Siang hari sekitar jam sebelas di markas Mata Libra, Kembang.
Bayu yang telah bangun, turun ke lobi dengan Aruna yang duduk di pahanya. Bayu sebelumnya telah mengajak Aruna untuk merahasiakan identitasnya sebagai Panji dan tentang kursi terbang yang dipakainya. Dengan menyilangkan jari kelingking, Aruna terkekeh karena bisa menyimpan rahasia penting layaknya orang dewasa. Ia hingga sebelum keluar kamar Bayu pun terus memandangi jari kelingkingnya dengan mata berbinar. Aruna baru menurunkan jarinya setelah diperingatkan Bayu dengan mencubit hidung kecil Aruna.
Sesampainya Bayu di lobi, ia melihat situasi lobi yang masih ramai. Kemudian memindai dan menemukan Lamria di salah satu meja.
"Itu Mamamu," ujar Bayu menyadarkan Aruna yang melihat sekitarnya dengan mata berbinar-binar.
"Hm? Mama?"
Suara imut Aruna tidak terlalu keras, namun cukup lantang untuk didengar oleh seluruh orang yang hanya mencapai belasan di sana. Mendengar suara familiar putrinya, Lamria seketika berdiri, melirik ke asal suara, menemukan anaknya berada di pangkuan Bayu.
"Aruna!" Lamria semerta berlari.
"Mama!" Aruna, tidak turun dari pangkuan Bayu, ia hanya melambai-lambaikan tangannya saja.
Lamria menghampiri, langsung mengangkat Aruna, memeluk erat sebelum akhirnya mencium ke dua pipinya.
"Aruna, apa kamu baik-baik saja, sayang?"
"Mm," Aruna geli tertawa kecil, lalu mengangguk dengan semangat, "Aruna baik, banyak kakak yang main sama Aruna, kita seharian tebak gambar, hehehe~"
Lamria lalu berpaling ke Bayu, membungkuk berterima kasih telah berhasil membawa putrinya kembali. Air mata berlinang di matanya, namun Lamria tahan agar tidak membuat Aruna khawatir. Bayu melambai tangannya.
"Tidak perlu berterima kasih, itu sudah menjadi misi. Lagipula, bukankah sudah kubilang kalau Aruna sudah kuanggap sebagai adik sendiri. Jadi, tidak perlu begitu formal."
Lamria tersenyum, "Tetap saja, terima kasih banyak."
"Adik?" Aruna yang mendengar perkataan Bayu semerta bertanya balik dengan mata lebar berbinar. Lamria terkekeh, lalu mencubit pipi Aruna sebelum berkata akan menjelaskannya nanti.
"Sekarang, lihat dirimu, kotor dan bau~ mari kita mandi dulu, sekalian Aruna ceritakan gimana pengalamannya, okey?"
"Mmmm, tapi Aruna masih mau main sama Kak Bayu~"
'Aku enggak mau sama sekali,' balas Bayu dalam pikirannya, ia lalu memandangi Aruna berkata kalau ia tidak akan bermain sama orang yang belum mandi. Aruna seraya cemberut, turun dari gendongan ibunya, langsung menarik lengan ibunya untuk segera mandi. Lamria hanya bisa tertawa, ia menggelengkan kepalanya terhadap sikap putrinya. Sungguh, Aruna bahkan belum tahu di mana ia harus mandi.
Lamria pun memaksakan putrinya kembali di gendongannya, sebelum berlalu kembali ke kamarnya diikuti oleh Irina dari belakang.
Selesai, Bayu lalu memandangi sekitarnya yang di mana ia melihat mata para avonturir tertuju padanya.
"Ada apa dengan kalian?"
Para avonturir di sana tidak tahu soal permasalahan atau misi dari Lamria padanya, tapi dari pemandangan tadi setidaknya dapat menebak kalau Bayu mengerjakan misi untuk menyelamatkan anak tadi. Mungkin itulah yang menyebabkan Guildmaster baru turun siang hari begini.
Namun bukan itu yang penting bagi mereka, hal terpenting adalah—
"Guildmaster, anda benar kelas platinum?" Tanya Sasha.
KAMU SEDANG MEMBACA
master buku mengantuk
AzioneKetika umurnya beranjak sepuluh tahun, Bayu tiba-tiba mendapati dirinya mengidap narkolepsi. Hidupnya yang dipenuhi tawa pun berubah menjadi kelam. Rasa kantuk selalu manghantui dirinya, membuat masa kecilnya lebih sering ia habiskan di kamar untuk...
