119

94 15 0
                                        

Menjelang sore, sebuah mobil jip terbang tiba di depan stasiun lama dalam reruntuhan Kota Hujan. Sepasang lelaki dan perempuan turun dari mobil, memandangi bangunan tua yang telah tebengkalai termakan waktu. Tidak ada yang menunjukan tempat di depan mereka layaknya sebuah stasiun yang mereka kenal. Hanya tumpukan bebatuan dan bata yang sudah menyatu dengan alam.    

Si lelaki, Rakha, berjalan pelan melihat pagar bata yang sudah berantakan, di salah satu permukaan yang lapuk, ia meraba dan merasakan nama yang timbul dari permukaan itu.    

"Buitenzorg…" Rakha lalu melirik kembali bangunan yang tidak berupa di depannya, "Kalau Guildmaster tidak memberikan kordinat tempat ini, kita mungkin akan melewatinya."    

"Ini benar-benar sudah tidak terlihat seperti stasiun lagi. Rel keretanya pun tidak terlihat," Citra menimbali. Di tangannya, ia membawa sebuah tas gitar yang biasa Rakha bawa. Ia serahkan tas itu pada Rakha, yang seenaknya pergi tanpa membawa senjatanya.    

"Thanks! Sekarang bagaimana? Mau langsung masuk?" Tanya Rakha, menggendong tas gitarnya, sekaligus bertanya pada Citra.    

Citra mengangguk, "Hari masih siang, sebaiknya kita bergerak cepat. Siapa tahu kita bisa menemukan Rika atau Priam di dalam sana."    

Rakha memicing memandangi pintu depan stasiun, dari informasi yang diberikan Guildmasternya, setelah ia menginjakkan kaki di sana, maka ia akan masuk ke sebuah retakan dimensi. Di dalam sana tidak ada sinyal maupun listrik, sekali masuk ke sana ia tidak akan bisa berkomunikasi lagi dengan dunia luar. Rakha menganggukkan kepalanya, membuat dirinya teguh. Lalu berjalan ke pintu depan stasiun.    

Citra tersenyum melihat rekannya itu, ia membuka ponsel, mengirimkan pesan laporan ke Sukma kalau ia dan Rakha akan segera masuk ke retakan dimensi. Citra pun berjalan menyusul Rakha yang kini terdiam di depan pintu depan.    

"Kenapa diam? Mulai takut?" Nyengir Citra dengan nada menggoda.    

"Haaa~ ada kemungkinan mahluk legenda muncul di dalam sana! Walaupun kecil kemungkinannya… apa kamu tidak takut?"    

"Hehe~ tentu saja saya takut, tapi hidup itu tentang pengalaman. Apa kamu tidak penasaran sama kekuatan mahluk fantasi legendaris tersebut?"    

Rakha mengerutkan wajahnya, menolak tanpa pikir panjang, "Tidak! Terlalu penasaran bisa membuatmu mati, aku masih sayang nyawa."    

Citra tertawa, ia lalu menarik lengan Rakha membawanya masuk bersama melewati pintu. Semerta mereka melewati pintu depan, tubuh mereka merasakan seperti melewati suatu lapisan membran yang lembut.    

Citra dan Rakha pun seketika membelalak, setelah mendapati kondisi dalam bangunan di depannya, yang seharusnya hancur lebur kini berdiri tegap nan kokoh. Mereka tahu, kalau sekarang mereka telah berada di dalam retakan dimensi.    

"Stasiun Buitenzorg…" gumam Rakha yang membaca plang yang tergantung pada langit-langit bangunan.    

"Ayo," Citra berjalan lurus memasuki area rel kereta dengan raut serius. Namun, terkejut ia dibuatnya, bukanlah peron atau rel yang ia lihat di sana. Melainkan ribuan bangunan rumah berhamparan sejauh mata memandang. Langit yang tadinya biru pun kini berubah hitam namun entah bagaimana caranya, di luar sana tetaplah terang, walau agak suram.    

Rakha yang baru saja menyusul pun semerta menganga lebar.    

"I-ini—jangan bilang kalau kita harus mencari Rika atau Priam di bawah sana?"    

Citra memicingkan matanya, melihat seluruh keadaan desa atau kota yang hening.    

"Hei! Kalian siapa?!"    

master buku mengantukTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang