171

95 14 1
                                        

Markas Mata Libra, Kembang.    

Seminggu telah berlalu sejak pertarungan di Samudra Pasifik berakhir. Mata Libra akibat putusan yang diberikan oleh Federasi Dunia secara instan telah dinaikkan pangkatnya menjadi emas. Tidak ada satu pun pihak yang menolak putusan ini. Karena sebuah guild dengan kekuatan seperti Mata Libra tidak bisa hanya sekadar perunggu. Jika ada orang yang tidak tahu apa-apa dan mencari gegara dengan guild itu, maka akan panjang masalahnya.    

Mata Libra sendiri menerimanya dengan senang hati, Lamria dan Anggi mengunjungi Federasi Nusa untuk mengerjakan segala proses dokumentasi formal.    

Bukan hanya itu saja, selama seminggu ini Lamria dan para pegawai sangat sibuk dengan banyaknya tamu yang terus berdatangan. Sukma yang selalu merasa kalau lobi selalu sepi, kini merasa bahagia. Setiap ada tamu yang datang ke mejanya, perempuan itu akan selalu menyambutnya dengan senyum sumringah dan mata berbinar.    

Di lain pihak, Mutia yang masih harus berjibaku di dapur semakin kesal karena guild masih juga belum bisa memperkerjakan seorang chef. Bagian bar sudah bisa diberikan kepada suami Margareth, namun untuk dapur tidak ada yang bisa melakukannya selain dia. Apalagi dengan banyaknya tamu dan pesanan yang semakin banyak membuat ia hampir lupa posisi orisinalnya.    

"Kenapa aku melakukan ini? Aku bukan chef!"    
Para pegawai dapur lain, selalu merinding bila berada di dekat Mutia. Karena hawa yang diberikan oleh pegawai itu kini begitu menyeramkan.    

Di tempat lain, pembangunan markas pun sudah beres. Klinik dan wisma sudah diperbesar, taman dan pekarangan telah jadi, membuat markas Mata Libra menjadi semakin asri. Aruna bersama putra Margareth yang kini tinggal di wisma, Paul, selalu bermain di taman. Dengan adanya Paul, Aruna tidak menjadi satu-satunya anak kecil di guild lagi.    

Aruna dan Paul mereka berdua selalu ke mana-mana bersama. Lamria dan Margareth bahkan sudah mulai merencanakan memasukkan ke duanya ke sekolah dasar di Kembang pada semester berikutnya.    

Guild Mata Libra berjalan sangat baik saat ini. Bahkan bisa dibilang sangat lancar dengan banyaknya misi dari klien yang terus berdatangan. Namun, dengan keterbatasan avonturir yang di miliki, para staf pada akhirnya sudah mulai memilah misi yang akan diterima guild. Karena tidak mungkin guild mereka mampu menyelesaikan seratus misi setiap hari. Dipaksakan pun, itu tetap mustahil.    
Dengan pesatnya pertumbuhan ini, Lamria agak kelimpungan. Tadinya ia berniat untuk melangkah sedikit demi sedikit hingga bisa mencapai top. Tapi, sepertinya ia sedikit merendahkan daya pikir Bayu.    

Bayu pernah berkata kalau urusan mencari jalan untuk ke kancah dunia akan ia urusi. Tapi hasilnya, jangankan sekadar jalan, yang dilakukan Bayu malah terbang.    

Sekarang karena petarungan yang Bayu lakukan, Mata Libra kini mejadi guild yang diwaspadai di dunia. Berbeda dengan Nusa di mana banyak kelompok yang ingin bekerja sama, dunia malah sebaliknya, banyak kelompok yang ingin menjatuhkan mereka.    

"Hanya dalam beberapa hari guild ini yang asalnya masih sekadar anak kecil sekarang telah menjadi pria dewasa."    

***    

Malam hari, pada suatu kediaman di Nevada.    

Seorang pria paruh baya tampak berlari panik di sepanjang lorong. Wajahnya pucat dengan baju bersimbah darah. Bukan darah miliknya, melainkan darah dari para keluarga dan pengawalnya.    

Malam ini seharusnya menjadi malam yang penting bagi pria itu, karena dia baru saja menandatangani kontrak pembelian senjata mutakhir dari Darkmall, sebuah tempat di mana barang-barang ilegal di seluruh dunia diperjualbelikan. Dan kali ini pria itu berhasil membeli sebuah senjata rahasia Union.    

master buku mengantukTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang