Sekitar satu jam sebelum Lembuswana datang menyerang Sentral. Dalam terowongan bekas jalur kereta monorel, Anggi serta rekan-rekannya masih menelusuri terowongan yang terasa panjang tanpa batas. Baju dan badan mereka sudah tampak lusuh dan kotor setelah mengeksplorasi selama berhari-hari.
Namun yang membuat wajah mereka tampak muram saat ini, adalah tidak terasa adanya kemajuan dengan pencarian Vanessa di terowongan ini. Walau secuil, namun di hati masing-masing avonturir selain Anggi, sudah tumbuh keraguan terhadap informasi kalau Vanessa ada di tempat ini.
Hanya saja, walau ada keraguan, mereka semua tidak berani mengatakannya pada Anggi. Senyum seringai di wajah Anggi dengan kacamaa hitamnya itu, selalu membuat bulu kuduk mereka merinding.
Berbeda dengan kelas platinum lain seperti Arvi yang membuat orang di sekitarnya tenang dan damai, bagi mereka sosok Anggi malah membuat mereka seperti selalu tertekan dalam tekanan yang menyeramkan. Mereka merasa kalau nyawa mereka dapat melayang kapan saja di tangan Anggi.
Anggi bagi mereka sudah layaknya monster yang dibalut kulit manusia.
Mereka berlima berjalan cepat menelusuri terowongan yang gelap. Saat ini mereka sudah lagi tidak mengenal waktu, mereka bahkan sudah lupa kapan terakhir kali tidur, karena pada beberapa hari terakhir ini mereka terus berjalan dan hanya beberapa kali rehat tanpa tidur sama sekali.
Dalam pikiran mereka, waktu terus berjalan, dan perang di Akademi bisa terjadi kapan saja. Dan kalau perang di Akademi sudah mulai, makan serangan ke Sentral pun akan menyusul. Mereka berlima tanpa ada informasi dari luar, tidak tahu apakah perang itu sudah mulai atau belum. Oleh karenanya, mereka hanya bisa mempercepat pencarian tanpa banyak mengambil jeda.
Tidak berlangsung lama, di depan jalan, mereka mendapati kembali persimpangan jalan. Anggi membuka peta digitalnya, melihat lokasi denah yang mereka tempati saat ini. Anggi dapat melihat kalau mereka sudah hampir sepertiga panjang terowongan menuju ke daerah Kembang. Dan sialnya, mereka masih belum menemukan batang hidung Vanessa maupun Dimitri.
Anggi melihat dalam peta kalau percabangan jalan yang menuju ke kiri itu sekadar merupakan lorong yang menuju ke sebuah rungan besar di ujungnya. Anggi berpikir sejenak, karena kalau Vanessa disekap, maka tempat di ujung jalan ke kiri itu sangatlah cocok. Tapi, dia juga tidak memungkiri kalau itu hanyalah ruang kosong biasa. Anggi lalu berpaling ke rekan-rekannya.
"Bagaimana menurut kalian tentang tempat ini?" Tanya Anggi sembari menunjuk ke ruangan di ujung lorong.
Semuanya melihat ke letak tempat yang ditunjukan Anggi.
Priam mengerutkan wajah, "Tempat itu ideal untuk menyekap seseorang."
"Bisa kau terawang ke sana?" Pinta Anggi.
Priam menoleh ke arah itu, mencoba menerawang dengan kekuatannya. Matanya yang sudah terlapisi cahaya merah, itu terus menatap tajam, namun semakin lama semakin menyipit, sebelum akhirnya Priam menutup mata sambil menggelengkan kepalanya.
"Terlalu jauh, saya tidak bisa melihat apa-apa."
"Bagaimana menurut kalian? Mau periksa secara bersama?" Tanya Anggi.
"Hm... untuk menghemat waktu sebaiknya tidak, bagaimana kalau bagi jadi dua tim saja? Tim yang pergi ke ruangan itu, akan langsung menyusul dengan cepat kalau-kalau ruangan itu cuma kamar kosong belaka," saran Ratna.
Anggi berpikir mengenai saran dari Ratna, "Baiklah, kalau begitu kita bagi jadi dua tim. Tim pertama, Priam, Ratna, Intan dan Pandu, kalian berjalan ke menyusuri lajur kanan, jangan terlalu cepat, kondisikan stamina kalian, dan misalnya kalau kalian bertemu dengan Dimitri, jangan mencoba melawan. Prioritaskan nyawa kalian dulu. Dan tim kedua, hanya ada aku sendiri. Aku akan segara menyusul kalian kalau tidak ada apa-apa di sana. Jangan mati, oke?"
KAMU SEDANG MEMBACA
master buku mengantuk
AçãoKetika umurnya beranjak sepuluh tahun, Bayu tiba-tiba mendapati dirinya mengidap narkolepsi. Hidupnya yang dipenuhi tawa pun berubah menjadi kelam. Rasa kantuk selalu manghantui dirinya, membuat masa kecilnya lebih sering ia habiskan di kamar untuk...
