147

135 14 3
                                        

Malam hari, sebuah rumah mewah di Sentral, Nusa.    

Seorang perempuan membuka mata terbangun dari tidurnya, ia bergerak duduk sambil melihat sekeliling. Mendapati dirinya kini berada di kamar pribadinya membuat perempuan itu tertawa kering.    

'Dan sekarang aku malah ada di kamar.'    

Perempuan itu menjatuhkan kembali badannya pada pelukan kasur. Melihat langit-langit dalam ruangan yang gelap tanpa penerangan. Pengalaman yang ia rasakan hari ini sudah seperti halusinasi. Berpindah dari satu kota ke kota lain dengan mudah dan cepat, tiba di guild paling mengerikan di Nusa, bertemu dengan adik dan ibunya.    

Sungguh perempuan itu, Tazkia, masih tidak percaya.    

Melihat kembali wajah ibu yang kini tampak cerah, menentramkan hati Tazkia. Selama beberapa jam Lamria dan Tazkia berbincang tentang permasalahan keluarga mereka. Lamria sudah tahu dari Bayu tentang tindakan Tazkia yang menjauhkan Endra darinya dan juga Aruna. Tahu tentang semua tindak jahat yang dilakukan Tazkia karena rasa hausnya yang muncul setelah bergaul dengan ayah tirinya begitu lama.    

Lamria tidak ingin bersimpati, karena jika melakukan itu, maka ia akan menolak segala kerja keras putrinya selama ini. Mau itu benar atau salah, Tazkia tetaplah putri dari rahimnya. Lamria hanya bisa menyemangati, memberikan Tazkia dorongan untuk melakukan apa yang sebenarnya ingin ia inginkan saat ini. Tidak perlu lagi memikirkan Lamria dan Aruna, karena mereka telah berada di tempat paling aman di Nusa.    

“Tazkia, kejarlah apa yang kamu inginkan, tidak perlu memikirkan Mama atau Ayahmu lagi.”    

Mengingat ucapan Mamanya itu membuat hati Tazkia terenyuh, ia kepalkan tangannya, mulai berpikir akan apa yang ingin ia lakukan saat ini.    

Sekitar dua jam Tazkia menghabiskan waktu dengan Lamria, waktu yang cukup lama namun dirasakannya hanya selewat. Tazkia merasa kalau saat itu hatinya begitu damai, bisa kembali berbincang dengan ibunya tanpa perlu dibujuk tentang tabiat Endra.    

Sebelum berpisah, Lamria berpesan padanya, kalau kita sebagai perempuan yang tidak memiliki kekuatan maupun aura hanya bisa mengandalkan otak untuk bisa sejajar dengan mereka. Jangan selalu gunakan kekerasan dalam mencari penyelesaian masalah, karena itu hanya bisa dilakukan oleh mereka yang kuat.    

Lamria tahu tentang rencana Tazkia terhadap Maya. Oleh karena itu, dia berkata—    

"Bekerja sama lebih baik daripada memperkerjakan paksa. Pikirkan apa yang kamu punya, lalu bernegosiasilah. Sungguh, membuat teman lebih menguntungkan daripada membuat musuh."    

"... dengan guild ini juga?"    

"Tentu sayang, asalkan kamu menawarkan logistik dan menguntungkan kedua pihak, mengapa harus menolak. Mata Libra tetaplah sebuah guild."    

Setelah berpisah, Tazkia kembali ke lobi yang saat itu telah lebih banyak dihuni orang. Aruna yang melihatnya semerta mengajaknya bermain sehingga Tazkia terpaksa menemani adik kecilnya hingga Tazkia tertidur tanpa sadar. Sungguh Tazkia tidak ingat kapan ia tertidur, ia hanya ingat sedang bermain tebak-tebakan dengan Aruna dan sesaat berikutnya ia telah terbangun di kamarnya.    

"Panji benar-benar suka membuat orang tertidur."    

***    

Markas Mata Libra, Kembang.    

Setelah mengembalikan Tazkia ke rumahnya. Bayu dan Lamria barulah dapat melakukan rapat demi perkembangan guild ke depannya. Waktu saat itu telah berganti malam, rapat akhirnya dimulai dengan dihadiri oleh Bayu dan seluruh pegawainya ditambah Anggi dan Aarifa.    

master buku mengantukTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang