Sekitar pukul tiga pagi, di lantai tiga markas Mata Libra, Kembang.
Bayu terbangun dari tidur lelapnya. Semerta ia terbangun ia langsung berjalan ke kabinet, mengambil satu buah lilin di dalamnya, lalu menuju kamar mandi. Masuk ke dalam, Bayu mematikan lampu kamar mandi, membuat gulata gelap, ia menyalurkan aura ke matanya untuk penglihatan lebih baik, lalu berdiri di depan cermin.
Bayu meletakkan lilin di depan cermin yang seketika membuatnya teringat akan sesuatu.
"Aku gak punya korek api. Bagaimana kita menyalakan apinya kalau koreknya pun tidak ada? Kompor di dapur dipanaskan memakai listrik, tidak ada api yang keluar."
< … >
Bayu pun keluar kembali, ia berjalan turun menuju kamar Anggi di lantai dua, membuka pintunya dengan memakai kekuatan, sebelum langsung masuk menuju meja di samping tempat tidur. Bayu membuka laci meja, menemukan beberapa korek gas di dalamnya.
"Haaa~ untunglah kita punya perokok berat dalam guild."
<… Tuan, seharusnya Anda ke konter bar ataupun dapur guild, karena ada korek juga di sana. Tidak perlu menegaskan ke kamar orang.>
“…kenapa kamu tidak bilang tadi?”
Bayu memejamkan matanya, yang telah terjadi ya sudahlah, biarkan saja. Bayu bawa korek dari laci Anggi, lalu kembali ke kamar mandi di kamarnya.
Bayu nyalakan api semerta menempelkan lilin di depan cermin. Bayu hilangkan aura di matanya, kini ia melihat bayangan dirinya di cermin yang terlihat suram karena hanya terkena sinar lilin di depannya. Bayu melihat jamnya, memukul tiga lebih lima belas menit, ia berpikir sejenak, dan merasa waktunya masih pas untuk memanggil hantu kuno.
"Mary Berdarah, Mary Berdarah, Mary Berdarah, …, Mary Berdarah."
Bayu menyebut nama Bloody Mary sebanyak tiga belas kali sambil menatap bayang mata di cerminnya. Ia lalu tinggal menunggu.
Bayu melihati bayangannya sendiri hingga tiga menit kemudian, bayangannya mulai terdistorsi, beberapa bagian tubuhnya terlihat melekuk ke arah yang tidak wajar. Senyum wajahnya di dalam cermin berukuran lebar dengan mata yang perlahan mulai menghitam di atas bola mata putih.
'Sudah dimulai.'
Bayu kemudian melihat beberapa bayangan hitam muncul dari belakang bayangannya di cermin, tertawa terbahak-bahak dengan suara lenting di dalam pikiran. Bayangan Bayu sendiri membuka mulut tertawa lebar, memperlihatakan dalam mulut yang tiada bergigi dengan kegelapan pekat memenuhi.
Tangannya yang meliuk-liuk karena distorsi kemudian mulai keluar secara perlahan dari balik cermin, menembusnya seperti lapisan air yang bertujuan meraih leher Bayu.
Bayu lihati tangan di depan wajahnya yang kini terihat pucat dengan kuku-kuku panjang berwarna hitam. Sebelum tangan itu mencapai lehernya, Bayu semerta menangkap pergelangan tangan itu, menatap tajam pada bayangannya di dalam cermin yang masih tersenyum dengan mulut terbuka lebar. Ke dua matanya yang kini hitam penuh, tampak tersenyum dengan bentuk bulan sabit, dengan dua ujungnya ke bawah.
"Kita perlu bicara, Bloody Mary."
Tangan itu semerta terdiam mendengar nama itu, raut wajah pada bayangan Bayu di cermin, berubah kerut. Senyumnya yang lebar kini jatuh, dari matanya kini Bayu bisa melihat bahwa bayangannya mengejek dirinya.
Bayu tersenyum tipis menanggapi itu, ia alirkan aura ke tangan yang dipegangnya, membuat aliran aurannya bagaikan ribuan jarum yang menusuk sekujur dalam tubuh si bayangan. Teriakan nyaring yang mengoyak pikiran seketika terdengar dalam otak Bayu, hampir membuatnya pingsan karena lentingannya yang memekakan kepala.
KAMU SEDANG MEMBACA
master buku mengantuk
ActionKetika umurnya beranjak sepuluh tahun, Bayu tiba-tiba mendapati dirinya mengidap narkolepsi. Hidupnya yang dipenuhi tawa pun berubah menjadi kelam. Rasa kantuk selalu manghantui dirinya, membuat masa kecilnya lebih sering ia habiskan di kamar untuk...
