130

87 14 0
                                        

BAAMMM!!!    

Tangan raksasa itu menghancurkan seluruh area bangunan dalam radius dua puluh meter. Para avonturir dan hantu tampak tertindih oleh hantaman itu, tetapi untungnya sebelum tangan itu menghantam, Rika sudah menyelamatkan seluruh avonturir dengan menarik dan memasukkannya ke dalam bayangan tangan raksasa di permukaan tanah.    

Tidak jauh dari reruntuhan bangunan akibat hantaman tangan, sebuah bayangan bergerak cepat di permukaan tanah, bergerak ke belakang sebuah bangunan dengan bayangan yang luas. Sedetik kemudian, belasan avonturir terlempar dari dalam bayangan, mendarat keras ke permukaan tanah.    

"UaaaaA!"    

Bruk!    

Citra mengerang memegangi bokongnya yang sakit karena lebih dulu mencapai tanah, ia kemudian melihat avonturir di sekelilingnya, bernapas lega karena semuanya selamat, sebelum memandangi kehancuran yang tidak jauh di depannya.    

Hantaman tangan raksasa itu tampak kuat sekali, membuat Citra berpikir kalau dia akan mati tertindih jikalau Rika tidak menolongnya.    

"Lari! Dia masih ada di atas sana!"    

Rika semerta keluar dari dalam bayangan memperingati kalau sosok tuannya masih melihati mereka dari atas.    

Mendengar peringatan ini, Priam langsung menyuruh seluruh avonturir di sana untuk bergerak cepat, ia membantu para avonturir berdiri secara paksa sembari menepuk punggungnya untuk segera berlari. Dia tahu kalau lawan kali ini bukanlah sosok yang bisa ia dan kawan-kawannya lawan.    

"Pandu!"    

"Aku tahu!"    

Pandu dengan sigap langsung mengangkat avonturir yang tadi terluka di bagian kaki akibat serangan Rika, ia gendong avonturir itu sebelum berlari mengejar yang lain. Priam melihat Citra yang masih membujuk Rika untuk ikut dengannya, dan Rakha yang tampak sedikit mengerang kesakitan.    

"Ayo! Ayo! Tidak ada waktu untuk dibuang di sini!"    

Rakha menggertakkan giginya, memaksakan diri dengan dengungan di telinganya masih nyaring terdengar. Sejak kecil, Rakha telah memiliki bakat ini, entah bagaimana namun sejak kecil ia selalu dapat mengetahui bahaya akan datang setiap kali telinganya berdengung. Namun, ini pertama kalinya, ia mendengar dengungan yang memekakkan telinga seperti ini. Dan sialnya, ia tidak bisa mengontrolonya.    

Rakha menoleh sekejap ke Rika dan Citra yang beradu mulut, dengan segala tenaga Rakha meminta kepada Priam, "Bawa paksa Rika!"    

Priam tertegun, "Apa kamu yakin? Sosok itu akan mengejar kita."    

Raka menyeringai, "Ya, karena ada orang lain yang akan menghadapinya. Cepat!"    

Priam bertanya-tanya, tapi mengetahui kemampuan deteksi Rakha, ia lebih baik mempercaryainya, dengan cepat ia tangkap Rika, membawanya layaknya seorang putri lansung berlari mengejar yang lain.    

"! Hei, turukan, Aku! Kalian akan bahaya kalau aku ikut denganmu!"    

Walau begitu Priam tetap memegang erat tubuh astral Rika dengan tangan yang sudah ia imbuhi dengan aura. Di belakangnya, Citra yang terkaget karena Priam tiba-tiba membawa paksa Rika langsung segera berlari pula, namun Citra agak khawatir dengan Rakha yang berada di belakangnya.    

Citra melirik ke belakang, melihat lelaki itu tampak kesulitan berlari, tubuhnya begerak dengan sempoyongan, dengan raut wajah yang mengerut kesakitan.    

"Rakha! Apa kau baik-baik saja?!"    

"Haa… haa… haa…" Rakha melihati Citra dengan mata yang mulai buram. Suara di telinganya semakin membuat kepalanya sakit sekali. Sungguh Rakha ingin sekali memejamkan mata dan berbaring tidur, namun suara di telinganya malah semakin nyaring. Rakha sadar kalau akan ada serangan susulan.    

master buku mengantukTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang