Kota Sentral.
Kudeta dari pasukan ASAD yang dipimpin oleh Endra Greymount terus berlangsung. Hampir satu jam akan berlalu sejak siaran langsung Endra disiarkan. Situasi di dalam Sentral semakin kacau. Para pasukan polisi dan tentara Sentral bertarung dengan pasukan ASAD dengan sengit.
Mayoritas warga Sentral beruntung karena mereka menuruti perintah Presiden Jihan untuk evakuasi dari kotanya. Karena saat ini, keadaan Sentral menjadi sangat berbahaya bila mereka masih ada di sana. Bukan saja karena pertarungan yang saat ini terjadi, tetapi juga ancama nuklir yang bisa menghabisi seluruh Sentral bila ASAD gagal melakukan kudeta setelah 24 jam atau pasukan Nusa gagal menghentikan aksi ASAD.
Hanya ada sekitar dua puluh persen warga Sentral yang tidak mengikuti perintah Jihan. Mereka adalah yang bersikukuh terhadap pendiriannya untuk tidak meninggalkan rumah mereka. Orang-orang itu menganggap perintah dan ancaman Britania yang dibicarakan Jihan hanyalah sekadar konspirasi kaum elit semata.
Sekarang, menghadapi situasi menegangkan di depan rumah mereka, para warga yang tidak memilih evakuasi, kini menyesali keputusan mereka.
Walau begitu, para warga itu tetap menyalahkan pemerintah yang tidak becus mengamati kalau ada pihak yang ingin mengkudetanya. Sehingga menjadikan mereka warga yang tidak menurut menjadi korban.
Satu jam berlalu…
Endra kembali menayangkan siaran langsung ke seluruh saluran nasional. Kali ini dia duduk di kursi dengan kamera yang merekam lebih rendah, sehingga memperlihatkan Endra yang melihat kamera atau para penonton dari atas sana. Memperlihatkan kalau Endra kini telah menjadi orang paling atas.
Dalam siaran, Endra kembali mengingatkan warga Nusa kalau kepemimpinan Nusa telah berganti. Dia juga kembali meminta Jihan untuk datang. Setelah itu ia meminta satu orang dari para sandra untuk berjalan maju lalu menunduk sujud di depan Endra. Endra tersenyum lebar.
"Jam pertama, nyawa pertama. Jihan… berkat ketidakbecusanmu menuruti perintahku datang kemari, satu dari bawahanmu akan mati."
Endra lalu berpaling ke lelaki gendut yang bersujud di depannya.
"Salahkan pemimpinmu yang pengecut itu."
Bang!
Endra menarik pelatuk, melubangi kepala dari salah satu delegasi Kementerian Keuangan. Mayat lelaki gendut itu lalu diperlihatkan dalam siaran, memerlihatkan lelaki itu telah terbujur kaku dengan mata melotot dan darah mengalir mulai menggenangi tubuhnya.
"Kita akan bertemu lagi dalam satu jam berikutnya. Semoga hari kalian menyenangkan, masyarakat Nusa."
Siaran pun selesai. Saluran televisi kembali seperti semula. Para warga syok melihat siaran itu, karena Endra tidak segan-segan memperlihatkan dirinya membunuh langsung sandera di depan kamera. Mereka para orang tua, harus segera menutupi mata anak-anaknya untuk menghindari terbentuknya trauma.
Media-media di Nusa pun kembali ramai. Semua portal media memberitakan soal kudeta ASAD yang sedang berlangsung di Sentral. Begitu pula dengan media luar, mereka tidak mau ketinggalan memberitakan tentang kejadian ramai yang terjadi di negara tempat Mata Libra berada.
Beberapa media luar bahkan secara terang-terangan langsung memberikan tajuk.
'Di mana Mata Libra?'
Ketika negaranya sendiri dalam kesulitan, batang hidung satu guild yang dibesar-besarkan oleh media sebagai guild yang setara dengan Union tidak dapat terlihat sama sekali. Di mana mereka? Apa mereka tidak akan berkorban hanya karena urusan negara bukanlah urusan mereka? Apa ini guild yang disebutkan pernah mengalahkan Union yang selama ini selalu melindungi manusia?
KAMU SEDANG MEMBACA
master buku mengantuk
ActionKetika umurnya beranjak sepuluh tahun, Bayu tiba-tiba mendapati dirinya mengidap narkolepsi. Hidupnya yang dipenuhi tawa pun berubah menjadi kelam. Rasa kantuk selalu manghantui dirinya, membuat masa kecilnya lebih sering ia habiskan di kamar untuk...
