Tembok selatan Kota Sentral.
Putih yang sudah hampir lima jam memperhatikan Tembok mulai suntuk. Dia tahu kalau bantuan dari luar Nusa tidak akan muncul begitu saja, karena, misalkan dari pasukan dari Kembang, setidaknya membutuhkan waktu minimal delapan hingga sepuluh jam agar bisa sampai ke Sentral. Itu pun kemungkinannya dengan persiapan yang kurang matang. Sehingga White yakin betul kalau bantuan nanti akan sangat lemah.
Putih diserahkan ke pasukannya yang tersebar di sekitar tembok, dan yang berterbangan di langit. Pasukan Beastmaster di atas sana, termasuk ke dalam pasukan milik Divisi Kelima yang dipimpin Putih.
Putih melihat mereka, mengira-ngira kekuatan mereka sehingga ia tahu kalau setidaknya dengan kekuatan yang ada di Divisi Kelima sudah cukup untuk memberikan bantuan bala bantuan nanti bila ia tidak ada.
White lebar tersenyum di balik topengnya. Ia kemudian beralih ke Kota Sentral yang meski samar, namun masih terdengar suara peperangan di berbagai sudut kota. Diterbitkan dan segera menarik perhatian kota yang bagi White tampak seperti sebuah festival. Ia lalu menoleh ke arah Kota Tua berada.
Kota Tua, sebuah situs sejarah yang terdapat di dalam Kota Sentral. Menurut kisah mitos milik Lucionation, salah satu kemungkinan tempat Pilar Dunia berada di sana. Banyak tempat di Nusa yang mereka pikirkan, tapi pada akhirnya memilih Kota Tua sebagai salah satu kemungkinan terbesar. Karena letaknya yang berada di pusat pemerintahan Negara Nusa yang bahkan sudah menjadi pusat sebelum Nusantara terbentuk.
Hal lain yang menguatkan pendapat mereka adalah tidak tenggelamnya Kota Sentral. Sejak dahulu kala, ketika Nusa masih berupa Nusantara, banyak ahli meramalkan kalau Sentral akan tenggelam. Namun sudah ratusan tahun berlalu dan prediksi itu juga tidak terjadi. Mengetahui hal ini, para penjelajah mitos di Lucionation berpendapat kalau ada sesuatu yang menopang daratan Sentral di bawah sana, yang akhirnya disepakati bersama kalau sesuatu tersebut bisa saja berupa Pilar Dunia.
'Hmm… mencari langsung Pilar ke bawah sana akan membutuhkan banyak waktu, tapi aku bisa memprediksinya dulu sekarang, setidaknya untuk mengetahui apakah Pilar itu ada di sana atau tidak.'
White menoleh ke wakil pemimpin Divisi Kelima yang berdiri di sebelahnya.
"Aku akan pergi sebentar. Awasi saja, panggil aku jika terjadi keadaan darurat. Dengan kekuatan kalian, itu sudah lebih dari cukup untuk menimbulkan bala bantuan yang akan datang."
"… kamu mau ke mana, Komandan White?"
"Jalan-jalan, melihati medan pertempuran. Hehehe~ siapa tahu ada yang menarik. Terlalu membosankan berdiam diri di sini, sedangkan lihat! Para komandan lain sudah bersenang-senang. Tidakkah kau berpikir mereka curang?"
Wakil komandan Divisi Kelima seraya bertatap kosong mendengar ucapan pemimpinnya. Sejak awal White muncul hingga saat ini, ia masih belum bisa menebak isi pikiran dari pemimpinnya itu.
Wakil dari White ini bernama Rial. Dia adalah salah satu buronan kelas kakap Nusa dengan julukan Master Monyet. Sama seperti Yanto, ia direkrut oleh Endra untuk bergabung ke ASAD. Di ASAD, posisi awalnya adalah pemimpin pasukan Divisi Kelima, setidaknya sampai pada akhirnya White muncul dan mengambil alih jabatannya.
Kekuatan White bagi Rial tidak terbantahkan. Ia bahkan menilai kalau White adalah orang terkuat yang pernah ia temui. Melebihi Arvi si Puteri Bulan yang pernah berkonfrontasi dengannya, sebelum akhirnya Rial berhasil kabur.
"Komandan White, kuharap anda menikmati jalan-jalannya. Akan kupastikan tidak ada musuh yang menembus Tembok."
"Bagus, bagus, kuserahkan padamu, Rial."
KAMU SEDANG MEMBACA
master buku mengantuk
AksiKetika umurnya beranjak sepuluh tahun, Bayu tiba-tiba mendapati dirinya mengidap narkolepsi. Hidupnya yang dipenuhi tawa pun berubah menjadi kelam. Rasa kantuk selalu manghantui dirinya, membuat masa kecilnya lebih sering ia habiskan di kamar untuk...
