80

90 13 0
                                        

Pada sebuah stasiun bawah tanah yang sudah terbengkalai, tim penyelamat yang berpisah dengan Anggi, tidak menyangka kalau mereka akan bertemu dengan Dimitri. Untungnya berkat Priam, mereka dapat menghindari hal terburuk yang bisa terjadi. Intan dan Ratna hampir saja terbunuh kalau Priam tidak sigap melindungi mereka.    

Priam setelah menyelamatkan Ratna, mengembalikan kembali panjang pedang rapiernya ke ukuran semula. Pedang yang dia gunakan saat ini adalah artifak langka berupa [Pierce Rapier]. Priam menengadah melihat Dimitri yang terbang dengan senyum lebar yang menyeramkan. Di sana dia melihat Dimitri telah menodongkan muka pistol padanya, Priam langsung menghindar dengan cepat lalu kembali menusuk Dimitri dengan pedangnya yang memanjang.    

Dimitri menghindar, ia lalu terbang mendekat ke Priam, sembari mengambil sebuah benda berbentuk silinder yang ukurannya sama dengan gagang pedang. Dimitri mendekat ke Priam perlahan sambil menembakan laser terus menerus, yang oleh Priam berhasil dihindari. Dimitri menyeringai.    

Ketika jarak antar mereka kurang dari sepuluh meter, Dimitri seketika menghilang dari pandang Priam. Orang itu tiba-tiba sudah berada di belakang Priam dengan pedang laser yang merupakan benda silinder yang tadi ia ambil.    

Dimitri menusukan pedang itu mengarah ke jantung Priam, yang bisa dihindari oleh Priam pada detik terakhir, tetapi pedang itu tetap menusuk ke pundak kirinya.    

"Ugh!"    

Priam merasakan panas tak terkira dari pundaknya, dengan menggertakkan gigi, ia pegang tangan kiri Dimitri yang memegang pedang dengan erat, sebelum orang di depannya kabur.    

Dimitri tertahan, lalu dari belakangnya ia merasakan keberadaan seseorang yang menyerangnya, tanpa pikir panjang Dimitri langsung merunduk, menusukan pedangnya lebih dalam lagi ke badan Priam hingga tertembus dan menancap ke tanah di bawahnya.    

Dari tempat asal kepalanya tadi, Dimitri dapat melihat sebuah ayunan palu yang baru saja tiba. Pandu yang sadar serangannya tidak berhasil, melihat Dimitri yang menyeringai padanya. Ia lalu melihat orang itu menendang perutnya mendorongnya terjungkal.    

Pandu terdorong agak mengangkat di udara, perutnya agak sakit setelah tertendang, namun kemudian dia melihat sekilas sinar laser menembus perutnya.    

"! … uak!" Pandu terjatuh, sambil mengerang menaham perih di perut yang mulai mengalirkan darah keluar.    

Dimitri yang telah menembak Pandu, langsung berdiri, mencabut pedang dari pundak Priam lalu menendang badan Priam hingga terbang menabrak dinding terowongan.    

Setelah itu, Dimitri kembali menembakan laser ke samping kanan. Tembakan laser itu saling berbenturan dengan tembakan laser lain yang membuat ke dua sinar menghilang begitu saja. Dimitri melihat sosok perempuan yang menggunakan senjata laser sepertinya. Walau menurutnya, senjata laser yang dipakai avonturir perempuan itu memiliki kualitas yang lebih rendah dari pada yang ia pakai.    

"Jarang melihat avonturir kelas emas menggunakan senjata militer. Kau cukup menarik."    

Dimitri menembakan kembali lasernya, yang segera ditangkis oleh tembakan dari Intan. Perempuan itu lalu bergerak menjauh sembari menembakan beberapa laser dari pistolnya, semua tembakan yang ia lakukan, kalau tidak dihindari akan ditangkis oleh Dimitri dengan mudah. Dan musuhnya itu tidak bergerak banyak sama sekali, ia hanya berdiam di tempatnya, dan melangkah sekali untuk menghindari serangan Intan.    

Intan merasa frustasi. Di mata Intan kali ini, ia melihat Dimitri sebagai seseorang yang merupakan versi ideal dirinya. Walau hanya sekejap bertarung dengan lelaki itu, ia tahu kalau Dimitri memakai cara yang sama dengannya ketika bertarung.    

master buku mengantukTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang