84

76 14 0
                                        

Pada sebuah lorong yang tersambung ke ruang utama stasiun, Ratna yang telah menerima perintah Anggi untuk menyelamatkan Vanessa, kini terlihat terbang dengan bagian tubuh di bawahnya telah berubah menjadi gas.    

Ratna menelusuri lorong itu dengan cepat, ruangan Vanessa disekap berdasarkan informasi dari Priam. Ratna berbelok ke kanan, lurus terus, lalu di ujung jalan berbelok ke kiri. Sebelum akhirnya menemukan sebuah pintu berwarna merah di akhir lorong.    

Ratna berhenti, bagian tubuhnya kembali seperti semula, menapak tanah. Ratna menelan ludahnya, meraih gagang pintu mencoba mendorongnya, yang ternyata gagal karena terkunci. Ratna lalu mengarahkan jari telunjuknya ke bagian yang terkunci.    

Gas keluar dari ujung jari, masuk ke dalam lubang kunci, menyebar ke dalamnya sebelum akhirnya Ratna menjetikkan jari, membuat gagang dan bagian yang kuncinya meledak.    

Ledakan!    

Kali ini dengan pelan Ratna mendorong pintu kembali, yang akhirnya terbuka dengan mudah. Ratna masuk, melihat ruangan yang gelap gulata, dengan satu sorot cahaya keluarnya seorang perempuan yang bergantung dengan tangan terbentang ikatan rantai.    

Perempuan itu bernyanyi dengan suara yang sangat merdu, membuat Ratna hampir tenggelam dalam kedamaian, seirama dengan nada yang indah. Ratna memandangi Vanessa yang tergantung di sana seperti seorang bidadari, melihat paras cantiknya dengan mata hijau yang tampak kosong.    

'Kosong. Oh! Tidak! Hipnotis!'    

Tiba-tiba Ratna sadar setelah melihat mata Vanessa yang kosong itu, begitu bertolak belakang dengan kecantikan tubuhnya yang lain. Ratna yang menggelengkan kepalanya, namun ia merasa suara nyanyian itu masih membuatnya agak melayang sehingga dirinya merasakan kenyamanan tak tertandingi.    

Ingin rasanya Ratna mengistirahatkan badannya yang lemah, tidur dengan nyenyak diiringi alunan lagu Vanessa.    

Ratna kembali mulai terhipnotis.    

Bagus!    

Sebelum Ratna benar-benar tenggelam ke dalam alam bawah sadarnya, tangan ancaman dengan cepat menusuk paha pemberitahuan yang telah terluka dengan pisau di pingganggnya.    

"Aduh!"    

Ratna sadar kembali menahan perih, ia tatap Vanessa yang masih menyanyi. Diva itu sudah seperti sebuah boneka. Ratna sama sekali tidak merasakan perempuan di depannya masih memiliki akal sehat.    

Ratna menggigit bibir bawahnya, merasakan nyeri setelah membuatnya berdarah. Dia lalu berjalan mendekati Vanessa, menjejakkan rantai yang membelenggu perempuan itu, dan melepaskan earphone di telinga yang berfungsi juga sebagai mikrofon.    

Ratna menilik earphone yang merupakan sumber dari segala masalah yang ada. Sewaktu dia masuk dan mendengar Vanessa bernyanyi, Ratna sadar, kalau monster festival pasti sedang berlangsung.    

Ratna menatap benci pada earphone itu, menjatuhkannya lalu menginjaknya hingga hancur berkeping-keping. Dalam benaknya, Ratna merasakan depresi, ia tidak tahu berapa banyak korban yang jatuh saat ini, akibat dirinya telat sampai ke tempat kini ia berdiri. Setitik air mata mulai mengalir dari ujung matanya.    

Ratna pandangi Vanessa yang layaknya boneka tanpa tali, ke dua mata indah sang diva membuka menatap kosong entang ke mana, dengan mulut yang selalu membuka tutup secara perlahan. Di tubuhnya ia hanya memakai sehelai baju pasien yang memperlihatkan kurusnya lengan dan kaki Vanessa. Serta, walau samar terlihat, Ratna bisa melihat bekas jahitan di bagian ujung kening Vanessa yang berbatasan dengan batas rambut. Ia telusuri bekas jahitan itu dengan jarinya, mendapati kalau jahitan itu memang mengitari kepala sang diva.    

master buku mengantukTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang