138

104 15 1
                                        

Arta melompat menghunuskan tombaknya, menusuk cepat ke arah Panji.    

"[Yazmak] miss."    

Swooosh.    

Ujung tombak melewati samping wajah Panji. Arta sontak kaget, tidak mengerti bagaimana serangannya bisa gagal menemui sasaran. Tapi, sebelum ia bisa memikirkan itu, Arta harus menghindari dulu muka pistol yang kini berada tepat di depan keningnya.    

Shoot!    

Arta berhasil menghindar walau pelipisnya masih sedikit tergores mengeluarkan darah. Seketika ujung matanya melihat ayunan pisau yang bersiap memotong tangan kanannya yang masih dalam posisi menyerang menggunakan tombak.    

Arta semerta menaikkan kakinya, menendang perut Panji menjauhkan jangkauan pisau darinya. Hanya tidak ia kira, Panji yang terdorong akibat tendangannya malah melempar pisau daging itu yang sukses menancap pada bahunya.    

"Ugh! Bajingan!"    

Panji sendiri yang tertendang merasakan sakit di perutnya, baru kali ini ia merasakan serangan lawannya. Karena biasanya ia selalu bisa membuat serangan itu gagal mengenainya.    

'Tch! Sakit!'    

Panji lalu melihat musuhnya telah kembali melesat ke arahnya, Panji merengut.    

"[Yazmak] stun."    

Bzzzt!    

Arta seketika tidak bisa menggerakan tubuhnya, langkahnya berhenti dengan sengatan listrik mengalir pada sekujur tubuh.    

'Apa yang terjadi?' pikirnya lalu melihat Panji yang telah siap menembakkan pistolnya.    

Shooot!    

'Bergerak!' dengan pikiran dan aura yang ia alirkan ke seluruh tubuh, Arta berhasil memaksakan tubuhnya bergerak, menghindari serangan Panji.    

'Hm? Dia pulih dari pengaruh [Yazmak] dengan cepat,' pikir Bayu yang terus menembaki lasernya sembari tetap menjaga jarak aman dari terjangan Arta.    

'Hmmm, jadi musuh kali ini merupakan platinum yang sebenarnya.'    

"[Yazmak] stun," Bayu kembali menggunakan kekuatannya, memberikan serangan kejut pada tubuh Arta yang membuatnya sekejap terdiam. Bayu langsung menembak dengan tiga laser. Hanya satu tembakan laser mengenai paha dari Arta, sedangkan dua serangan lain meleset.    

Bayu mengernyit, 'Sekiranya dua detik.'    

Kini Bayu menembakkan pistol laser dengan cepat tiga kali, sebelum serangannya sampai, "[Yazmak] stun."    

Shoot shoot shoot    

Ke tiga tembakannya kini tepat mengenai perut, lengan dan dada musuh.    

"Ugh! Kuhak!"    

Arta terkapar dengan darah mulai mengalir deras di sekujur tubuhnya, ia memuntahkan darah sebelum menengadah melihat Panji yang berdiri tenang di kejauhan sana.    

'Apa-apaan ini? Apa dia sekuat ini?!'    

Arta lalu menyerang Panji dari jarak jauh dengan serangan tombaknya yang sudah ia aliri dengan aura. Menimbulkan serangan aura menyala yang menyapu sepanjang jalurnya, menghancurkan permukaan tanah ke tempat Panji berdiri.    

"[Yazmak] miss."    

Serangan itu tiba-tiba berbelok dengan sendirinya menghindari tubuh Panji, memperlihatkan sesuatu hal aneh pada Arta yang menyaksikannya.    

master buku mengantukTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang