas dari sosok Bayu di hadapannya. Orang yang sudah lebih dari dua bulan ia tunggu, akhirnya muncul juga. Mirai hanya tidak menyangka kalau pemimpin dari para monster yang ada dalam guild adalah seorang lelaki muda, yang tanpa ekspresi, bermata sayu dengan gelak tubuh lemas.

Dari segala sudut ia lihat dengan matanya, Mirai melihat Bayu hanyalah manusia lemah biasa. Namun, hati dan tubuhnya berteriak ketakutan seraya melihat lelaki itu. Ini merupakan pertama kalinya Mirai merasakan hal seperti ini, insting liar dalam dirinya menyuruh ia untuk lari sejauh mungkin. Bertemu dengan Anggi dan Mary tidak membuatnya ketakutan seperti sekarang.

Mirai duduk dengan hati gemetar, keringat dingin mulai mengalir di punggungnya. Kalau Mirai tidak mengendalikan bulu di ekornya, ia yakin semua bulunya akan berdiri. Pemuda yang tampak lemah di depannya sudah Mirai cap sebagai sosok teror yang tidak boleh dimusuhi.

'Pemimpin dari para monster, memanglah seorang monster!'

"Kau yang bernama Mirai, kan? Aku dengar dari kerabatku kalau kau ingin membuat sebuah kontrak dengan Mata Libra?"

Mirai terdiam sementara, sebelum mengangguk mengiyakan.

"Kalian adalah satu-satunya grup yang mampu melawan Union, bahkan membunuh Kapten mereka hanya dengan empat orang. Itu suatu hal yang luar biasa, bahkan bagi kami dari Kerajaan Mu pun tidak bisa melakukan hal yang sama. Oleh karena itu, saya ingin kalian membantu kami."

Bayu melihat raut pucat dari perempuan di depannya.

'Apa dia ketakutan? Kenapa?'

"Tapi, bukankah kau tahu kalau kami juga manusia? Apa kau serius meminta ini pada kami?"

Mirai terdiam sejenak, merangkai kata yang ingin ia sampaikan di pikirannya.

"Tetapi kalian adalah guild. Walau hanya sebentar berada di sini, aku tahu kalau guild adalah organisasi yang menjungjung kebebasan. Tidak terikat dengan negara bahkan ras. Lagipula, yang saya inginkan adalah perlindungan kalian bila bangsa kami mendekati kehancuran. Bukan untuk melawan Union."

master buku mengantukTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang