Sehari setelah hari pertama Guild Fair. Empat orang mahasiswa berkumpul di depan gerbang kampus Universitas Sunda, menunggu mobil terbang yang pesan mereka. Empat orang ini adalah, Citra, Sasha, Roxanne dan seorang lelaki yang tidak terduga bersama mereka, Rakha, yang seperti biasa tetap membawa tas gitar di punggungnya.
Mereka berempat sudah berniat untuk bergabung ke Mata Libra, berbeda dengan guild emas dan perak yang biasanya mendaftarkan dulu nama para calon anggota, sebelum diseleksi lagi di hari esoknya, setelah dipastikan lulus, barulah para calon akan ke markas guild dan berhasil mendaftar sebagai avonturir di sana. Sedangkan pada Mata Libra, karena memang sepi yang mendaftar, Bayu tidak perlu menyeleksi apa pun. Baginya, asalkan mereka serius dan setia, mau mereka lemah pun akan diterima.
Setia, ini adalah sesuatu yang diinginkan Mata Libra. Setelah Sukma membentak ke tiga perempuan yang memandang rendah Mata Libra yang menganggap guildnya sebagai tempat permainan, yang bisa keluar masuk seenaknya, mereka bertiga tidak bisa berkata apa-apa. Sasha ingin menyanggah, tapi Citra terhenti. Berkata kalau dia tidak akan keluar jika dipaksakan sekali pun, hal ini membuat Sasha dan Roxanne mengukuhkan niatnya kembali. Menemani sahabatnya Citra, walau masa depan akan datang nanti.
Sedangkan Rakha…
"Hmph! Kenapa kamu juga ikut gabung?" Roxanne berbaur, kepada lelaki yang tidak jauh darinya.
“Pilihanku bukan urusanmu, cebol.”
"HUUUH?! Apa yang kamu bilang? Dasar pecundang!"
"Haaaa~ mereka berantem lagi, kenapa Rox selalu ingin mengajaknya ribut?" Sasha yang sudah capek pada hari kemarin, pusing melihat tingkah temannya.
Citra lebih tidak peduli lagi, dia kini hanya ingin segera ke markas Mata Libra, mendaftar lalu bekerja keras demi mendapatkan artifak yang diinginkannya. Ketika kemarin dia bertanya pada Yudha, artefak legendaris apa yang sebenarnya mereka punya. Lelaki itu hanya bilang kalau dia akan tahu sendiri setelah bergabung.
Tidak berselang lama, dua mobil terbang datang. Sasha melihat Roxanne dan Rakha masih bersuara, menahan kepalanya, menarik Citra masuk ke salah satu mobil, lalu berangkat meninggalkan temannya.
"Hah? SASHA! Jangan tinggalin!"
"…"
"Kamu sih bikin marah aja!"
"Apa urusanku dasar kurcaci," jawab Rakha, berjalan masuk ke mobil terbang.
Roxanne mengikuti, menendang paha Rakha agar menjauh, "Minggir kepala rumput laut! Duduk di pojok sana, aku gak mau dekat-dekat kamu!"
"Haaa…"
Ke dua mobil pun berangkat ke markas Mata Libra. Sedangkan Bayu, Yudha dan Sukma, sudah berada di gedung acara Guild Fair, yang masih diadakan selama dua hari lagi. Jadi registrasi ke tiga anggota baru itu akan dilakukan oleh Darius atau Mutia.
Sesampainya dua mobil terbang di depan markas, ke empat orang turun dari mobil, tertegun melihat lokasi markas yang ada di antah berantah. Satu bangunan kayu yang tampak sederhana dikelilingi oleh hutan pohon pinus, dan sebuah jurang di jauh sana.
"Kenapa mereka mendirikan markas di sini?" Tanya Roxanne.
"Saya tidak tahu kalau ada tempat seperti ini di Kembang," ujar Sasha.
"Tempat ini… tentram dan damai," tutur Rakha, yang merasakan tempat yang mereka singgahi seperti terisolasi dari keramaian dan konflik di luar sana.
"…" Citra diam mengamati, menikmati udara sejuk, sebelum mulai berjalan masuk ke markas. Ke tiga orang mengekor mengikuti dari belakang.
Masuk ke markas mereka mendapati ruangan lobi yang dipenuhi meja seperti kafe, dengan konter bar di samping kanan, meja resepsionis di kiri dan sofa serta televisi di depan sana.
KAMU SEDANG MEMBACA
master buku mengantuk
ActionKetika umurnya beranjak sepuluh tahun, Bayu tiba-tiba mendapati dirinya mengidap narkolepsi. Hidupnya yang dipenuhi tawa pun berubah menjadi kelam. Rasa kantuk selalu manghantui dirinya, membuat masa kecilnya lebih sering ia habiskan di kamar untuk...
