Malam hari, di kediaman keluarga Greymount, Sentral.
Lamria masih menunggui kabar dari para avonturir tentang pencarian putrinya. Jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam, para asisten rumah tangganya kini mulai cemas kepada kondisi atasannya, yang sejak tadi siang bahkan belum menyentuh sedikit pun makanan.
"Nyonya, hawa malam sudah terlalu dingin, sebaiknya Nyonya tunggu di dalam saja," pinta seorang asistennya yang semakin khawatir.
Lamria menggelengkan kepalanya, "Aruna di luar sana juga pasti kedinginan, saya tidak tahan merasakan kehangatan di dalam sana."
"Tapi Nyonya, jikalau Nyonya sakit karena kedinginan, Nona Aruna akan cemas ketika nanti ia pulang."
Lamria memandangi wajah asstennya itu, matanya mulai berkaca-kaca menahan air mata.
"Apa—apa Aruna akan pulang?" ucap Lamria lirih, semakin hari, harapannya sedikit demi sedikit terkikis. Tidak ada satu pun kabar baik yang ia dengar, mau tentang putrinya maupun tentang keluarganya. Lamria menunduk, menggigiti bibir bawahnya, berusaha tegar menanti putrinya. Tangannya tidak mau melepaskan harapan akan putrinya masih hidup.
"Nona Aruna pasti selamat, Nyonya. Lima guild emas sudah pergi mencari Nona Aruna, mereka yang terbaik di Nusa, mereka pasti menemukannya."
"Tapi ini sudah TIGA HARI! Sebentar lagi, beberapa jam lagi, akan menjadi hari keempat! Apa mereka benar-benar terbaik?!" Lamria mengeraskan suara menimpali omongan asitennya, ia beranjak dari kursinya sejenak, namun lalu duduk kembali dengan lunglai.
"Oh, Tuhan! Saya hanya ingin kabar yang bisa dijadikan harapan, namun realita berkata lain. Tidak ada kabar apa pun, mencari dan mencari, lalu mencari lagi. Apa yang seharusnya saya percayai?! Apa yang seharusnya saya lakukan?" ucap Lamria lirih. Kini air matanya tidak bisa dibendung lagi, tetes demi tetes mulai membasahi gaun putihnya. Lamria tertunduk, melihati lingkaran-lingkaran basah kecil yang terbentuk akibat air matanya.
"Umm—apa saya mengganggu?"
Tiba-tiba suara perempuan terdengar tidak jauh dari depan Lamria. Serentak para petugas keamanan, mengeluarkan pistolnya ke arah seorang wanita paruh baya di depan sana.
"Siapa kau?!" Teriak seorang petugas.
"Umm, saya Ratna, avonturir dari guild Ishvara, kemari ingin memberikan kabar untuk Nyonya Greymount," jawab Ratna sembari mengelurkan kartu avonturir berwarna emasnya sebagai bukti.
Salah satu asisten Lamria melambaikan tangannya, menyuruh para petugas keamanan menurunkan senjata. Ia lalu memandangi Ratna, "Kenapa malam-malam begini?"
Ratna tersenyum, "Guildmaster Selina mengirim saya setelah memperkirakan kalau Nyonya Greymount masih menunggui di malam dingin seperti ini. Guildmaster berkata kalau dia juga mempunyai anak, dan mengerti perasaan Nyonya Greymount."
Lamria menaikan kepalanya yang tertunduk, ia mengusap air matanya, mengingat temannya Selina yang sudah ia kenal sejak Selina masih seorang avonturir kelas perak. Lamria sedikit menyunggingkan senyum atas perhatian teman lamanya ini.
"Apa ada informasi tentang perkembangan misi?" Tanya Lamria, walaupun ia tahu kalau tidak ada sama sekali, setelah mendapat berita tadi maghrib
Ratna menurunkan senyumnya, kini rautnya serius, "Sejujurnya, walau Guildmaster tahu perasaan Nyonya, tapi dia tahu juga kalau sebaiknya Nyonya dihadapkan pada kenyataan saat ini."
Mendengar ini, jantung Lamria langsung berdegup kencang, ia menenangkan napasnya. Entah bagaimana, Lamria tahu kalau hanya hal buruk yang akan didengarnya dari mulut Ratna. Ia mempersiapkan dirinya, wajahnya kini serius dengan aura wibawa seorang nyonya dari keluarga besar. Mengangguk, menyuruh Ratna meneruskan perkataannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
master buku mengantuk
ActionKetika umurnya beranjak sepuluh tahun, Bayu tiba-tiba mendapati dirinya mengidap narkolepsi. Hidupnya yang dipenuhi tawa pun berubah menjadi kelam. Rasa kantuk selalu manghantui dirinya, membuat masa kecilnya lebih sering ia habiskan di kamar untuk...
