83

81 15 0
                                        

Dalam stasiun bawah tanah yang terang oleh cahaya kuningnya yang membutakan mata. Dimitri tertawa terbahak-bahak, melihat Anggi yang telah habis terlahap oleh serangan pamungkas miliknya. Setidaknya itu sudah ia pikirkan sebelum cahaya terang meredup, menampilkan seisi stasiun yang luluhlantak sehingga tak dikenal lagi, dengan sebagian ruangan telah runtuh.    

Namun yang membuat Dimitri membelalak tidak percaya adalah sosok Anggi yang masih hidup, berdiri di tengah serangan meski luka-luka telah menghiasi sekujur tubuhnya.    

'Bagaimana mungkin dia masih bisa hidup?!'    

Dimitri sungguh terkejut melihat Anggi yang masih berdiri bernapas seperti biasa. Serangan yang seharusnya bisa menghantui seorang avonturir kelas platinum itu, tidak disangka mampu ditahan oleh perempuan.    

Anggi sendiri tentu tidak berhasil bertahan tanpa ada luka sama sekali. Pada tubuhnya yang atletis, tampak banyak luka goresan yang mengalirkan darah yang tidak terhitung jumlahnya. Di bagian bahunya pun terlihat daging di bahunya terlihat terkikis menampilkan sedikit putihnya tulang. Pakaian yang dikenakan Anggi kini sudah compang camping dengan lubang di mana-mana, serta kacamata hitam yang selalu ia pakai, lensanya telah retak dan hancur.    

Anggi menutup mata lingkungannya, yang sudah tidak tertutupi oleh lensa. Melepaskan kacamata dan membuangnya ke samping. Anggi menengadah melihat Dimitri yang masih terbang melayang meski tampak agak sempoyongan. Walau tampak teratur, sebenarnya Anggi merasakan napasnya berat, ia tidak mengira kalau serangan yang ia terima akan menyetujuinya.    

Anggi mencoba melemaskan otot lengan lehernya, menggerakan tangan merasakan kondisinya yang masih bisa ia gerakan dengan normal, meski pun ada rasa perih yang selalu mengikuti. Anggi sebenarnya tidak dapat menahan seluruh serangan Dimitri, namun ia beruntung karena anting Mata Libra di telinga kirinya.    

Ketika Maya memberikan anting itu sebagai hadiah, dia berkata kalau anting libra itu merupakan aksesoris khusus yang dibuat oleh seorang ahli pengrajin yang membuat anting layaknya artifak. Oleh karena itu, kini anting yang akan dipakai oleh setia[ anggota Mata Libra ini memiliki kemampuan khusus, yakni dapat satu kali menyerap serangan lawan apa pun itu. Dan ya, hanya bisa dipakai satu kali.    

Pada situasi tadi, mau tidak mau akhirnya Anggi menggunakan kekuatan khusus antingnya, dan kini anting yang awalnya berwarna perak itu berubah menjadi merah. Untuk mengubah kembali anting seperti semula, ia harus pergi ke pembuat anting, untuk mengeluarkan energi yang telah diserapnya, dan kekuatan anting pun akan bisa kembali dipakai.    

"Kuat sekali seranganmu tadi, tapi sepertinya seranganmu itu membuatmu kehabisan aura."    

Sejujurnya, Anggi merehkan serangan Dimitri dan berpikir bisa menahannya dengan tubuh yang ia selubungi dengan aura. Tapi ternyata prediksinya salah besar, akibatnya muncullah semua luka yang bisa dilihat di sekujur tubuhnya, dan barulah setelah itu ia aktifkan anting Mata Libra dan berhasil selamat.    

Dimitri mulai berkeringat deras, seluruh tubuhnya berteriak kesakitan, belum lagi aura yang dibilang hanya tinggal beberapa tetes. Napasnya sudah tidak beraturan lagi, apalagi ketika dia melihat Anggi yang masih bisa tersenyum lebar menantangi dirinya. Dimitri mulai membelalak marah, ia alirkan seluruh sisa aura pada [Talaria] dan pedang laser yang merupakan senjata yang cuma bisa ia gunakan sekarang, karena kekurangan aura untuk pistol.    

Seketika Dimitri menghilang, bergerak melebihi kecepatan cahaya menyerang Anggi. Pedang laser dalam sekejap akan memenggal leher perempuan itu sebelum selintas ia melihat mata kanan Anggi yang telah terbuka.    

Walau selintas ia melihat mata kanan perempuan itu, tubuhnya tiba-tiba merasakan kengerian tidak terbendung. Mata itu, seluruh bola matanya hitam pekat seperti perkumpulan kegelapan dengan satu titik putih kecil yang menatap padanya.    

master buku mengantukTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang